Historia

Pers Kita Dulu Santun dan Cerdas, Betapapun Sedang Dalam Proses Dihancurkan Serdadu Agresor

kliping koran Soeloeh Merdeka (publika/dok: Ichwan Azhari)

PUBLIKA.CO.ID – Walaupun darah mendidih sudah di ubun ubun sakin jengkelnya melihat perilaku serdadu Inggris dan Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia, tapi pemberitaan masa revolusi tampil dengan bahasa yang santun dan cerdas.

Dalam Pameran Pers Perjuangan Kemerdekaan Sumatera Utara di Gedung Juang 45 Jl Pemuda Medan (9-16 Februari 2017) , kita bisa melihat judul judul berita yang tidak sangar, tidak kasar, tidak menghujat serta tidak menilai hitam putih kelompok atau bahkan bangsa.

Kliping koran Soeloeh Medeka (Publika/Dok Ichwan Azhari)

Pemberitaan atas peristiwa penyerbuan berdarah, pembunuhan dan penghancuran oleh pasukan sekutu, ditampilkan dalam judul dan narasi yang tidak mengumbar kebencian. Bahkan sebagaimana diperlihatkan koran terbitan Soeloeh Merdeka Medan, di bawah desingan mesiu Belanda dan Inggris mereka membuat headline mengejutkan, mengangkat simpati rakyat Belanda pada kemerdekaan RI, juga perjuangan ke parlemen Inggris yang tidak menghendaki mesin mesin pembunuh bergentayangan di kota Medan.

Lihatlah judul berita utama pada Soeloeh Merdeka Medan edisi 3 Djoemadilawal 1365 (V,1946) :

HAMPIR SELOEROEH RAKJAT BELANDA MENAROEH SIMPASI ATAS TOENTOETAN KEMERDEKAAN INDONESIA atau SOAL INDONESIA KEMBALI DALAM PARLEMEN INGGRIS.

Rakyat, khalayak pembaca, pun mengalami edukasi sebagai orang cerdas dan beradab dalam memandang persoalan bangsa yang baru lahir tapi malah sedang diujung sakratul maut. Kini banyak berita di media tampil dengan berita penuh amarah, hantam, libas, sikat, ganyang, hasut, nista, lawan, bongkar, permalukan. Mengapa media kita jadi seperti ini? Apakah cermin dari masyarakat yang diberitakannya?

Alangkah indahnya kita dulu di Medan pun pernah punya media yang santun, cerdas dan beradab.

 

Dr. Phil. Ichwan Azhari

Lahir di Medan, Sumatera Utara, 16 November 1961, adalah seorang sejarawan, pengajar dan ahli filologi (Filolog) Indonesia. Saat ini Ia menjadi Dosen di Universitas Negeri Medan. Pada April 2006 Ichwan mendirikan Pustaka Humaniora (Pusra) dengan koleksi dokumen serta arsip-arsip lama sejarah Nusantara yang ia dapatkan dari perburuannya selama tujuh tahun di berbagai perpustakaan dan kampus di Belanda dan Jerman, serta sumbangan dari kolega dan berbagai instansi pemerintah. (Wikipedia)

Tulisan ini dikutip langsung dari laman facebook Dr. Phil. Ichwan Azhari tanpa pengubahan redaksi atas seizin Dr. Phil. Ichwan Azhari

Editor: Bim Harahap

Komentar Facebook



Loading...
To Top