OLAHRAGA

Catatan Fans Milan: Hasta Pronto, Zidane!

Zinedine Zidane Foto: Internet

PUBLIKA.CO.ID –  Orang boleh mengingat bagaimana Italia kemudian mengangkat trofi Piala Dunia usai mengalahkan Perancis di partai final 2006 dengan skor 5-3 adu pinalti usai bermain imbang 1-1 di laga normal. Tapi sejarah mencatat lain, bukan riuh rendah kemenangan Nerazurri itu, melainkan tandukan kepala plontos Zidane ke dada Marco Materazzi yang kemudian membuatnya terusir dari lapangan hijau, tepat di menit 110.

Usai pertandingan, fans meradang. Kekalahan Perancis ditumpukan sepenuhnya kepada Zizou, anak saleh dari Marseille yang terlihat kalem di luar dan dalam lapangan. Fans-fans sepakbola seantero jagad bertanya-tanya, bagaimana Zidane yang baik budi bisa bertindak sebrutal itu?

Bola panas terus bergulir, dan selidik punya selidik, publik akhirnya sadar. Sebaik-baiknya Zizou, juga manusia biasa yang tingkat keimanannya bisa naik, bahkan juga bisa di titik nadir apalagi bila ibu kandungnya dihina sedemikian rupa. Maka pembicaraan kini beralih ke Materazzi, yang bahkan menolak meminta maaf dan tak sedikitpun merasa bersalah.

Hingga kemenangan Italia itu terasa tak berfaedah, kosong tanpa makna. Menang dengan cara tidak benar. Begitulah sepakbola dan dunia ini. Kadang bukanlah tempat yang ramah untuk orang-orang semacam Zidane. Usai kekalahan dan kemarahan yang tak terbendung itu Zidane sempat patah semangat. Tapi kemudian ia tegak berdiri. Sekalipun si Marco Materazzi tak pernah meminta maaf atas ucapannya yang menyakitkan tempo hari, Zidane memilih memaafkan, meski ia tak akan pernah melupakan.

Baca juga:  Asori Medan Berkompetisi di 8 Besar LFN 2018, Pemain Nasional Ucapkan Selamat

Dan jadilah kini ia pelatih bertangan dingin, mencatatkan sejarah tinta emas di liga elite eropa. Tiga gelar beruntun dalam 2,5 tahun membungkam pengkritiknya. Zidane berdjaja, Materazzi entah kemana. Maka benar, bahwa tidak ada kebaikan selain kebaikan pula.

Final liga champions juga begitu. Masih riuh rendah, bukan hanya karena Madrid bisa meraih gelar ketiganya secara beruntun, namun juga pada drama yang terjadi. Cederanya Mo Salah menjadi titik lemahnya mental juara Liverpool dan Karius. Sergio Ramos jadi perbincangan, bukan hanya karena dia yang menjadi penyebab jatuhnya air mata Salah di menit 31 yang kemudian meninggalkan lapangan untuk ke dukun patah tulang bahu, namun sikap tak bersalah Ramos usai pertandingan turut jadi perbincangan. Apalagi mengangkat trofi dengan melet-melet lidah sambil memasang muka antagonis begitu.

Sahlah omongan tak lagi menyerempet soal kemenangan Madrid, melainkan tragedi Salah-Ramos yang dipanasi dengan kompor 32 sumbu milik fans Barcelona yang kebetulan tahun ini hanya bisa nonton via layar kaca sambil ngemil kacang garuda yang dibelikan fans Milan. Hehehe Kemenangan, sekali lagi, sirna. Nihil. Tak berfaedah.

Baca juga:  Lagi Asyik Mediasi di Disnaker Sumut, Terpidana Penggelapan Diciduk

Orang boleh mengingat, tapi sejarah mencatat bagaimana Italia dengan Materazzinya, Madrid dengan Ramosnya, melakukan segala cara demi meraih kesempurnaan cinta ehh kesempurnaan gelar maksudnya. Dan dua orang yang menjadi korban itu, kita kenal sebagai orang baik: Zizou-Salah.

Dan karir Salah masih panjang terentang, maka bukan tak mungkin Salah akan bersinar di Ramadan mendatang. Sementara Ramos, ia boleh bermelet-melet ria dengan si kuping besarnya itu, tapi cepat atau lambat ia akan serupa Materazzi, hilang ditelan bumi.

Untuk Madrid, klub parlente yang presidennya hobi main pecat pelatih itu kini juga mendapat karmanya: ditinggal kekasih (baca:pelatih) saat sedang sayang-sayangnya. Zidane pamit. Meninggalkan keterkejutan bagi para fans Madrid yang kerap di luar nalar dan pernah mencibirnya sebagai pelatih yang hanya bisa bertepuk tangan di pinggir lapangan.

Zidane pergi agar tak pernah mendapat status dipecat. Berhenti ketika ia di puncak kedjajaan. Meski semua menghalangi ia tetap bersetia dengan kata hati, sebab ia terpelajar, mungkin juga ia seorang Pramis. Ah, sudahlah. Hasta pronto (sampai ketemu lagi), Zidane!

Baca juga:  Tampil Ciamik di El Clasico, Alwi Slamet Kemungkinan Main Lawan Madura United

Bambang Riyanto

Jurnalis salah satu media cetak ternama di Kota Medan, menulis di waktu senggang untuk opinia Publika.co.id, sebagai seorang fans fanatik klub asal italia AC Milan, ia menamai catatan-catatan pendeknya di halaman facebook dengan Catatan Fans Milan. Catatan tersebut tidak hanya menyoroti masalah olaharaga dalam hal ini sepakbola, melainkan merekam berbagai fenomena sosial, budaya, politik yang kadang terluapkan dengan satir, menggelitik bahkan bisa juga nyelekit. Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) dan Magister Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) USU ini punya gaya sendiri dalam menyalurkan aspirasi. Pengalamannya liputan dalam dan luar negeri, malang melintang di dunia gerakan kampus, kecintaannya berkesenian di Teater O USU memberi perwajahan berbeda dalam kolom opinia publika.co.id. untuk menghargai kehadiran tulisan-tulisannya, kami tetap menanamai kolom tersebut dengan Catatan Fans Milan. Untuk berkomunikasi dengan Bambang Riyanto Dapat menghubungi akun instagramnya be_riyanto

Editor: Bim Harahap

Komentar Facebook



Loading...
To Top