Peristiwa

Terciduk, Buron Kasus Kredit Fiktif Rp 10 Miliar Bank BRI Agro ini Ditangkap di Rumahnya

Tersangka Kasus Dugaan Kredit Fiktif di BRI Agro, Beni Siregar, yang sebelumnya buron, berhasil ditangkap Kejati Sumut.(ist)

PUBLIKA.CO.ID– Setelah cukup lama menjadi buron, Beni Siregar, akhirnya ditangkap Tim Pidana Khusus (Pidus) Kejaksaan Tinggi (Kejati Sumatera Utara (Sumut), Jumat (2/11) lalu. Menariknya, tersangka kredit fiktif di BRI Agro Cabang Rantauprapat yang merugikan negara Rp10 mereka itu malah ditangkap di rumahnya.

Keterangan penangkapan Beni disampaikan Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Sumut Sumanggar Siagian. “Benar, Beni Siregar dijemput dari rumahnya di Rantauprapat dan Tim Pidsus Kejatisu langsung membawanya Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Tanjung Gusta medan untuk ditahan selama 20 hari ke depan,” ungkap Sumanggar, Jumat (2/11) malam.

Dia menjelaskan pada 2013,  Pemimpin Cabang (Pinca) BRI Agro Rantauprapat, Kukuh Apra Edi yang memiliki Pemberian Delegasi Wewenang Kredit (PDWK) maksimal Rp1 miliar mulai 2013 s/d 2015 dengan Pinca Wan Muharamis yang memiliki PDWK maksimal Rp500 juta. Selanjutnya, Beni meminjam KTP suami dan juga istri serta KK dan buku nikah sebanyak 22 debitur yang pekerjaan para debitur tersebut adalah karyawannya sendiri bahkan juru parkir.

Baca juga:  Kapolsek Pancur Batu Upayakan Jalur Wisata Menuju Berastagi Tidak Macet

“Kemudian dengan dokumen tersebut tersangka mengajukan permohonan kredit ke BRI Agroniaga Cabang Rantauprapat meskipun para debitur tersebut tidak memiliki niat untuk mengajukan kredit, bahkan tidak mengetahui jika KTP, KK, dan buku nikahnya digunakan oleh tersangka  untuk mengajukan kredit di bank tersebut,” jelas Sumanggar.

Selain itu, syarat peminjaman lainnya berupa NPWP, SIUP, TDP yg diterbitkan Badan Penanaman Modal Perizinan dan Pelayanan Terpadu, serta Sertifikat Hak Milik tidak dimiliki oleh para debitur tadi.

Baca juga:  Ijeck Pimpin IPHI Sumut Lima Tahun ke Depan

Meskipun persyaratan itu tidak dimiliki oleh para debitur namun pada saat pengajuan permohonan dokumen tersebut ada dan seolah-olah asli.
“Selanjutnya permohonan tersebut diproses dan pada saat kunjungan ke lapangan terhadap objek yang dijadikan jaminan ternyata nilai harga objek jaminan itu di-mark-up, hal ini diketahui saat adanya pemeriksaan intern yg dilakukan Satuan Kerja Audit Internal” beber Sumanggar lagi.

Baca juga:  Saksi Ahli Sebut Penyakit Kompol Fahrizal Berbahaya, Bisa Kambuh Sewaktu-Waktu

Tidak itu saja, persyaratan SIUP dan TDP ternyata tidak terdaftar pada Badan Penanaman Modal Peizinan dan Pelayanan Terpadu Kabupaten Labuhanbatu sehingga besaran kredit yang diberikan kepada masing-masing debitur berbeda-beda sesuai dengan PDWK yg dimiliki masing-masing Pinca.

“Jadi untuk menjalankan akal bulusnya, tersangka Beni Siregar ini memberikan Rp1 juta sampai dengan Rp1,5 juta kepada debitur yang telah memberikan foto kopi dokumennya. Akibat perbuatan tersangka ini negara mengalami kerugian kurang lebih Rp10 miliar, dan tersangka ini langsung kita bawa ke Lapas Tanjunggusta Medan,” ujar Sumanggar.(Syukri Amal)

Komentar Facebook



Loading...
To Top