Opinia

Ijtihad Pemuda Untuk Indonesia

M. Alwi Hasbi Silalahi/Istimewa

PUBLIKA- Para pendiri Bangsa Indonesia sepakat bahwa Negara Indonesia didirikan atas azas Pancasila sebagai pandangan hidup membangun negara didalam mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan yang adil bagi rakyatnya. Oleh karena itu harus adanya orang-orang yang bertugas menggantikan peran para tokoh nasional terdahulu untuk menjalankan Pancasila.

Pemuda adalah harapan bangsa di masa yang akan datang, amanah untuk tetap menjaga dan menjalankan negara Indonesia menjadi tugas berat bagi pemuda di tahun-tahun yang akan datang. Berkaca dari sejarah masa lalu, pemuda berperan vital dalam memerdekakan Negara Indonesia, diantara mereka ada pemuda-pemuda macam Soekarno, Moh.Natsir, dan pejuang-pejuang muda lainnya yang bergerak demi meraih tujuan yang sama yaitu merebut kemerdekaan. Bukan hanya memerdekakan, pemuda juga berperan dalam memperbaiki sistem pemerintahan Negara yang sempat carut marut pasca kemerdekaan.

Masih segar di ingatan kita pergerakan yang dimotori lima organisasi mahasiwa yang tergabung didalam kelompok Cipayung berhasil melengserkan Soeharto dari jabatannya sebagai seorang Presiden yang telah didudukinya selama 32 tahun. Aktivis mahasiswa yang tergabung kedalam organisasi seperti HMI, GMKI, GMNI, PMKRI, dan PMII menjadi musuh besar rezim Tirani saat itu.

Akan tetapi pemuda dianggap tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai agen of change, pergerakan pemuda dianggap macet. Kaum-kaum idialis yang berada diantara pemuda yang terus menyuarakan penolakan dan pemberontakan terhadap pelanggaran dan penyalahgunaan kekuasaan oleh para elit politik kini hanya menjadi kaum minoritas. Kelompok ini terus bergerak membela nasib masyarakat lewat lisan dan tulisan, aksi demonstrasi juga acap kali dipertontonkan kelompok pemuda dalam rangka mentransfer aspirasi mereka kepada para penguasa negeri.

Di lain sisi, kaum borjuis dan hedonis menjadi kelompok mayoritas di kalangan pemuda. Orang-orang yang seharusnya menjadi agen perubahan itu seakan-akan terpenjara dalam pengaruh negative globalisasi. Ini diakibatkan ketidak mampuan pemuda dalam kelompok ini dalam menyikapi kencangnya pengaruh modrenisasi dunia yang masuk ke Indonesia. Mereka hanya menjadi pengikut para manusia modern di dunia, media seakan-akan menjadi fasilitator yang membantu merusak konstalasi pemikiran kaum hedonis tersebut.

Pemuda-pemuda yang tergolong kepada kelompok mayoritas ini juga terkesan pragmatis dan individualistik. Sikap acuh tak acuh mulai menjadi kebiasaan pemuda-pemuda dalam kelompok ini. Bagaimana bisa merubah dunia, jika pemuda masih terus memikirkan dirinya sendiri. Ini menjadi realitas yang ada di kelompok pemuda Indonesia saat ini.

Sejarah Pergerakan Pemuda Indonesia

Pergerakan yang dilakukan pemuda pasca reformasi seakan kehilangan arah. Ketiadaan tujuan yang sama para pemuda dalam langkah pergerakannya disinyalir menjadi sebab tumpulnya taring para pemuda. Pola fikir pragmatis dan berkelompok-kelompok juga ikut menjadi alasan pemuda di era ini dianggap tidak lagi menjalankan fungsi agen perubahan di dalam diri sebagaimana mestinya. Langkah-langkah yang kurang cermat acap kali dilakukan pemuda dalam menjalankan kehidupannya sehingga tidak jarang dalam setiap gerak langkahnya tidak ada hasil yang didapatkan baik untuk dirinya sendiri apalagi untuk Negara.

Hal ini bertimbal balik dari pergerakan pemuda di era pra-kemerdekaan hingga era orde baru beberapa puluh tahun silam. Kelompok pemuda kerap kali melahirkan berbagai pemikiran dan gerakan menuju perubahan dan perbaikan bangsa Indonesia. Peran mereka sudah dimulai jauh sebelum lahirnya negara Indonesia. Batasan pemuda di setiap negara berbeda-beda tergantung dari kebijakan pemerintahan di negara yang bersangkutan.

Dalam sejarahnya, Dr.Wahidin Sudirohusodo adalah salah satu dari jutaan pemuda yang ikut berjuang mengusir penjajah di era sebelum kemerdekaan. Dr.Wahidin Sudirohusodo berniat mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia yang terpuruk akibat jajahan dari bangsa asing, pergerakan yang dilakukannya melalui jalur pendidikan karena jalur tersebut dianggap sebagai sarana yang tepat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia.

Atas prakarsa Dr.Wahidin S dan para Pemuda STOVIA, seperti Sutomo, Gunawan, Suradji dan Suwardi Suryaningrat pada tanggal 20 Mei 1908 diadakan rapat pertama yang berhasil mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo yang berarti kebaikan yang diutamakan. Disinilah titik awal berdirinya perkumpulan-perkumpulan yang menjurus kepada sifat nasionalisme dan patriotisme, karena setelah berdirinya Boedi Oetomo maka bermunculanlah perkumpulan-perkumpulan dan pergerakan yang bersifat luas antara lain, Serikat Dagang Islam tahun 1909, Indische Party tahun 1913. Muhammadiyah tahun 1912, Nahdhatul Ulama tahun 1926. tahun ini pula, Ir. Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dibacakan oleh Soekarno dan Hatta. Hal ini dilakukan setelah pemuda mendesak mereka, bukan menunggu kompromi dengan pemerintah Jepang. Selayaknyalah peristiwa bersejarah yang demikian penting itu diperingati dengan mendalami semangat yang terkandung dalam peristiwa itu. Pemuda-pemuda Indonesia banyak melakukan perlawanan fisik menghadapi pasukan Belanda yang datang kembali dengan membonceng Sekutu. Agresi Belanda I maupun II (tahun 1947 dan 1948). Perlawanan ini banyak berlangsung di berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya.

Ijtihad Pemuda Saat Ini

Ditengah berbagai problematika yang menimpa Negara Indonesia saat ini baik itu ancaman Disintergrasi bangsa dan berbagai jenis terror yang terjadi, pemuda Indonesia harus merumuskan formulasi yang kemudian dilanjutkan dengan aksi bersama-sama. Pemuda Indonesia harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menciptakan kembali Indonesia sebagai sebuah Negara Kesatuan yang adil dan beradab.

Pada tanggal 28 Oktober 1928 di jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat pada kongres pemuda II telah melahirkan suatu ikrar diantara pemuda-pemuda yang datang dari beragam agama dan suku yang kita kenal dengan sumpah pemuda. Bertumpah darah satu, berbangsa satu, menjunjung bahasa persatuan menjadi suatu kesepakata antara pemuda-pemuda yang kala itu sedang berjuang bersama-sama melawan penjajahan.

Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Kata demi kata yang tersirat didalam teks sumpah pemuda tidak hanya sekedar angin surga yang diucapkan para pemuda kala itu, sumpah pemuda telah menjadi gelang pemersatu dan pembangkit semangat serta kekuatan pemuda untuk meraih kemerdekaan dari tangan penjajahan. Kesamaan nasib menjadi faktor yang memperkuat pengaruh sumpah pemuda.

Sangat miris melihat kondisi pemuda Indonesia hari ini, semangat sumpah pemuda tidak lagi menggelora di sanubari para pemuda. Sifat hedonis menjadi satu virus yang menjangkit. Pudarnya rasa nasionalisme dapat dilihat dari kurangnya semangat pemuda dalam usaha mengisi kemerdekaan. Sebagai contoh, mayoritas pemuda Indonesia lupa akan sejarah bangsa, acuh tak acuh terhadap permasalahan yang dihadapai bangsa Indonesia, peperangan antar kelompok pemuda dan yang paling nyentrik adalah pemuda Indonesia dewasa ini lebih menyukai budaya-budaya yang ditularkan oleh barat daripada terus mempertahankan budaya-budaya ketimuran yang dimiliki bangsa Indonesia.

Tan Malaka pernah berkata kita harus mengakui bahwa kita harus belajar dari bangsa barat, tapi jangan mengikuti bangsa itu, kita harus bangga menjadi orang timur, pesan itu seharusnya terus dipegang teguh oleh para pemuda Indonesia agar mimpi menaikkan derajat Indonesia sebagai bangsa timur di ruang lingkup dunia menjadi kenyataan. Diperlukan suatu gerakan baru oleh pemuda Indonesia untuk kembali merekontekstualisasikan sumpah pemuda.

Peran pemuda kembali dituntut untuk mengisi kemerdekaan Indonesia. Dengan peran yang signifikan dari pemuda, perubahan kearah yang lebih baik akan semakin mungkin untuk segera terjadi. (*)

Penulis adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Komentar Facebook



Loading...
To Top