Editoria

Mengenang Dua Tahun Wafatnya Legenda Tinju Dunia Muhammad Ali

Ini Dia Tiga Petinju yang Pernah Pukul Jatuh Ali
Muhammad Ali.(pencarian google)

PUBLIKA.CO.ID– Tepat dua tahun silam, 4 Juni 2016 waktu Indonesia (3 Juni 2016), petinju legendaris dunia yang disebut sebagai yang terhebat sepanjang masa (The Greatest of All Time) Muhammad Ali, meninggal dunia di usia 74 tahun.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, petinju kelahiran Louisville Kentucky, AS, 17 Januari 1942 itu sempat dirawat karena komplikasi pada organ pernafasan. Dunia tinju sontak berduka, kehilangan sosok yang mengubah wajah tinju dunia menjadi olah raga “mahal” tersebut. Penghormatan terhadap pria yang sebelum memeluk Islam bernama Cassius Marcellus Clay, Jr, dilakukan di seluruh belahan dunia.

“Sedih yang saya rasakan ini (atas meninggalnya Ali) seperti ada satu anggota keluarga saya yang hilang,” demikian komentar Max Kellerman, komentator tinju Amerika Serikat pada video di YouTube channel HBOBoxing sesaat setelah mendapat kabar duka tersebut.

Kepiawaian pria yang juga dikenal soal aksi kemanusiaannya itu di atas ring memang tidak perlu diragukan lagi. Rekor fantastis yang dia dapatkan sepanjang karir, juara tinju dunia kelas berat tiga kali membuatnya menjadi satu dari sedikit petinju dunia yang bisa mencapai gelar tersebut.

Sepanjang karir bertinjunya, hanya Larry Holmes yang membuat Muhammad Ali harus merasakan pahitnya kalah TKO, itu pun terjadi di penghujung karirnya tahun 1980 silam, setelah petinju paling tenar seantero jagat raya itu tidak pernah merasakan kalah KO alias dipukul jatuh di atas ring.

Dari total 61 pertandingan yang dilakoninya, 56 kali kemenangan dicatatkan (37 Menang KO) Ali. Dari lima kekalahan termasuk kalah TKO dari Holmes, empat kekalahan lainnya hanya dua kali kalah angka sementara yang lain lewat keputusan split atau keputusan mayoritas juri.

Namun, di era keemasannya, tidak satu pun petinju yang mampu menaklukkan pria yang setidaknya menikah empat kali sepanjang hidupnya itu, dengan menjatuhkannya. Itu juga jadi alasan pembenaran, jika tidak disebut sebagai yang terhebat (The Greatest) ayah sembilan anak itu merupakan satu dari petinju terhebat sepanjang masa.

Tapi, ibarat kata pepatah, Tak ada Gading yang tak Retak, Ali tetap pernah jatuh oleh pukulan lawan. Siapa saja yang pernah menjatuhkan pria yang diberi nama Cassius Marcellus Clay, Jr itu?

Ada tiga petinju yang mendaratkan pukulannya ke wajah Ali dan membuat Ali jatuh. Menariknya, ketiga-tiganya memukul jatuh  Ali, menggunakan pukulan hook (kait) tangan kiri.

Di awal karir profesionalnya, The Greatest-julukan Ali-pernah mendarat di kanvas ring arena tinju. Adalah Sonny Banks yang mencatatkan namanya sebagai petinju pertama yang membuat Ali jatuh di ronde pertama pertarungan tahun 1962, tahun kedua sejak Ali jadi petinju profesional.

Sama-sama mendaratkan pukulan hook kiri, kerasnya pukulan lawan membuat petinju yang terkenal lewat jargon “float like a butterfly, sting like a bee” itu harus merasakan tersungkur. Namun bukan Ali namanya kalau tidak langsung bangun dan melanjutkan pertandingan yang lumayan brutal itu. Di ronde kedua, giliran Ali yang membuat Banks jatuh dan setidaknya mendapat hitungan dua kali walau bertahan hingga akhir ronde kedua.

Tidak ingin rekor tak terkalahkannya rusak, Ali kembali menghujani Sonny Banks dengan rentetan pukulan di ronde ketiga, pada pertandingan yang dihelat 10 Februari 1962 itu. Kali ini Banks, petinju asal Detroit, Michigan, Amerika Serikat itu memberikan perlawanan. Sayangnya kecepatan Juara Olimpiade Roma, Italia 1960 itu menghindar dan menyerang dengan kombinasi pukulan keras dan cepat akhirnya membuat wasit menghentikan pertarungan ronde keempat dengan kemenangan TKO bagi Ali.

“Waktu aku berkunjung ke rumah Muhammad Ali, dia memutar video pertandingan. Kalau tidak salah lawannya Sonny Banks. Di pertandingan itu Ali jatuh. Kami lalu saling pandang. Dia lalu berbisik dan bilang terpeleset (slipped). Padahal pukulan itu jelas sekali. Hanya Muhammad yang bisa bilang begitu,” ujar mantan gubernur Minesotta dan pegulat profesional, Jesse Ventura, bercerita pengalaman bersama idolanya itu sambil tertawa pada video sesi wawancara yang beredar di laman youtube.

Sementara petinju yang mengidap Parkinson setelah pensiun bertinju hingga akhir hayatnya itu, usai laga tesebut mengaku itu merupakan pertama kalinya dia dijatuhkan lawan semenjak menjadi atlet profesional. “Aku menganggap sebagai yang terhebat, Jadi waktu jatuh aku langsung bangkit dan mengalahkan Sonny,” ujarnya saat diwawancara.

Lagi-lagi, petinju yang sempat absen 3,5 tahun lantaran menolak wajib militer ke Vietnam itu harus jatuh dengan hook kiri. Kali ini lewat pukulan Henry Cooper. Pra pertarungan merebut gelar juara dunia tinju kelas berat dengan Sony Liston, Ali menjajal Henry di Stadion Wembley, London,18 Juni 1963, lantaran lawan sebelumnya, Doug Jones yang dikalahkan Ali lewat kemenangan angka dinilai belum cukup meyakinkan sebagai modal menghadapi “Sang Beruang” Sony Liston.

Jelang laga, Ali sesumbar akan mengalahkan Cooper di ronde kelima. Kehadiran perdananya di Inggris itu membuat publik tuan rumah sangat membencinya. Selain karena mulut besarnya, Ali naik ke atas ring dengan mengenakan mahkota. “Jika kalian punya ratu, aku rajanya,” ujar Ali kepada publik di London yang spontan membuat Ali semakin dibenci.

Harapan masyarakat bahwa Cooper bisa mengalahkan Ali sepertinya akan jadi kenyataan ketika hook kiri juara tinju kelas berat Inggris itu mendarat di rahang Ali di ronde ketiga dan membuatnya meluncur jatuh dengan tali ring tinju sebagai penopangnya. Namun, selain langsung bangun, bertepatan bel akhir ronde berbunyi. Ali punya waktu untuk memulihkan diri. Apa lagi, saat jeda, tali sarung tinju Ali terlepas. Ali dapat tambahan waktu, wasit mengizinkan Angelo Dundee, sang pelatih mengikat kembali tali tersebut.

Di ronde keempat, giliran Ali yang mengambil kendali pertarungan dan membuat pelipis kiri Cooper sobek dan mengeluarkan cukup banyak darah, hingga akhirnya wasit menghentikan pertarungan di ronde kelima dan membuat Muhammad Ali menang TKO. “Dia (Henry Cooper) petinju bagus, tapi gampang sekali terluka,” Ali memuji Cooper usai pertandingan.

Di pertemuan berikutnya dengan Cooper 1966, Ali kembali menang TKO di ronde enam setelah hujaman pukulan Ali kembali mencederai pelipis kiri pria yang selanjutnya mendapatkan gelar kebangsawanan dari Kerajaan Inggris itu menjadi Sir Henry Cooper.

Selanjutnya, Joe Frazier menjadi petinju ketiga yang menjatuhkan Ali pada laga bertajuk Fight of the Century atau pertemuan pertama dari tiga pertarungan dua musuh bebuyutan itu di Madison Square Garden, 8 Maret 1971. Joe yang terkenal dengan pukulan hook kiri yang kuat membuat kakak Rahman Ali itu harus jatuh di ronde 11 kendati mampu bangkit dan menyelesaikan pertarungan 15 ronde itu dengan kemenangan mutlak bagi Joe Frazier.

“Lucu memang. Aku selalu jatuh ketika dipukul dengan  hook kiri. Joe Frazier, Henry Cooper,” Kata Ali saat di wawancarai Johnny Carson di acara Tonight Show, tahun 1972.

*Chuck Wepner dan Trik Jorok pada Ali*

Sebenarnya, bukan tiga pertarungan itu saja yang mencatatkan Muhammad Ali jatuh oleh pukulan lawan. Saat menghadapi Chuck Wepner Maret 1975 usai merebut gelar juara dunia dari George Foreman, Ali juga terjatuh terkena pukulan hook kanan, si “Bayonne Bleeder”.

Namun, kendati wasit Tony Perez menilai Ali jatuh terkena perutnya terkena pukulan hook kanan Wepner dan selanjutnya melakukan hitungan, program televisi yang dipandu Howard Cosell membahas pertandingan itu membeberkan fakta lain. Ali jatuh lantaran kaki kanannya diinjak oleh Wepner menggunakan kaki kirinya pada saat mencoba menghindari pukulan lawan.

Selain itu ada sekurangnya 200 pukulan ilegal (rabbit punch) dilakukan Wepner, yakni memukul bagian belakang kepala Muhammad Ali, namun terkesan dibiarkan wasit. Selanjutnya, Muhammad Ali menang KO di ronde 15 setelah membombardir Chuck denhan kombinasi pukulan. Sebelum kalah TKO oleh Ali, Chuck sebelumnya tidak pernah kalah KO.(syukri amal)

Komentar Facebook



Loading...
To Top