Nusantara

Catatan Fans Milan: Voltaire dari Solo Itu Telah Tiada

Mengenang Dawam Rahardjo
Publika.co.id/Adil Nugraha - Infografis diedit dari berbagai sumber

PUBLIKA.CO.ID –  Dari barisan ulama yang membenci Ahmadiyah dan Lia Eden, muncul satu ulama kharismatik; begawan ekonomi, yang justru membela dua aliran yang dicap sesat itu. Baginya, kebebasan beragama sama saja artinya dengan memercayai agama dan aliran apapun, termasuk juga memilih tidak beragama.

Sikapnya yang teguh dalam membela kaum minoritas, seperti halnya jemaah Ahmadiyah dan Lia Eden itu membuatnya diganjar dua hal. Ganjaran pertama adalah pada 2006 ia dipecat dari organisasi yang membesarkannya: Muhammadiyah. Terus maju dan tak gentar membela hak-hak kaum minoritas ia kemudian diberi ganjaran penghargaan Hak Asasi Manusia (HAM) Yap Thiam Hien pada 2013.

Lahir di Solo, Jawa Tengah, 20 April 1942, sosok Dawam Rahardjo memang kontroversial, memiliki pemikiran Islam moderat yang pogresif sekaligus pembela dan corong bagi mereka yang tertindas, tanpa pandang bulu. Goenawan Mohamad mengenangnya sebagai orang yang pernah memperkenalkan karya Nikos Kazantaksis “The Last Temptation of Christ”.

Baca juga:  Misteri Pembunuhan Satu Keluarga Terungkap, tapi Linggis Masih Jadi Misteri

Alissa Wahid mengenangnya sebagai motor gerakan Islam progresif di tahun 1980an. Rizal Ramli mengingatnya sebagai tokoh ekonomi kerakyatan. Sebagian lainnya mengenalnya sebagai tokoh Islam yang liberal. Salah satu pikiran Dawam yang mengguncangkan sebagian masyarakat Islam Indonesia, ditulisnya di jurnal yang dipimpinnya, Ulumul Quran edisi 4 volume 5, 1994:

“Kebebasan beragama berarti juga, bahkan mengandung arti yang lebih konkret, (yaitu) kebebasan untuk tidak beragama.” Karena pemikirannya yang luas terhadap nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan itu ia kerap disandingkan dengan filusuf Perancis François-Marie Arouet yang telinga kita lebih akrab dengan Voltaire. Maka jadilah Dawam: Voltaire dari Solo. Yang menghembuskan nafas terahirnya di Jakarta, Rabu (30/5) beberapa saat menjelang pukul 22.00 WIB, di RS Cempaka Putih. Pada usia 76 tahun, setelah menderita beberapa komplikasi penyakit.

Baca juga:  Sidang Perdana Tersangka Pelaku Pembunuhan Mayat di Kardus Dijadwalkan 21 November

Kepergian Prof M Dawam Rahardjo yang merupakan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) itu meninggalkan duka dan perasaan kehilangan berbagai kalangan yang mengenalnya. Selamat jalan, Voltaire dari Solo…

Bambang Riyanto 

Jurnalis salah satu media cetak ternama di Kota Medan, menulis di waktu senggang untuk opinia Publika.co.id, sebagai seorang fans fanatik klub asal italia AC Milan, ia menamai catatan-catatan pendeknya di halaman facebook dengan Catatan Fans Milan. Catatan tersebut tidak hanya menyoroti masalah olaharaga dalam hal ini sepakbola, melainkan merekam berbagai fenomena sosial, budaya, politik yang kadang terluapkan dengan satir, menggelitik bahkan bisa juga nyelekit. Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) dan Magister Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) USU ini punya gaya sendiri dalam menyalurkan aspirasi. Pengalamannya liputan dalam dan luar negeri, malang melintang di dunia gerakan kampus, kecintaannya berkesenian di Teater O USU memberi perwajahan berbeda dalam kolom opinia publika.co.id. untuk menghargai kehadiran tulisan-tulisannya, kami tetap menanamai kolom tersebut dengan Catatan Fans Milan. Untuk berkomunikasi dengan Bambang Riyanto Dapat menghubungi akun instagramnya be_riyanto

Editor: Bim Harahap

Baca juga:  Sidang Perdana Tersangka Pelaku Pembunuhan Mayat di Kardus Dijadwalkan 21 November

Komentar Facebook



Loading...
To Top