Demokratia

Dzikir Politik: Politik Sebagai Platform Kesalehan Sosial

PUBLIKA.CO.ID- Meja Inspirasi kembali menggelar Dzikir Politik, kali ini mengangkat tema “Politik Sebagai Platform Kesalehan Sosial” yang digelar di D’Jong Cafe Jl. Williem Iskandar Pasar V Medan Estate Sumatera Utara, Kamis (25/10/2018).

Dalam Dzikir Politik edisi ini, dihadirkan dua narasumber yang merupakan Caleg DPR RI 2019 untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Utara Usman Efendi Sitorus, S.HI.,M.Si., dan Eko Marhaendy, S.Sos.I, MA. Selain itu, juga dihadirkan satu panelis yang merupakan akademisi (dosen) Dr. H. Ansari Yamamah, MA.

Saat menyampaikan kata sambutan, Owner D’jong Cafe Agustin Sastrawan menyampaikan apresiasi atas kegiatan Meja Inspirasi yang dinilai selalu menemukan ide, menyajikan tema-temanya secara update juga Milenial dan menarik untuk diperbincangkan bersama para peserta diskusi yang mayoritas mahasiswa/i, aktifis kampus, dan masyarakat umum.

“Saya terus menyampaikan bahwa gaya mahasiswa dan pemuda milenial sekarang sangat suka nongkrong di warkop, bahkan sudah menjadi hobby. Kami sangat berterimakasih kepada Meja Inspirasi atas gagasannya sehingga kita tetap dan terus berkomitmen membuat gaya nongkrong mereka menjadi lebih cerdas dengan adanya Dzikir Politik yang diprakarsai Meja Inspirasi di D’Jong Cafe ini,” tandasnya.

Baca juga:  Dadang Jemput Aspirasi Petani Kopi Sipirok Menuju Senayan

Sebagai pembicara pertama, Usman Efendi Sitorus (disapa Ustor) yang sebelumnya sudah mengenyam kursi DPRD Kabupaten Serdang Bedagai dari partai PPP, memaparkan tentang ukuran kesalehan sosial seseorang.

“Jadi untuk mengukur kesalehan seseorang itu tidak diukur dari kesalehan individunya tapi diukur dari kesalehan sosialnya. Kalau seperti itu maka kesalehan sosial sesungguhnya adalah implementasi dari nilai-nilai yang ada pada kesalehan individual. Mungkinkah seseorang yang menemukan kesalehan ketika ia memisahkan antara ranah individu dengan ranah sosial? Saya mengatakan tidak akan ada. Oleh karenanya kesalehan sosial sesungguhnya ruang implementasi dari nilai-nilai yang ada kesalehan individu,” paparnya.

Ustor menjelaskan, ketika dikaitkan dengan politik, kesalehan sosial dapat menjadi solusi baik untuk sistem politik secara umum maupun politisi secara individu untuk benar-benar mejalankan dan mencapai tujuan luhur politik.

“Oleh karenanya, dari sekian pintu, dari sekian jalan untuk menemukan kesalehan sosial pintu itu adalah pintu politik. Kekuasaan politik harus diisi oleh individu-individu secara kesalehannya selesai dan diisi oleh orang-orang yang mampu dan punya kemauan menerjemahkan kesalehan individu kedalam konteks kesalehan sosial,” jelas Ustor yang dalam Pileg 2019 nanti akan bertarung sebagai Caleg DPR RI nomor 10 Dapil Sumut III dari PPP.

Baca juga:  Diskusi Badko HMI Sumut-DPP KNPI: Pemuda Dalam Perencanaan Pembangunan Nasional

Sementara Eko Marhaendy yang merupakan Caleg no.4 DPR RI dapil Sumut 1  dari PSI menjelaskan bahwa kesalehan sosial merupakan terminologi yang sudah baku atau muncul dari wacana-wacana publik yang kemudian menjadi kesepakatan bersama di masyarakat.

“Membaca dari beberapa sumber itu ada kesalehan individual dan kesalehan sosial. Saya ingin menyentuh lebih umum artinya tidak berangkat dari teori dan konsep. Kita bicara tentang Politik sebagai platform kesalehan sosial, tentu disini sasarannya itu adalah sebesar apapun itu bisa dimanfaatkan untuk menyentuh masyarakat,” jelasnya.

“Adanya sistem politik yang tidak baik yang bisa menjadikan apatis, karena ketika orang baik yang dikatakan seorang yang memiliki kesalehan individual ketika masuk pada kekuasaan politik dan tidak membuat sistem yang baik maka tidak akan baik,” imbuhnya.

Baca juga:  Dadang Jemput Aspirasi Petani Kopi Sipirok Menuju Senayan

Merangkum Dzikir Politik kali ini, Dr. Ansari, MA  yang juga dikenal sangat memahami Mazhab Pemikiran Islam Transitif mengungkapkan bahwa politik sebagai platform kesalehan sosial adalah upaya memperjuangkan hak-hak yang bersifat universal.

“Salah satu hak universal yang harus diperjuangkan oleh para pemeran-pemeran politik partai yang berkesalehan sosial itu harus melahirkan aturan-aturan yang berkeadilan, menawarkan kesejahteraan kepada masyarakat, turun kelapangan atau istilahnya reses,” ungkapnya.

Selain itu, Dr. Ansari, MA., yang juga menjabat sebagai Ketua Kopertais Wilayah Sumatera Utara dan Dosen di UIN SU Fakultas Syariah & Hukum itu menekankan, partai-partai yang berkesalehan sosial itu adalah partai yang berkomitmen terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan.

“Kemudian dalam tafsir Islam transitif partai-partai politik itu harus mempunyai kesetiaan mengabdi kepada ibu pertiwi dengan sebaik-baiknya. Mempunyai jiwa nasionalis dan bukan partai pendukung penguasa, tapi membuat orang lain bisa mendapatkan kedamaian, membuat orang lain bisa mendapatkan kesejahteraan,” tandasnya.

Editor: Asmojoyo

Komentar Facebook



Loading...
To Top