Nusantara

Gara-gara Kampanye Negatif dari Eropa, Bisnis Sawit Indonesia Nyungsep

Dadang Darmawan Pasaribu (IST)

PUBLIKA.CO.ID – Dari pandangan akademisi Universitas Medan Area, Dadang Darmawan Pasaribu, kampanye hijau yang dilancarkan Unieropa menjadi salah satu aspek yang paling mempengaruhi pasar sawit Indonesia di dunia internasional.

Loading...

Komoditas sawit oleh Eropa dianggap sebagai salah satu yang berbahaya dalam pemanasan global. Pemanasan global menurut Eropa adalah kerusakan yang terjadi akibat penebangan dan pembakaran hutan.

Salah satu yang dianggap Eropa berbahaya adalah hutan-hutan tropis yang ada di lintasan garis ekuator atau khatulistiwa, apakah itu di Sumatra, Kalimantan, maupun di Brasil. Mereka adalah paru-paru dunia yang mau tak mau harus diselamatkan untuk mengurangi efek rumah kaca.

Itu sebabnya Eropa mengatakan, pembakaran hutan untuk kepentingan apapun menjadi ancaman bagi umat manusia. Itu juga menjadi alasan Eropa membuat proposal menyoroti sawit di Indonesia, yang pada 1980-an masih sekitar 400 ribu hektare, tetapi saat ini sudah mencapai 14 juta haktare.

Baca juga:  Demo Soal Tanah Di Sumut, Massa Sebut "Asing" dan "Aseng" Berkuasa

“Kita menjadi pemasok CPO terbesar di muka bumi, mengalahkan Malaysia. Kita menjadi satu-satunya negara yang paling memiliki kemampuan untuk memperluas lahan sawit karena topografi Indonesia yang cocok untuk sawit,” papar Dadang saat menjadi pembicara seminar perkebunan yang digelar Majelis Daerah (MD) Korps Alumni HMI (KAHMI) Kota Tebingtinggi, Rabu (19/12).

Karena itu, lanjutnya, bila ada peningkatan permintaan CPO untuk biofuel, maka Eropa membayangkan akan terjadi pembukaan lahan yang lebih luas dari 14 juta hektare tersebut. Itu sebabnya kampanye hijau mereka membawa konsekuensi bagi negara-negara eksportir CPO, tidak terkecuali Indonesia.

Baca juga:  Hanya Dapat Baju Bekas, Pembobol Kamar Kos Ini Terancam Tujuh Tahun Penjara

Bagi pemerintah dan pengusaha Indonesia, upaya Unieropa untuk menghijaukan wilayahnya justru dianggap bukan kampanye hijau. Namun dianggap sebagai kampanye dagang atau malah sebagai keinginan perang dagang dengan Indonesia.

Karena data-data pemerintah juga membuktikan bahwa Eropa juga ternyata membutuhkan sumber-sumber nabati yang tidak kalah besarnya, termasuk dari sawit.

“Ini yang menjadi persoalan kita selama hampir 10 tahun terakhir,” kata Dadang.

Kalau sekarang ada ISPO, terangnya, itu adalah upaya dari pemerintah Indonesia untuk melayani kebutuhan sawit Eropa yang lolos sertifikat mereka. Namun dia yakin, sampai kapanpun sertifikat itu tidak akan bisa lolos karena Eropa akan menolak sawit Indonesia, setidaknya sampai 2030.

Baca juga:  Pertamina Beri Pelatihan Pencegahan Penularan HIV

“Mungkin mereka akan mengalihkan kebutuhan bahan nabatinya ke sagu, kedelai, bunga matahari, atau sumber-sumber nabati yang lain,” sambungnya.

Yang paling mengerikan adalah, tutur Dadang, selama hampir 20 tahun terakhir, Indonesia sudah menggantungkan hidupnya pada sawit. Bahkan jumlah orang yang hidup dari sawit mencapai 20 juta jiwa.

“Jadi kalau pasar (sawit) ini tidak bisa kita jawab, kita akan kehilangan jutaan orang yang bekerja di sektor sawit,” ujarnya.(*)

Loading...

Komentar Facebook

To Top