Historia

Catatan Tempo Doeloe: Beda Iklan Hari Raya 100 Tahun lalu dengan Sekarang

Tidak Ada Iklan Makanan dan Minuman
Salah satu iklan menjelang hari raya pada tahun 1917 (foto: Dok Ichwan Azhari)

PUBLIKA.CO.ID – Bertemu dengan Hari Raya Idul Fitri bertemulah dengan konsumerisme yang tanpa ampun. Iklan mengepung kita mulai dari media cetak, Tv, medsos bahkan pagar mesjid pun dikepung spanduk produk hari raya seakan tanpa perlawanan. (Belum saya amati apakah pagar Gereja, Viihara, Kuil juga ditempeli iklan produk saat hari raya agama bersangkutan).

Kita bisa berdebat (teori konsumerisme mana yang mau dipakai?) apa itu konsumerisme dari konsumsi berlebihan sampai ke konsumsi imajiner, kita sebenarnya tidak memerlukan barang atau produk itu, tapi rayuan iklan dan perubahan sosial telah menyebabkan kita seakan “dipaksa” membelinya.

Saya mengajak kita melihat seratus tahun yang lalu, saat idul fitri, apa yang diiklankan media massa? Ternyata yang dominan baju, sepatu, kopiah. Uniknya tidak ditemukan satupun iklan minuman dan makanan. Berarti masyarakat pada masa itu memproduksi sendiri makanan dan minuman mereka saat idulfitri.

Bandingkan kini, periksa rumah kita berapa banyak produk makanan yang kita beli? Dan minuman, semua kita beli ya, buatan pabrik kan? Karena lautan iklan yang menyergap itu tak kita tanya apakah minuman itu memang diperlukan tamu kita? Atau ketika itu sudah jadi “keharusan” maka tanpa adanya minuman itu kita dianggap belum berhari raya.

Dalam sejarah sosial Medan yang bisa diingat, minuman pabrikan yang menguasai rumah saat hari raya adalah Marquisa Cap Pyramid Unta. (Sebelumnya kabarnya sirop atau air menit). Lalu merek itu tenggelam diganti merek marquisa lain sampai lebih 10 merek (padahal itukan maraquisa palsu : pengental, gula, pewarna, perasa marquisa, setetes pun tak ada buah asli marquisa. Kecuali produk tertentu yang mahal).

Sekarang marquisa itu agak redup diganti sirop Kurnia dan sirop-sirop lainnya. Seakan tanpa itu, tidak sah idulfitri. Hal dominasi minuman pabrikan di Idul Fitri ini (termasuk di rumah saya) dibanding dulu, pertanda apa? Siapa yang diuntungkan secara ekonomi? Siapa pemilik pabrik, siapa pemilik media dan pemasang iklan?

Tidak ditemukan iklan makanan dan minuman di media masa dulu saat Idul Fitri mencerminkan masyarakat Islam waktu itu? Mari kita lihat iklan-iklan yang terasa lucu dilihat dari masa kini. (Iklan koran koran lama yang diturunkan ini merupakan koleksi Rumah Sejarah Medan.)

Pada Surat Kabar Pewarta Deli bulan Juli 1917, banyak ditemukan iklan-iklan promosi barang perlengkapan seperti pakaian, sepatu, kopiah, dan kain batik.

Dalam Edisi 6 Juli 1917 terdapat sebuah iklan dari barang terbaru milik Toko Cornfiel berupa pakaian dan topi anak-anak serta sepatu dengan berbagai macam model dan warna untuk menyambut Hari Raya : “Baroe terima boeat Hari Raija. Pakaian dan Topi Anak-anak. Sepatoe. Matjam-matjam model dan warna”. Serta iklan sebuah produk tembakau bermerek Sigaret yang ditujukan untuk berbuka puasa : “Boeat Boeka Poeasa hisap Sagaret “Alma Fibe”.

Selanjutnya pada Pewarta Deli edisi 9 Juli 1917, terdapat sebuah iklan kopiah produksi Lubuk Pakam, dilengkapi dengan promosi kualitas barang yakni kopiah yang terbuat dari benang sutra dan baldu yang halus dengan harga yang murah : “… Dari itoe kami harap padoeka engkoe-engkoe, crani-crani, sahabat andai kenalan selakan pesan KOEPIAH dari kami, ditanggoeng bagoes!!!”.

iklan zaman dahulu (Foto: Dok Ichwan Azhari)

Satu lagi iklan menyambut Hari Raja yang cukup menarik pada Surat Kabar Pewarta Deli 11 Juli 1917 adalah iklan kain batik dari Kedai Pandjang No. 88 milik Hadji Abdul Hamid di Kesawan Medan-Deli. Dalam iklan itu disebutkan bahwa Kedai Pandjang menyediakan kain Tulung Agung dan berbagai macam kain batik. Barang-barang yang dijual di Kedai Pandjang itu antara lain sarung batik pekalongan, celana, kain panjang, kain sawitan Solo, kain sawitan Jogya, dan saroeng oeit Solo.

Terdapat sebuah iklan yang unik dan khas Hari Raya yaitu : “Kain Pandjang pakai tepi, perloe boeat toedoeng kepala perempoean orang Islam waktoe melantjong”. Tidak ada disebut jilbab, tidak ada baju gamis, hanya “toedoeng kepala perempoean orang Islam waktoe melantjong”.

Dr. Phil. Ichwan Azhari

Lahir di Medan, Sumatera Utara, 16 November 1961, adalah seorang sejarawan, pengajar dan ahli filologi (Filolog) Indonesia. Saat ini Ia menjadi Dosen di Universitas Negeri Medan. Pada April 2006 Ichwan mendirikan Pustaka Humaniora (Pusra) dengan koleksi dokumen serta arsip-arsip lama sejarah Nusantara yang ia dapatkan dari perburuannya selama tujuh tahun di berbagai perpustakaan dan kampus di Belanda dan Jerman, serta sumbangan dari kolega dan berbagai instansi pemerintah. (Wikipedia)

Tulisan ini dikutip dari laman facebook Dr. Phil. Ichwan Azhari dengan beberapa perubahan seizin penulis

Editor: Bim Harahap

Komentar Facebook



Loading...
To Top