Peristiwa

Buaya Tiap hari Muncul di Sungai Natal, Warga Minta BBKSDA Sumut Bertindak

Foto penampakan seekor buaya di Sungai Batang Natal. (Foto : HO/KPP Nata)

PUBLIKA.CO.ID- Warga beberapa desa di Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal semakin resah dengan kemunculan buaya yang setiap hari menampakkan diri. Buaya-buaya ini berada di sungai desa Pasar III, Desa Setia Karya, Kelurahan Pasar I dan Kelurahan Pasar II tepat di tempat warga melakukan aktivitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci.

Menurut pengakuan warga, sebelumnya tidak pernah ada buaya di sungai Natal, namun empat bulan terakhir selalu muncul dan jumlahnya diperkirakan lebih dari satu ekor. “Sebelumnya tidak pernah ada, ini sudah sekitar 4 bulan muncul dan semakin hari semakin sering, 1 bulan terkahir ini malah tiap hari,” ujar Nur, Kamis, (15/11) salah seorang warga desa Setia Karya yang setiap hari beraktivitas di sungai untuk mandi dan mencuci.

Penampakan buaya di Sungai Natal (tanda panah). (Foto : HO/KPP Nata)

Kekhawatiran Nur semakin bertambah mengingat di banyak anak-anak bermain dan berenang di sungai setiap harinya. “Kami sudah sering larang anak-anak untuk berenang di sungai, tapi kadang masih ada ada saja anak-anak yang tetap mandi di sungai. Ini buat kami ibu-ibu di sini semakin cemas,” tambahnya.

Baca juga:  Wali Kota Binjai Serahkan Bantuan Operasional untuk 445 Guru Madrasah

Hal senada diungkapkan Hasna, warga Pasar II Natal ini mengaku kemunculan buaya telah menjadi teror sehari-hari bagi warga, apalagi belum ada tindakan dari pihak berwenang.

“Kemunculannya (buaya) semakin hari semakin sering, sementara banyak warga di sini nyuci dan mandi itu di sungai, apa menunggu ada korban dulu baru ada tindakan dari pihak yang berwenang,” ujar Hasna.

Sementara itu Kesatuan Perjuangan Pemuda Nata (KPP-Nata) Natal meminta Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut untuk segera turun dan menangani buaya-buaya yang ada di sungai Natal. Hal ini menurut KPP Nata sudah sering mereka minta namun belum ada tindakan.

“Kami minta BBKSDA Sumut untuk turun, mengidentifikasi buaya-buaya ini dan kemudian menangkap lalu dipindahkan, agar masyarakat bisa kembali beraktivitas secara normal di sekitar sungai,” Ujar Shohandra Wira, Humas KPP Nata.

Baca juga:  TPL Bantu Pembangunan Pagar SD Negeri di Lumban Sirait

Shohandra Wira menegaskan, respons BBKSDA Sumut sangat dibutuhkan sebelum warga bertindak sendiri terhadap buaya-buaya ini. “Kami memahami Buaya ini hewan dilindungi, ada ancaman pidana bila membunuh. Namun kalau tidak ditangani pihak terkait tidak tertutup kemungkinan warga menjadi korban,” ujarnya.

Penting bagi warga saat ini kata Shohandra Wira ada pihak berwenang yang turun, memberi informasi kepada warga lalu menangani buaya-buaya tersebut. Bukan menunggu warga bertindak sendiri lalu kemudian baru datang untuk menyalahkan warga.

“Kami mendukung upaya pelestarian lingkungan, tapi ini juga harus ada komunikasi yang baik dari pihak berwenang seperti kasus buaya-buaya yang telah meresahkan ini, jangan menunggu warga bertindak baru setelah itu warga yang salah, sementara pihakberwenangnya responsnya lama seperi ini,” tutupnya

Sementara itu Kepala Bidang BBKSDA Sumut Wilayah III Padang Sidimpuan, Gunawan Alza, saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya belum ada menerima laporan terkait keberadaan satwa reptile tersebut. “Tidak ada yang lapor ke kami. Saya sudah cek, tanya ke Taman Nasional Batang Gadis, mereka belum dapat informasi. Tapi kami akan coba cek,” ujarnya kepada Publika, Kamis (15/11).

Baca juga:  Polisi Sebarkan Pesan Tertib Berlalulintas lewat Nasi Bungkus

Memang diakuinya, pasca banjir dan menguapnya sungai Batang Natal belum lama ini, pihaknya mendapatkan informasi adanya buaya putih. Tapi saat didatangi ke lokasi, hasilnya nihil. Menurut Gunawan, Muara Sungai Batang Gadis merupakan habitat buaya, dan Sungai Natal tak dipungkiri juga merupakan habitat buaya atau paling tidak sebagai tempat perlintasan. Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk membatasi aktivitas ke sungai di sore hingga malam hari. Selain itu pihaknya akan melakukan beberapa tindakan.

“Tempat yang sering dimunculi (buaya) kita buat papan informasi. Kalau memang tidak bisa ditolerir lagi, kita pindahkan, kita evakuasi buayanya. Evakuasi mungkin jadi langkah terakhir kalau mungkin tidak tertangani lagi,” ucapnya.(Syukri Amal)

Komentar Facebook



Loading...
To Top