Historia

Catatan Tempo Doeloe: Melihat Indahnya Ucapan Selamat Idul Fitri Tahun 1930

syair ucapan selamat idul fitri pada surat kabar soeara atjeh tahun 1930 (Foto: Dok Ichwan Azhari)

PUBLIKA.CO.ID – Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri yang mewarnai media massa, khususnya surat kabar tahun 1930-an, tidak hanya diisi dengan ucapan sederhana yang disediakan redaksi pada kolom khususnya. Akan tetapi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri melalui syair merupakan gaya tersendiri pada masa itu.

Salah satu syair Idul Fitri ditemukan di Surat Kabar Soeara Atjeh Edisi 1 Maret 1930 milik koleksi Museum Sejarah Pers Medan. Syair itu ditulis oleh seseorang dengan nama pena N.S.R. dengan gaya yang sangat unik karena meskipun ditulis tanpa judul namun tiap kata pada awal kalimat yang diikat dari tiap bait syair membentuk satu susunan kalimat “Selamat Hari Raja”.

Syair ini dibuka dengan ucapan selamat Idul Fitri dimana umat Islam harus senantiasa bersemangat dan membangun diri : “Selamat Hari Raja ‘Aidilfithri, Selamat bersoeka demi hari, Satoe Sjawal datang menjinari, Semangat Islam bangoen berdiri”. Adapun alasan untuk tetap bersemangat dan membangun diri itu dijelaskan pada bait ke tiga yakni karena umat Islam telah berjuang di bulan Ramadhan sehingga harus mengambil manfaat dan faedahnya bagi kehidupan : “Loepoet Ramadan Sjawal gantinja, Ladjoe berdjalan tjepat hilangnja, Lekaslah petik ambil boeahnja, Lalai dan lengah besar bahajanja”.

Refleksi semangat hari raya dan ke-Islaman lebih mendalam dituangkan pada bait ke lima dengan menyebut Islam merupakan ajaran yang penting yang selalu sesuai dan mendukung kemajuan zaman : “Adjaran Islam penting artinja, Asal tersiar seloeas-loeasnja, Arti kemadjoean tjoekoe didalamnja, Aliran zaman dapat ditoeroetinja”.

Bait ke lima tersebut seolah menghantarkan syair ini pada ide pokoknya yang utama. Ternyata syair ini tidak hanya menceritakan tentang nuansa Hari Raya Idul Fitri yang berbau ke-Islaman dan amal ibadah, tetapi yang paling menarik karena memiliki ide pokok yang menggabungkan Islam dan kebangsaan.

Tema kebangsaan pada syair ini bisa dibilang tidak hanya menjadi sekadar ide pokok yang tersirat samar dari rangkaian kalimat syair saja, namun secara tegas dan gamblang diturunkan melalui kata-kata yang dapat langsung diketahui. Bait ke-enam dengan jelas menceritakan tentang islam, kebangsaan, bahkan kemerdekaan : “Toendoek bersatoe kepada Allah, Tolongan Toehan datang pastilah, Toendjang kebangsaan djangan lalailah, Toentoet kemerdekaan djangan lelah”.

Selanjutnya pada bait ke-tujuh esensi bangsa semakin dimunculkan dimana setiap bangsa harus bersatu untuk hari ini dan masa depan : “Hapoeskan perbantahan sesama bangsa, Hidoep BERSATOE djadikan rasa, Hari sekarang bergoena loesa, Harap pikiri agar merasa”.

Ternyata anjuran untuk hidup rukun dan damai serta peduli kepada rakyat miskin yang merupakan bagian dari suatu bangsa telah didengungkan pada tahun 1930 pada bait ke sepuluh syair ini : “Roekoen dan damai mari bersatoe, Rasa kebangsaan toedjoean tentoe, Ramai bergerak disini sitoe, Ra’iat melarat lekaslah bantoe”. Jika diperhatikan dengan jelas, bait ke-sepuluh itu bahkan mirip dengan nilai-nilai yang terkandung dari Pancasila, dasar RI yang muncul 15 tahun setelah syair ini terbit.

Rasanya syair yang hanya terdiri dari 15 bait ini terus memberikan kejutan dari tiap baitnya. Seperti pada bait ke sebelas, kata “Indonesia sebagai tanah air bangsa Indonesia yang harus dicintai” sudah dengan sangat jelas dan berani ditampilkan pada surat kabar Soeara Atjeh ini dimana pemerintah Hindia Belanda masih berkuasa pada masa itu : “Islam pendodoek berpoeloe joeta, Indonesia itoelah tanah air kita, Itoelah bangsa jang haroes ditjinta, Ikatlah tegoeh bersama rata”.

Selanjutnya pada bait ke-tigabelas diisi dengan doa tentang kebangsaan yang dilatunkan dalam mengisi kegembiraan berhari raya : “Achir seroean selamat hari Raja, Aman dan madjoe Indonesia Raja, Atjeh djangan loepa bersedia, Agar lekas terjapai moelia”. Kata “Indonesia Raja” pada baris ke-dua bait itu menunjukan suatu kesadaran kebangsaan yang sangat kuat dan kokoh dimana di dalamnya terdapat “Atjeh” yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang harus terus berjuang untuk “terjapai moelia”. Kata “moelia” pada kalimat terakhir bait itu tampaknya merupakan kata ganti dari “kemerdekaan”, kemerdekaan yang harus diraih oleh bangsa Indonesia. Syair ini pun ditutup dengan : “Achir seroean toedjoean kalam, Akan bangsakoe dioetjapkan salam, Aman sentosa siang dan malam, Amin ja Allah chaliqoe’lalam”.

Syair “Selamat Hari Raja” oleh N.S.R. pada surat kabar Soearah Atjeh ini merupakan syair yang sangat hebat. Tidak hanya karena diksi dan idiom dari syair itu yang menakjubkan karena praktis dan tegas, tidak bertele-tele yang dihiasi oleh banyak bunga kata. Tetapi juga karena semangat Islam dan kebangsaan digabungkan dengan sangat jelas dan tegas. Kesadaran tentang kesatuan berbangsa dengan menjadikan Islam sebagai pedomannya menjadi buah pikir intelektual dari sosok dan tokoh (sastrawan) yang sangat jenius pada masa itu. Suatu tema dan ide yang sangat berani yang sangat jarang dipakai oleh para sastrawan bahkan sastrawan sekelas Balai Pustaka yang sedang maju-majunya pada masa itu.

Itulah salah satu syair Selamat Hari Raya tentang Islam dan Kebangsaan yang mengisi surat kabar tahun 1930an. Ucapan hari Raya berbentuk syair atau bahkan puisi kreatif penuh pergolakan pikiran sangat jarang ditemukan di media massa saat ini. Media sekarang rata-rata berisikan ucapan pabrikan, maksudnya ucapan selamat hari Raya Idul Fitri diisi dengan ucapan yang hampir sama saja antar setiap orang, tidak ada ciri khas bahkan perenungan yang bersifat pribadi atau kolektif secara mendalam. Dulu, ucapan Idul Fitri penuh perenungan yang cerdas bahkan dengan semangat kebangsaan. Kini? (Ichwan Azhari)

*Tulisan ini pernah dimuat pada Sudut Tempo Doeloe Harian Waspada Edisi 24 Juli 2015

Dr. Phil. Ichwan Azhari

Lahir di Medan, Sumatera Utara, 16 November 1961, adalah seorang sejarawan, pengajar dan ahli filologi (Filolog) Indonesia. Saat ini Ia menjadi Dosen di Universitas Negeri Medan. Pada April 2006 Ichwan mendirikan Pustaka Humaniora (Pusra) dengan koleksi dokumen serta arsip-arsip lama sejarah Nusantara yang ia dapatkan dari perburuannya selama tujuh tahun di berbagai perpustakaan dan kampus di Belanda dan Jerman, serta sumbangan dari kolega dan berbagai instansi pemerintah. (Wikipedia)

Tulisan ini dikutip dari laman facebook Dr. Phil. Ichwan Azhari dengan beberapa perubahan seizin penulis

Editor: Bim Harahap

Komentar Facebook



Loading...
To Top