Nusantara

Mau Makan di Restoran, Umat Islam Harus Perhatikan Ini

Direktur LPPOM MUI Sumut, Prof Dr Ir Basyaruddin MS.(ist)

PUBLIKA.CO.ID– Belakangan, sebagian umat Islam kurang memperhatikan hal-hal yang harusnya jadi hal penting dalam memilih restoran sebagai tempat makan. Salah satunya halal atau tidaknya makanan tersebut.

Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI Sumut, Prof Dr Ir Basyaruddin MS, mengatakan, sertifikat halal restoran harus menjadi pedoman umat Islam sebelum makan di restoran. “Kalau tidak ada label halal di restoran, jangan makan di situ. Karena kalau tidak haram, bisa jadi itu tidak halal, jadi subhat. Kalau banyak masuk subhat ke badan, rusak kita,” ujarnya Rabu (21/11).

Baca juga:  FAJI Sumut 2018 – 2022 Dilantik, Usung Misi Prestasi dan Penyelamatan Lingkungan Sungai

Basyaruddin mengatakan, ketiadaan label halal di restoran selain tidak diurus pengelolanya, ada pula restoran yang tidak lulus sertifikasi kendati sudah melakukan upaya permohonan sertifikasi halal. “Artinya mereka tidak memenuhi syarat. Jangan anggap ketika MUI ini dibayar langsung keluar sertifikatnya, tidak, kita harus sesuai standar,” ucapnya lagi.

Sejumlah indikator diperlukan dalam menentukan halal-tidaknya makanan di restoran tersebut kata Basyaruddin. “Pertama, bahan. Semua bahan harus terjamin kehalalannya. Kedua proses yang menentukan halal-tidaknya, contoh, menjual daging sapi. Kalau di Medan ada beberapa RPH (rumah potong hewan) yang sudah terjamin prosesnya, salah satunya RPH Medan. Tapi banyak RPH yang tidak. Kita tidak bilang itu haram, tapi kita tidak bisa mengatakan itu halal itu saja. Lalu soal ingkungan, kebersihannya,” kata dia lagi.

Baca juga:  30 Persen Ibu di Sumut Jarangkan Kelahiran Dengan Jarak 5 Tahun

Basyaruddin menjelaskan, sertifikasi halal adalah bagaimana kemampuan sebuah produksi itu menjamin najis itu untuk tidak terlibat di dalamnya atau terkontaminasi di dalamnya. “Menerbitkan sertifikat halal supaya orang tidak ragu. Karena kemajuan teknologi saat ini banyak hal-hal yang merugikan. Bahan kita nggak tahu dari mana, impor atau macam-macam. Siapa saja boleh, Islam, non muslim, selama dia memastikan standar itu,” ucapnya.
(Syukri Amal)

Baca juga:  Samsir Pohan: Rakyat Pekebun Kelapa Sawit Di Labuhanbatu Raya Harus Kuat!

Komentar Facebook



Loading...
To Top