Opinia

Catatan Fans Razan (Milan): Gracias Messi, Go to Hell Israel!

Timnas Argentina menolak bermain dengan Israel (Publika/Adil Nugraha)

PUBLIKA.CO.ID – Musik dan sepakbola adalah bahasa universal. Kau tak perlu menguasai bahasa lawan mainmu, cukup mainkan musik, lalu sekujur tubuhmu akan memainkan nada seirama. Atau bermain sepakbolalah, berlari dan tempatkan dirimu dengan sebaik-baiknya, rekanmu, yang mungkin orang Nigeria, Jepang, Rusia atau Belanda secara naluriah akan mengumpankan bola kepadamu.

Sepakbola, juga bukan arena olah tubuh semata, ia kini menjadi gemerlap kehidupan orang-orang yang di sekitarnya. Bahkan jauh dari itu, ia adalah alat diplomasi paling politis. Dahulu, ketika final Piala Dunia tahun 1998, Perancis Vs Brazil, Perancis yang tuan rumah berhasil menyungkurkan Brazil tiga gol tanpa balas. Padahal, Luiz Nazario Ronaldo sedang di atas anginnya. Tak ayal kekalahan itu diduga mengandung teori konspirasi yang hingga kini tak terkuak.

Salah satu teori konspirasi itu adalah, Brazil sengaja mengalah dari Perancis untuk mendapatkan suntikan dana 23 juta US Dollar. Karena ketika itu, Brazil diguncang bencana kelaparan dan krisis ekonomi. Ronaldo sang mega bintang yang ketika itu baru berumur 21 tahun pun mendadak terserang epilepsi jelang pertandingan, mulutnya berbusa tubuhnya kejang-kejang.

Meski kemudian tetap dimainkan di laga final, ia telah layu sebelum berkembang. Jadilah Perancis juara dunia untuk pertama kalinya dalam jagad sepakbola dunia. Kini, diplomasi politis itu ingin dimainkan Dajjal berwujud Benjamin Netanyahu, ya itu Perdana Menteri Zionis Israel.

Ia dengan kelicikannya mengundang Tim Nasional Argentina untuk melawan Israel di daratan Yerussalem, tempat yang sepenuhnya milik Palestina namun diklaim secara membabi buta oleh Israel. Usai tanpa berdosa membunuh tim medis yang jelas melanggar hukum internasional, Israel dengan diplomasi politisnya jelas ingin meraih simpati dunia dengan laga persahabatan yang akan dihadiri pemain level planet named, Lionel Andrés “Leo” Messi.

Argentina pun terbuai dengan bujuk rayu iblis itu. Publik Palestina tentu bereaksi. Bermain sepakbola dengan Israel di tanah Yerussalem pula tentu akan berdampak politis, di mana Israel akan senyum-senyum tepuk dada: Argentina saja mengakui kami. Cuih ora sudi! Maka jersey nomor 10 yang kerap dipakai bintang Argentina, Messi pun dibakar. Messi sempat dihujat dan dibandingkan dengan pemain planet lainnya, Christiano Ronaldo yang membela Palestina

Tapi syukurlah, Messi kemudian mendapat hidayah. Adalah Gonzalo Higuain yang menyadarkan Messi, bahwa bermain dengan Israel adalah kekeliruan, bahkan lebih dari itu, adalah sebuah ketololan karena Israel bukanlah negara! Bahkan ia tak pernah eksis dalam pergaulan internasional. Pembangkang kelas berat dan penjahat kemanusiaan yang sesungguhnya.

Atas hidayahnya itu, Messi lalu mengontak PSSI-nya Argentina. Meminta membatalkan pertandingan. Bahkan di luar dugaan, lewat hartanya yang melimpah ruah, dengan enteng ia bilang tidak perlu khawatir dengan kerugiaan yang muncul setelahnya. “Biaya yang sudah dikeluarkan seperti tiket pesawat, stadion, hotel serta biaya administrasi lainnya, saya yang tanggung,” ujar bintang Barcelona yang di masa kecilnya mendapat suntikan hormon ini.

Bahkan, Messi pun berujar: saya tidak akan bermain dengan mereka yang telah membunuh anak-anak tak berdosa di Palestina. And go to hell Israel! (catatan: sepotong kalimat ini saya tambahi sendiri) Well, Gracias Messi!

BAMBANG RIYANTO

Jurnalis salah satu media cetak ternama di Kota Medan, menulis di waktu senggang untuk opinia Publika.co.id, sebagai seorang fans fanatik klub asal italia AC Milan, ia menamai catatan-catatan pendeknya di halaman facebook dengan Catatan Fans Milan. Catatan tersebut tidak hanya menyoroti masalah olaharaga dalam hal ini sepakbola, melainkan merekam berbagai fenomena sosial, budaya, politik yang kadang terluapkan dengan satir, menggelitik bahkan bisa juga nyelekit. Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) dan Magister Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) USU ini punya gaya sendiri dalam menyalurkan aspirasi. Pengalamannya liputan dalam dan luar negeri, malang melintang di dunia gerakan kampus, kecintaannya berkesenian di Teater O USU memberi perwajahan berbeda dalam kolom opinia publika.co.id. untuk menghargai kehadiran tulisan-tulisannya, kami tetap menanamai kolom tersebut dengan Catatan Fans Milan. Untuk berkomunikasi dengan Bambang Riyanto Dapat menghubungi akun instagramnya be_riyanto

Editor: Bim Harahap

Komentar Facebook



Loading...
To Top