OLAHRAGA

Kembali ke Medan, Djanur Sempat Grogi dan Mengira Alat Perekam Sebagai Mic

Pelatih Persebaya, Djadjang Nurdjaman, yang juga eks pelatih PSMS Medan saat memberikan keterangan, Jumat (30/11) jelang bentrok kedua tim di Stadion Teladan, Sabtu (1/12) malam.(ist)

PUBLIKA.CO.ID- Ada yang menarik pada sesi temu pers di Sekretariat PSMS Medan di Stadion Kebun Bunga Medan, Jumat (30/11) sore jelang pertandingan PSMS Medan kontra Persebaya Surabaya di Stadion Teladan Medan, Sabtu (1/12) malam.

Pelatih Persebaya Surabaya, Djadjang Nurdajaman kembali hadir ke Kota Medan. Bukan sebagai arsitek PSMS Medan seperti peran yang dilakoninya hingga mengangkat tim Ayam Kinantan menjadi runner-up Liga 2 musim lalu dan melatih Legimin Raharjo dkk di paruh pertama musim Liga 1 2018, pria yang akrab disapa Djanur itu datang dengan status pelatih Persebaya. Calon lawan PSMS Medan.

Kehadiran pria asal Jawa Barat itu sontak mendapat perhatian khususnya dari awak media. Jelang temu pers, Djanur sempat berbincang dengan sejumlah awak media yang dia kenal di Medan, berdiri di depan ruangan temu pers. Saat temu pers tiba, Djanur yang sempat berpapasan dengan Pelatih PSMS, Peter Butler, tidak saling menyapa, bahkan melihat. Setelah Peter Butler yang didampingi bek PSMS, Rony Fatahillah selesai memberikan keterangan dan beranjak pergi, giliran mantan pelatih Persib Bandung itu masuk ke ruangan bersama kiper Persebaya, Miswar.

Baca juga:  Peluang PSMS Bertahan di Liga 1 Kandas?

Namun, Djanur yang dikenal cakap saat memberikan keterangan kepada wartawan, kali ini berbeda. Saat media officer PSMSS menanyakan gambaran umum kesiapan Persebaya jelang menghadapi PSMS Medan, Djanur terlihat grogi. Dia bahkan mengira alat perekam (recorder) milik wartawan yang tergeletak di meja sebagai mikrofon. “Mana? Oh nggak pakai ini (mic) ya? Kupikir ini (mic),” ujarnya.

Baca juga:  Laga Pamungkas Hadapi PSM, Ini Strategi PSMS Tambal Slot Pemain Absen

Bahkan saat memulai obrolan setelah mengucap salam, Djanur kembali menunjukkan sikap grogi. “Ngomong apa ya? Biasanya lancar. Agak grogi ni, banyak kali wartawannya,” ujarnya berbahasa Medan.

Menghadapi mantan klubnya tersebut, Djanur menegaskan akan bersikap profesional. Komentar itu mengikis anggapan bahwa Djanur akan memberikan kemenangan kepada PSMS Medan agar tetap bisa bersaing untuk keluar dari zona degradasi. “Oke kali ini saya datang kembali ke Medan untuk bertemu dengan PSMS yang notabene adalah mayoritas pemain yang saya bentuk di liga 1 ,ini yang berawal dari Liga 2. Saya bersama-sama pemain naik ke Liga 1 tahun lalu tepatnya baru kemarin, tanggalnya tanggal kemarin (28 November 2017), dan sekarang saya harus berhadapan dengan mereka. Dan pastinya saya akan bertindak profesional,” ungkapnya.

Baca juga:  Laga PSM Kontra PSMS, Pertaruhan Final Dua Ayam Jantan

Djadjang mengatakan, dalam sepakbola profesional, perpindahan pemain maupun pelatih dari satu klub ke klub lain merupakan hal yang wajar. Soal target, dia mengaku tetap berharap kemenangan. “Saya pikir perpindahan dari klub satu klub ke klub lain buat seorang pelatih adalah hal yang wajar. Jadi pasti semuanya juga professional. Ketika saya membela klub yang sekarang saya bela, pasti saya mati-matian ingin meraih hasil maksimal,” ucapnya.(Syukri Amal)

Komentar Facebook



Loading...
To Top