Demokratia

Dadang Jemput Aspirasi Petani Kopi Sipirok Menuju Senayan

PUBLIKA.CO.ID- Calon Anggota DPD RI Dadang Pasaribu asal Sumatera Utara menyambangi Desa Bulu Mario, Kecamatan Sipirok yang merupakan salah satu penghasil kopi sipirok berkualitas sejak puluhan tahun.

Loading...

Kehadiran Dadang Pasaribu ditengah masyarakat mendapat sambutan hangat. Selain berbincang soal kopi, Dadang juga mendengarkan berbagai keluhan terkait lemahnya edukasi dan konsistensi dalam mempertahankan kualitas kopi.

“Masyarakat membutuhkan partisipasi dan perhatian, seperti yang dilakukan Dadang saat ini,” kata Baginda Dalimunthe, seorang tokoh masyarakat Desa Bulu Mario, pada Rabu (7/11/2018).

Dia berharap, suara petani kopi Desa Bulu Mario bisa dibawanya ke senayan. Apalagi menurutnya, Dadang adalah satu-satunya Calon DPD RI yang mau datang ke daerah mereka.

Baca juga:  Presiden Jokowi: Mantan Koruptor Punya Hak Untuk Nyaleg

Menanggapi hal tersebut, Dadang yang maju dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, sebagai Calon Senator termiskin versi LHKPN asal Sumut itu memberi perhatian khusus terkait apa yang dialami masyarakat petani kopi saat ini.

“Para petani saat ini hanya mampu menjual gabah kering, sedangkan itu merupakan harga termurah dari penjualan biji kopi,” jelas Dadang.

Padahal menurut dia, Kopi Sipirok memiliki kualitas dan identitas rasa yang khas. Namun karena keterbatasan kemampuan masyarakat dalam pemrosesan, tidak jarang gabah dari petani itu diolah kembali di daerah lain dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi.

Baca juga:  Dzikir Politik: Daulat Aksi VS Daulat Persekusi, Quovadis Demokrasi Kita?

“Inilah yang membuat identitas Kopi Sipirok hilang,” ungkapnya.

Sementara masih kata Dadang, kopi andalan lain yakni kopi luak liar, Sipirok memiliki kualitas yang tak kalah bagus dengan yang dimiliki daerah penghasil kopi luak, seperti Sidikalang, Humbang Hasundutan (Humbahas) dan daerah lainnya.

Namun lagi-lagi persoalannya adalah kemampuan yang kurang mumpuni dan minimnya edukasi. Para petani sering kali mencampurkan biji kopi berkualitas dengan biji kopi biasa, sehingga mengakibatkan jatuhnya harga.

Baca juga:  KAHMI: Kader Dan Alumni HMI Jangan Takut Mengkritik Pemerintah

“Hal yang perlu dilakukan saat ini adalah mempromosikan kopi sipirok secara masif. Dan mengedukasi petani agar konsisten dalam pengolahan kopi sehingga menghasilkan kualitas terbaik,” ujar akademisi FISIP USU itu.

Dia berkomitmen akan bergandengan tangan bersama petani dalam memajukan hasil pertaniam komoditas ekspor tersebut tanpa harus menyalahkan satu sama lain.

“Menang ataupun kalah, mari kreatif bersama dalam menyelesaikan masalah. Kita harus mampu berbuat,” tegasnya.

Reporter: Muklis
Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook

To Top