Nusantara

Dorong Sumatera Utara Aerotropolis 2024, HMI Sumut Gelar Seminar Nasional

PUBLIKA.CO.ID – Seminar Nasional dengan tema ‘Sumatera Utara Aerotropolis 2024, Bisa!!!’ digelar oleh Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bertempat di Digital Library Universitas Negeri, Sumatera Utara, Kamis (13/12).

Seminar Nasional tersebut dilakukan sebagai upaya menggelorakan kembali wacana konsep Aerotropolis di Sumatera Utara yang selama ini meredup.

“Konsepsi Aerotropolis bukan barang baru yang dimunculkan. Empat tahun yang lalu, ketika Bandara Kualanamu dibangun, rencana ini sudah ada,” kata Ketua Badko HMI Sumatera Utara Muhammad Alwi Hasbi Silalahi.

Dirinya menjelaskan, penting bagi masyarakat Sumatera Utara, khususnya generasi muda untuk mendorong konsepsi Aerotropolis sebagai langkah pembangunan nasional di provinsi terbesar ketiga indonesia tersebut.

“Selain pembangunan infrastruktur yang saat ini tengah berlangaung di berbagai wilayah di Indonesia, Aerotropolis akan menjadi solusi bagi perekonomian Sumatera Utara,” ujarnya.

Baca juga:  Lomba Menembak Kodam Iskandar Muda Jadi Ajang Siapkan Bibit Atlet PON 2020 Papua

Secara geografis, sambungnya, wilayah Sumatera Utara sangat strategis sebagai pintu gerbang perdagangan dunia. Secara sosiokultur potensi yang ada akan terkoneksi dengan adanya Aerotropolis di Bandara Kualanamu.

“Sumatera Utara ini gerbangnya Indonesia bagian Barat. Pengembangan sektor maritim seperti pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Seimangke dan jalan Tol menjadi modal menuju Aerotropolis pada tahun 2024,” ungkapnya.

Dirinya menilai konsepsi tersebut akan menjadi sumber pendapatan daerah jika dikelola dan disambut baik oleh pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Apalagi, tambahnya, status Kaldera di Danau Toba akan menjadi pusat wisata dunia yang akan berdampak pada perekonomian masyarakat di kawasan Danau Toba.

“Aneh kalau kita lihat saat ini, dengan status provinsi terbesar nomor tiga di indonesia, tapi APBD hanya Rp 15 triliun. Sangat jauh bila dibandingkan dengan DKI Jakarta yang sudah puluhan triliun,” tukasnya.

Baca juga:  Lomba Menembak Kodam Iskandar Muda Jadi Ajang Siapkan Bibit Atlet PON 2020 Papua

Hadir sebagai pembicara antara lain Direktur Komersil dan Pengembangan Bisnis PT Angkasapura II Daan Achmad, Anggota DPR RI Komisi III Hinca IP Pandjaitan, dan mewakili Rektor Universitas Negeri Medan hadir Wakil Rektor II Dr. Restu M.si.

Menurut Hinca Panjaitan berhentinya wacana pengembangan Bandara Internasional Kualanamu menjadi Aerotropolis disebabkan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan Sumatera Utara berkembang.

“Kualanamu tidak bisa di besarkan karena ada permainan mafia Singapura dan Malaysia. Karena sesungguhnya yang mengancam Bandara Kuala Lumpur dan Singapura adalah Bandara Kualanamu,” ungkapnya.

Dirinya berpendapat, prasyarat pengembangan Aerotropolis di Banda Kualanamu telah tepenuhi, baik dari sisi infrastruktur, budaya, pariwisata, maupun sumber daya manusia-nya.

Baca juga:  Lomba Menembak Kodam Iskandar Muda Jadi Ajang Siapkan Bibit Atlet PON 2020 Papua

“Kalau Bandara Kualanamu berkembang menjadi Aerotropolis, saya yakin bandara Singapura dan Malaysia akan tutup,” tegasnya.

Dari sisi ekonomi, sambungnya, Aerotropolis mampu peningkatan perekonomian Sumatera Uatara hingga 3000 persen. Sebut saja dari penjualan bahan bakar pesawat yang saat ini tersentral hanya di Singapura.

“Secara hitungan bisnis, Posisi Kualanamu sangat di untungkan. Pertama dari penjualan bahan bakar. Sebab dari jarak tempuh, pesawat jenis apapun yang terbang dari Eropa dan Afrika harus berhenti setelah 13 jam terbang. Sedangkan jarak tempuh ke bandara Kualanamu dari eropa dan afrika hanya 10 jam,” tandas Hinca.

Reporter: Muklis
Editor: Asmojoyo

Komentar Facebook



Loading...
To Top