Nusantara

BKKBN Sumut: Angka Remaja Jadi Ibu di Kota Lebih Tinggi dari Desa

Kepada BKKBN Perwakilan Sumut, Temazaro Zega (tengah) saat mensosialisasikan Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 di Kantor BKKBN Perwakilan Sumut, Rabu 5/12).(Syukri Amal)

PUBLIKA.CO.ID- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) memaparkan, kendati tingkat usia perkawinan di perkotaan sudah lebih tinggi dibanding pedesaan, namun lebih banyak remaja di perkotaan yang sudah menjadi ibu dibanding di pedesaan.

Hal itu disampaikan Kepada BKKBN Perwakilan Sumut, Temazaro Zega saat menggelar sosialisasi Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 di Kantor BKKBN Perwakilan Sumut, Rabu 5/12). “Walaupun BKKBN menganjurkan wanita kawin pertama 21 tahun, bagi pria 25 tahun, tapi masih terdapat dalam masyarakat kita yang menikah di bawah itu. Jadi kita kelompokkan dulu.  Kalau di kelompok umur, wanita-wanita yang berumur 15 hingga 19 tahun, sudah kawin, sudah menjadi ibu. Berapa banyak? Di Sumut 6%, sementara di kota lebih banyak, 7%, di pedesaan, 4%,” ujarnya di hadapan awak media.

Baca juga:  Berdamai, Kemitraan Sabar Sitorus-H Arbie Barlanjut

Berbeda dengan rata-rata wanita usia subur yang berada pada kelmpok umur 25 hingga 49 tahun pada Sumut memiliki median 23,8 tahun, atau di perkotaan 24,4 tahun. Sedangkan di pedesaan 23,3 tahun,. “Tapi remaja yang sudah punya anak persentasenya lebih tinggi di perkotaan. Ini juga satu pertanyaan pada kita, apa artinya?  Tadi usia kawinnya lebih tinggi di kota, tetapi yang wanita berstatus remaja sudah menjadi ibu teryata lebih tinggi di perkotaan. Artinya, remaja yang kawin dan menjadi ibu lebih tinggi di kota daripada di desa,” ujar Temazaro Zega didampingi Sekretaris, Yusrizal dan Kasubbag Humas, Ari Armawan.

Baca juga:  Badko HMI Sumut Kritik Kapolda Soal Mutasi 17 Anggota Polisi Yang Amankan Sabu-sabu

Dia menyebut, hal itu akan menjadi pedoman data bagi BKKBN untuk mengambil langkah-langkah operasional dalam meningkatkan frekuanesi intensifikasi dari pada segemen sasaran untuk para remaja.”Kita tingkatkan terus promosi untuk mendewasakan usia kawin kepada remaja kita,” ungkapnya.

Temazaro juga mengungkapkan, secara nasional, total fertility rate (TFR) atau total tingkat kesuburan mencapai 2,4, lebih rendah dibanding  Sumut 2,9. Namun kata dia, angka yang dicapai Sumut itu cukup signifikan.” Tapi jangan salah, karena memang pada awal program KB ini dijalankan di Indonesia tingkat TFR Sumut jauh lebih tinggi dari pada nasional. Di tahun 70 an, Sumut berada pada 7,2, sementara   nasional 5,6 .Saat ini,  nasional turun menjadi 2,4, sedangkan Sumut 2,9, jadi tidak bisa dibilang lamban di Sumut,” ucapnya.(Syukri Amal)

Baca juga:  Terindikasi Korupsi, Warga Laporkan Oknum Kepala Desa Ke Kejati Sumut

Komentar Facebook



Loading...
To Top