Editoria

Dadang Jadi Wali Negeri

Ilustrasi/pencarian Google

Oleh: Bim Harahap

Tiba-tiba Dadang merasakan setelan jas hitam dengan kemaja putih dan dasi biru yang membalut badannya menjelma menjadi lemari pendingin, disusul tubuhnya yang bergetar. Keringat dingin bercucuran dari kening, ketakutan hebat menyergap untuk pertama kali sepanjang hidupnya, bermula saat sepasang tangan menggenggam kitab suci terayun ke atas kepalanya yang sedang mengenakan peci hitam.

“Ikuti kata-kata saya,” demikian pria berjubah hitam di depannya bertitah, seperti tuntunan sakratul maut agar kematian seseorang  khusnul khotimah, mati dengan sebaik-baik cara.

Belum sempat mulut Dadang mengikuti titah pria berjubah hitam, sesuatu mengejutkannya, burung Garuda besar yang terpampang di dinding depan bagian tengah mengepakkan sayapnya, menyusul suara pekikan keras yang menusuk, menghantar satu suara lain ke dinding telinganya “Apa yang bisa kau perbuat dari gedung terhormat ini? mewakili raykat? Atau kau akan menjadi seorang korup dan culas?”

Mengdengar suara itu, tak sepatah jawaban keluar dari mulut Dadang, hanya gemetar badannya saja yang menandakan ia masih bernyawa, berdiri bagai patung di tengah ratusan orang yang berpakaian rapi seperti dirinya. Kakinya melemah dan hampir saja ia tersungkur, untung saja ia masih sempat menguasai keadaan lalu berdiri dengan sekuat-kuatnya.

Belum sempat Dadang menjawab suara pertama, suara kedua telah menyusul, “Dang, hari ini kau akan dilantik menjadi Wali Negeri ini, Negeri yang sangat kau cintai ini, negeri yang kau hidup dan menjadi bagian dari sejarah perjalananya, apa benar topik-topik diskusimu tentang masyarakat sejahtera dan mandiri itu bisa kau terjemahkan ke sini? Apa iya isi kepalamu tentang keadilan mampu kau wujudkan di tengah ratusan kepala yang bisa saja kepala monster, siluman atau bahkan kepala babi ini?

Lagi-lagi Dadang tak menjawab, gema suara itu berulang secara bergantian di kepalanya, suara  yang muncul tepat sesaat sebelum ia mengucapkan sumpah jabatannya sebagai Wali Negeri. Momentum penentu dalam hidupnya dan kehidupan orang-orang yang mewakilkan suara padanya, kesempatan yang ia anggap paling mungkin untuk membangun masyarakat negerinya.

Di tengah kekalutan itu Dadang terbayang wajah kawan-kawanya, wajah orang-orang tulus yang telah berjuang gagah berani menghantarkan dirinya menjadi Wali Negeri, ‘Tuhan dan Kawan Modal Kita’ demikian tertulis di poster-poster yang memuat wajah Dadang saat masa pemilihan Wali Negeri.

Sebelumya, keputusan Dadang untuk maju mengikuti pemilihan Wali Negeri telah mengejutkan banyak orang, sebab selama ini ada anggapan Dadang lebih senang berjibaku di bawah, di akar rumput, membaur bersama masalah orang-orang bawah, bukan dengan struktur kekuasaan seperti Wali Negeri. Akan tetapi gelombang kejut ini kemudian dengan mudah mereda setelah orang-orang mengingat kembali sosok Dadang.

Dadang terlanjur dikenal sebagai sosok kharismatik, bukanlah figur karbitan yang hanya muncul pada saat pemilihan jabatan. Dadang adalah orang gelisah dengan kondisi negerinya namun mampu tenang dengan segudang kawan, terbiasa berbaur dengan siapa saja, mulai jelata, anak sekolah hingga kepala desa. Tangannya ringan menolong, aktivitasnya tidak jauh-jauh dari menuntaskan persoalan banyak orang, Maka tak heran saat mendaftar menjadi Wali Negeri, yang menghantarnya adalah rakyat kecil mewakili nelayan, buruh dan petani. Lengkap dengan oleh sayur mayur kepada panitia sebagai simbol dari kalangan mana ia berasal.

Karena itu pula, kehadiran Dadang sekaligus melahirkan harapan, menyulut kembali optimisme orang banyak bahwa Dadang akan turun gunung, masuk dalam struktur kekuasaan agar lebih mudah memberi warna dan mewarnai pertarungan kepentingan masyarakat luas. “Kita perlu injeksi lebih kuat dan lebih bertenaga untuk menuntaskan berbagai persoalan di negeri ini,” Ujar Dadang satu ketika.

Keputusannya maju menjadi Wali Negeri  seperti angin segar bagi perubahan, “Seharusnya Dadang dari dahulu maju,” begitulah orang-orang berharap. Orang-orang yang paham betul dengan karakter Dadang, seorang setia kawan yang isi kepalanya adalah pertanyaan mengapa permasalahan negeri tak pernah selesai. Lengkap dengan aneka manuver penyelesaian yang sempat ia perbuat dengan seluruh sumber daya yang ia miliki.

Apakah Dadang, akan menjadi sebuah kekuatan sadar yang memporak-porandakan gaya lama di gedung wali negeri? Atau sebaliknya, Dadang terseret arus kekuasaan lalu hanyut lalu kemudian tenggelam dalam kesenangan dirinya semata. Semua mengira dengan itu, namun apa yang disebut optimisme publik telah dihimpun oleh Dadang saat ia berdiri di atas becak bermotor di arak ke kantor panitia untuk mendaftarkan diri.

Dadang masih membisu, kuatnya adalah kuat yang ia pertaruhkan, keputusannya telah bulat, tekadnya telah menjadi lautan, sebentar lagi mulutnya yang kerap mengucapkan kepentingan rayat itu akan bersumpah atas nama Tuhannya. Bersumpah akan bersungguh-sungguh menjalankan amanat yang telah menggelantung di pundaknya.

Dadang bergidik ngeri, tapi bukan Dadang namanya, jika ia tak stabil dan tenang, kegugupan itu barangkali menjadi suar peringatan baginya, alarm naluriah yang kerap berbunyi ketika ia mengemban amanah, hasil perenungan dalam yang kemudian melahirkan sikap teguh seorang pejuang rakyat yang terabaikan.

Dadang kemudian merapikan pecinya, bersiap mengucap sumpah, melewati masa kritisnya, baru satu kata ingin meluncur, dari masjid terdengar Adzan subuh berkumandang, Dadang terbangun, bergegas mengambil Wudhu, ingin bersujud mengadukan mimpinya pada Tuhan.

Komentar Facebook



Loading...
To Top