Historia

Raja Saudi Pernah Mengangkat Pengobat Tradisional Palembang Jadi Direktur Rumah Sakit Mekah

Kaki Cucu Sang Raja Patah, Hanya Dengan Diurut Dapat Disembuhkan
Foto : dok Ichwan Azhari

PUBLIKA.CO.ID – Ilmu pengobatan moderen (lulusan sekolahan barat) diketahui memiliki kelemahan, sementara apa yang disebut pengobatan tradisional, yang masuk dalam etnosains, dipandang sebelah mata oleh para dokter. Tapi Raja Arab Saudi Ibnu Saud memberikan penghargaan yang tinggi pada ilmu pengetahuan tradisional Indonesia ini. Pengobat, ahli urut atau dukun patah atau apapun namanya asal Palembang, menyentak kesadaran Raja Saudi akan ilmu kedokteran tradisional Indonesia yang terbukti lebih hebat dari dokter manapun didikan barat yang ada di Saudi Arabia.

Foto: dok Ichwan Azhari

Kejadiannya, satu hari cucu kesayangan Raja Saudi (Ibnu Saud) bernama Amir Abdullah, jatuh dari kuda, kakinya patah dan dokter di rumah sakit Saudi bilang tidak bisa disembuhkan, harus di amputasi. Tapi seorang dukun pengobat tradisional asal Palembang yang tidak disebutkan Hamka namanya, yang sedang berada di Saudi datang mengobatinya dan sembuh hanya diurut-urut pakai rotan. Teringat di Medan pun banyak pasien patah tulang yang gagal di sembuhkan dokter sembuh di pengobat tradisional Karo apakah di Dukun Patah Pergendangan, Kemkem dan lainnya.

Foto: Dok Ichwan Azhari

Takjub dan senang bukan main Raja Saudi karena cucu kesayangannya yang dianggapnya “nisyfid dunia” (separoh dunia) tidak jadi kakinya di potong dokter di Mekkah. Raja Saudi berkata pada pengobat tradisional Palembang itu: Tamanna! (Katakanlah apa keinginanmu). Sang dukun Palembang itu menjawab tak terduga, dia tak minta apapun, hanya mengharap ridho Allah agar usia baginda Raja Saudi dipanjangkan.

Raja Saudi terkesima, diangkatnya pengobat tradisional Palembang ini jadi direktur rumah sakit di Mekkah karena dianggapnya inilah dokter yang sebenarnya, bukan yang didikan barat itu. Kata Raja Saudi : Anta tabib, gairak musy tabib ( Engkau yang dokter, yang lain itu bukan dokter). Tapi tetap tabib Palembang itu merendah diri dan (maaf) menolak pengangkatan Raja Saudi itu.

Hamka yang pengalamannya di Mekkah sebelumnya ditulis dalam buku “Kenang kenangan hidup”, kali ini berkisah tentang dukun Palembang itu dalam bukunya “Mandi Cahaya di Tanah Suci” (1950) dan dimuat juga dalam buku Henri Chanbert – Loir , Suyadi dan Syarif Hidayat (2013). Hamka bercerita tentang kejadian ini dengan cara yang sangat menarik dan hidup. Tak minta apa apa, tak mau dikasi jabatan , tanpa pamrih, cukup minta : “semoga Allah panjangkan usia baginda Raja”. Kata Hamka, inilah sebenarnya jiwa asli bangsa Indonesia.

Dr. Phil. Ichwan Azhari

 

 Lahir di Medan, Sumatera Utara, 16 November 1961, adalah seorang sejarawan, pengajar dan ahli filologi (Filolog) Indonesia. Saat ini Ia menjadi Dosen di Universitas Negeri Medan. Pada April 2006 Ichwan mendirikan Pustaka Humaniora (Pusra) dengan koleksi dokumen serta arsip-arsip lama sejarah Nusantara yang ia dapatkan dari perburuannya selama tujuh tahun di berbagai perpustakaan dan kampus di Belanda dan Jerman, serta sumbangan dari kolega dan berbagai instansi pemerintah. (Wikipedia)

Tulisan ini dikutip langsung dari laman facebook Dr. Phil. Ichwan Azhari tanpa pengubahan redaksi atas seizin Dr. Phil. Ichwan Azhari

Editor: Bim Harahap

Komentar Facebook



Loading...
To Top