Editoria

Fiksi Mudik: Sebotol Cold Brew dan Kesepian di Hari Tua  

Ilustrasi (foto: Edit/pencarian google)

PUBLIKA.CO.ID – Baru saja seorang wanita muda berjilbab mengantarkan sebotol kopi cold brew ke mejaku, aku duduk seorang diri di pojok sebelah kanan ruangan, di sebuah sofa kayu yang lebih pendek dari kursi lainnya, hanya ada 4 meja dengan sofa seperti itu sehingga nyaman bersandar,  selebihnya kursi model persegi empat tinggi dan lainnya tanpa penopang punggung.

Sebenarnya aku bukan pecinta kopi pahit, entah karena desakan gaya hidup, serupa sugesti bahwa hari ini adalah kopi, akirnya sejak setahun lalu mulailah aku bereksperimen, kopi murni apa yang sesuai dengan seleraku – yang terlanjur fanatik terhadap kopi susu. Jalan tengah akhirnya kutemukan, racikannya disebut cold brew. Sebuah metode ‘perendaman’ kopi minimal 8 jam dengan air dingin dalam suhu ruangan. Cold brew tidak terpapar suhu panas sehingga tidak mengekstrak karakter acidity dari kopi. Inilah yang membuat rasaya lebih ringan, setidaknya inilah informasi yang pertama kuterima dari satu artikel, singkatnya menurut istilahku yang awam, metode cold brew membuat kopi tidak terlalu pahit. Jadilah aku kelas menengah yang menari dalam hegemoni kopi.

Di luar lalu lalang kendaraan terdengar bagai tarikan nafas yang gelisah, entah berapa kepenetan yang baru saja melintas. kerlap lampu kendaraan silih berganti seolah memastikan malam ini cukup sibuk bagi pengguna jalan. Sambil menyeruput kopi aku membayangkan bermacam persoalan menggalantung di kepala orang-orang yang lewat. bisa di dalam sebuah mobil mewah dan bisa pula dari kendaraan rongsok yang sedang meringis membawa muatan.

Kucoba menerka memasuki pikiran pengguna jalan yang melintas, terbayang langsung seorang pengemudi tua yang kesepian, setelah istrinya meninggal dan anak-anaknya memutuskan tinggal di kota berbeda bersama keluarga masing-masing. Kini pengemudi tua itu ditemani lampu jalan, sebuah nyanyian mendikte dengan lirik menusuk dari suara Natasha Bedingfield – Soulmate

“Who doesn’t long for someone to hold,

 who knows how to love you without being told,

 somebody tell me why I’m on my own,

if there’s a soulmate for everyone,”

Lampu kendaraan tiba-tiba menyorot jendela kaca tempatku duduk, satu kendaraan mewah sedang menepi diatur oleh petugas parkir, pria berumur dengan rambut memutih turun, terlihat ia senyum pada tukang parkir lalu memasuki café tempatku duduk, mata kami bertemu dan ia melempar senyum. Seperti teman akrab saja, begitu pikirku. Dan entah bagaiama ia malah duduk di depanku.

“Anak muda, saya duduk di sini ya?” ujarnya sambil menarik kursi, dan entah dapat dorongan darimana aku mengangguk tanda setuju pria tua duduk di depanku.

“Ini minuman apa?” ia menunjuk sebotol kopi cold brew di samping laptopku.

“Cold Brew, kopi yang diendapkan selama 8 jam,” kataku mencoba ramah

“Oke aku coba yang ini ya.” Ia memanggil perempuan berjilbab pelayanan café dan memesan sebotol Cold Brew

“Sedang menulis apa?” Tanya pria tua itu lagi

“menulis cerita,”

“cerita apa?”

“Cerita tentang kesepian?” jawabku singkat

Aku mendengar pria tua itu menarik nafas sambil menyenderkan punggungnya ke kursi, wajahnya sedikit berubah, muram dan kehilangan senyum yang ia bagi dengan tukang parkir saat pertama datang tadi, sejujurnya aku khawatir dengan jawabanku yang mungkin telah membuatnya tersinggung. Untunglah wanita berjilbab datang meyuguhkan pesanan cold brew untuk pria tua yang sedang terdiam di depanku. sedikit memecah suasana yang sedang serba salah.

“Anak muda, tidak ada yang menginginkan kesepian, dan tidak pula dapat ditebak kapan kesepian itu menghampiri, dulu saya berupaya mempersiapkan segala sesuatunya, namun apa yang saya khawatirkan telah terjadi saat ini, dan saya tidak tahu bahagian mana yang harus saya sesali,” kata pria tua tersebut, ia lalu menuangkan kopi dari botol ke dalam cangkir kecil, dua teguk ia lewati dengan pejaman mata. “Kopi ini enak,” sambungnya.

“Bagi kami yang telah berumur ini, sejujurnya tidak lagi terlalu mampu memperlihatkan kesepian itu, kami hanya menjalani saja, kadang terkesan pasrah, dan itu dirasakan orang-orang tua seumuran saya. Percayalah anak muda, bagian penting dari kesepian di hari tua itu bukanlah hanya tentang rumah yang kosong, meja makan yang ramai kini sunyi, suara kaca jendela yang pecah karena terkena bola anak-anak, atau suara anak-anak dan ibunya yang besahut-sahutan sepanjang hari, bukan hanya itu. Itu hanya soal merawat kenangan, lebih penting adalah bagaimana kami mensiasati kekhawatiran terhadap anak-anak, menantu dan cucu-cucu, yang kadang datang berlebihan, yang jawabannya pasti akan selalu sama ; bapak tenang saja atau kakek tenang saja, yang penting bapak jaga kesehatan, kakek jaga kesehatan,”

Aku coba memahami pernyataan pria tua ini, ternyata menerka kesepian bukanlah perkara mudah, semula aku mengira kesepian itu soal-soal hilangnya kebiasaan yang telah dilakukan bersama-sama dalam waktu lama, lalu terkenang saat malam sebelum tidur, ternyata sepi itu bermacam pula artinya.

“Lantas apa yang dilakukan saat seseorang kesepian di masa tuanya?” tanyaku

“Tidak ada, melewatinya akan terasa menyakitkan, masuk saja ke dalam lalu temukan bagian terbaiknya,” Katanya menjawab pertanyaanku tanpa keraguan.

“Sebentar lagi lebaran Idul fitri, apakah anak-anak bapak akan mudik?” kulempar pertanyaan ini setelah melirik walpaper kaligrafi pada ponselnya yang terletak di meja.

“Sepanjang hari saya memikirkan itu, dulu saya bermimpi membesarkan anak-anak, menghantarkan mereka pada pendidikan terbaik, bila perlu ke luar negeri, dan setelah 30 tahun berlalu, kini saya bermimpi anak-anak ada bersama saya,” jawab pria tua tersebut sambil tertawa, seolah-olah menertawakan impiannya kini.

perbincangan kami pun semakin panjang, melintasi beragam topik, hingga waktu menunjukkan pukul 10.00 Wib. hampir satu jam berlalu, kemudian ia memanggil wanita berjilbab, menanyakan berapa ia harus membayar minuman di meja kami.

Aku sempat menahan, namun ia melempar senyum “Tenang saja, ini bukan untuk kopi, tapi untuk waktumu menemaniku berbincang, sampai ketemu anak muda, saya pasti akan sering ke sini,”

Aku menjabat tangannya erat, saat pria tua itu berlalu, ada perasaan lain di dalam diri, terbayang rumah, terbayang Ibuku yang duduk di depan mesin jahitnya, teringat sepanjang Ramadhan ini, sudah ada lima kali ibu menelpon bertanya tanggal berapa aku akan pulang kampung.

Bim Harahap

 

*Tulisan ini adalah fiksi, ditulis di sebuah kedai kopi di Jalan Gagak Hitam (Ring road) Medan, Culture Coffe, tempat yang nyaman untuk menulis.  

Komentar Facebook



Loading...
To Top