OLAHRAGA

Mengejutkan, Ini Tanggapan Butler Soal PSMS Tidak Jago Kandang Lagi

Tidak Bisa “Menang” Kalau Ada Faksi di Kelompok Suporter
Pelatih PSMS Medan, Peter Butler.(ist)

PUBLIKA.CO.ID- Bagi tim lawan yang bertandang, Stadion Teladan Medan pernah menjadi tempat yang “angker”. Jarang klub yang bisa mencuri poin saat menjajal PSMS Medan. Hasilnya, Tim Ayam Kinantan kerap dijuluki sebagai tim jago kandang.

Namun kini, julukan tersebut tampaknya mulai meredup. Pasalnya, dari 14 pertandingan kandang di Liga 1 2018, saat masih ditangani pelatih Djadjang Nurdjaman atau setelah diarsiteki Peter Butler, PSMS meraih delapan kali kemenangan dan enam kekalahan.

Tentunya, hasil tersebut bisa jadi acuan klub yang bermarkas di Stadion Kebun Bunga Medan itu bukan lagi jago kandang. Menanggapi hal tersebut, Peter Butler melayangkan komentar tajam. “Saya rasa, banyak orang fikir sangat sulit bagi pemain main di sini. Bisa dirasakan, kerja sama, atmosfer dalam stadion tidak kondusif untuk tim,” ujarnya usai memimpin latihan di Stadion Teladan Medan, Kamis (15/11) sore.

Baca juga:  Disanksi Lagi Untuk Penyalaan Suar, Total Denda PSMS Rp1 Miliar Lebih

Ironis menurut pelatih asal Inggris itu, ketika pemain justru main lebih baik saat penonton masih belum ramai datang ke stadion. “Karena kita mulai (bertanding),  penonton bagus sekali. Contoh, kita main jam 15.30, stadion kosong. Babak kedua lebih banyak orang, begitu juga ketika main malam, ada penonton. Anda tahu, saya dan pemain bisa rasakan karena mereka juga bicara dengan saya, suporter tidak bersama-sama membantu tim,” ucapnya.

Pengalaman kontras terjadi saat PSMS menjalani laga tandang, menurut Peter. Pemain bisa lebih fokus bertanding. “Ketika berangkat (away) malah seperti pertandingan kandang. Di sini saya rasa sedikit sedih. Saya harap mungkin di akhir kompetisi ini atau paling tidak mulai musim depan, penonton bisa satu (solid).

Baca juga:  Hadapi Kepri Jaya Momentum PSMS Move On

Karena jika seperti ini, tiga unit, bisa hancur. Tidak bisa menang kalau ada faction (faksi di dalam kelompok suporter). Di stadion ada faction. Pemain bisa rasa itu. Penonton tidak bersama. Lebih bagus main di luar dari kandang,” bebernya.

Mengatasi kondisi itu kata pelatih asal Inggris tersebut, dia selalu meminta kepada pemain untuk melupakan kondisi yang terjadi di luar lapangan dan fokus dalam pertandingan.

Baca juga:  Kepri Jaya Akhiri Perjuangan PSMS di Piala Indonesia

“Itu juga jadi kerja saya, meminta pemain harus lupa situasi di luar lapangan. Ada situasi seperti ini, kita harus tetap fokus, tetap semangat dalam lapangan,” ungkapnya.

Mantan pelatih Persipura itu berharap, penonton atau kelompok suporter khususnya di sisa laga kandang di Stadion Teladan bisa satu suara untuk mendukung The Killer-julukan lain PSMS-yang sedang terpuruk dan berjuang untuk keluar dari zona degradasi.

“Pemain main dengan semangat tinggi. Selain itu kami berharap penonton bantu tim, satu suara mendukung, memotivasi pemain di pertandingan,” pungkasnya.(Syukri Amal)

Komentar Facebook



Loading...
To Top