Historia

Hoaks (Bual) Sudah Ada di Era Revolusi

Gubenur Sumatera Utara pertama, Mr SM Amin membantah berita kantor berita Belanda (Publika/Foto : Dok Ichwan Azhari)

PUBLIKA.CO.ID Berita Hoaks tidak hanya muncul di era media sosial belakangan ini. Pada masa konflik Indonesia-Belanda era 1945-1949, Kantor Berita Nasional Belanda Aneta, kerap membuat hoaks atau berita bohong untuk tujuan politik sebagaimana dipamerkan dalam Pameran Pers Perjuangan Kemerdekaan di Sumatera Utara , di Gedung Juang 45 Jalan Pemuda Medan 9-16 Februari 2017.

Mr. SM. Amin Gubernur Sumatera Utara pertama membantah kabar bohong Aneta 28 Nopember 1948 tentang adanya perpecahan 4 faksi politik di Aceh. Tujuan berita itu menurut Mr. S.M. Amin adalah agar politisi dan wakil wakil dari Aceh tidak mau dilantik menjadi anggota DPRD pertama Sumatera Utara di Tapak Tuan. Pelantikan anggota DPRD Pertama Sumatera Utara di Tapak Tuan dengan menerobos blokade Belanda ini dihadiri utusan Tapanuli, Sumatera Timur, dan Aceh.

Kliping koran bantahan bual terhadap berita kantor berita Belanda (Publika/Foto: Dok Ichwan Azhari)

Masa itu Aceh masuk dalam Provinsi Sumatera Utara. Pelantikan ini sangat dicemaskan Belanda karena paradoks, sekalipun pemerintahan pusat sudah mereka kuasai; Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim sudah ditangkapi, ibu kota RI sudah diduduki, tapi di Sumut lewat Gubsu yang sah, pemerintahan sipil bisa berjalan, apalagi ada instrumen negara yang lengkap dengan dilantiknya anggota DPRD Pertama Sumut. Untuk itu berita Hoaks perlu ditiupkan media resmi Belanda. Berita inilah yang dibantah harian Waspada 13 Desember 1948.

Berita Hoaks lainnya dimunculkan harian Waspada dengan judul : Bantahan terhadap bual “Aneta” (Waspada 14 Juli 1948). Hoaks ini menyebut adanya 50 ribu pengungsi di Sumatera Timur yang mengindikasian adanya kemelaratan di daerah pendudukan republiken. Juga disebutkan TNI melakukan pembakaran rumah warga. Bantahan berita Hoaks Belanda ini dilakukan oleh Djawatan Sosial Sumatera Utara.

Bual dalam judul ini berasal dari kosa kata Melayu yang dipakai untuk cerita yang tidak benar, penggunakan kata Bual dalam judul berita memberlihatkan kata Melayu itu sudah dipakai lazim, istilah Hoaks sama sekali tidak dikenal. Tapi kini sekalipun banyak orang Medan yang kenal istilah Bual, tapi menghilang sebagai istilah dalam jurnalistik Medan.

Dr. Phil. Ichwan Azhari

Lahir di Medan, Sumatera Utara, 16 November 1961, adalah seorang sejarawan, pengajar dan ahli filologi (Filolog) Indonesia. Saat ini Ia menjadi Dosen di Universitas Negeri Medan. Pada April 2006 Ichwan mendirikan Pustaka Humaniora (Pusra) dengan koleksi dokumen serta arsip-arsip lama sejarah Nusantara yang ia dapatkan dari perburuannya selama tujuh tahun di berbagai perpustakaan dan kampus di Belanda dan Jerman, serta sumbangan dari kolega dan berbagai instansi pemerintah. (Wikipedia)

Tulisan ini dikutip langsung dari laman facebook Dr. Phil. Ichwan Azhari tanpa pengubahan redaksi atas seizin Dr. Phil. Ichwan Azhari

Editor: Bim Harahap

Komentar Facebook



Loading...
To Top