Opinia

Arogansi Kuasa dan Otoritarianisme Tersembunyi: Ketika Manusia Dianggap (Jadi) Objek

Keterangan Foto: 2 Manusia Berpikir foto bersama.

Oleh: AT Arief

Loading...

PUBLIKA.CO.ID – Bukan tanpa resiko, di tengah kekalutan nalar dan selebrasi politicking, berfoto dengan seorang yg tengah populer. Bukan soal berfotonya, tapi ketika dipublikasi di medsos, ruang publik yg sering malah jadi predator etika publik itu sendiri.

Kembali, resiko apa? Ya, dianggap sebagai fans berat sang tokoh populer. Sekilas, anggapan ini tak bermasalah. Justru, di sini masalahnya. Masalahnya apa? Ketika ‘masalah sudah dianggap tak bermasalah’ lagi. Masalah sekali, itu nalar.

Mari pelan-pelan diurai. Dianggap sebagai fans, satu kesalahan cara berpikir meski kadar rendah.Tapi, kalau sampai dituduh komplotan penyebar kebencian, sungguh satu gagal berpikir dengan kadar polutan tingkat tinggi. Ujaran kebencian? Apa itu? Absurd sekali itu.

Baca juga:  Djarot di Pilgubsu: Dari Kasus Suket Sampai Bagi-bagi Duit

Kenapa saya sebut kekeliruan cara berpikir?

Pertama, anggapan dan tuduhan tadi mengandaikan bahwa manusia itu tak punya pikiran sendiri. Tidak punya pengalaman dan nalar aktif untuk menganalisis. Tak punya riwayat yg melatarbelakangi keberadaan dirinya hari ini sehingga dengan mudah ‘digiring’ keadaan atau orang lain. Pendek kata, manusia (apalagi, sudah dewasa) bukan subjek aktif.

Kedua, anggapan dan tuduhan tadi mencerminkan mental kuasa otoriter. Sungguh arogan, arogan sungguh. Sebab, mengandaikan manusia lain tak lebih dari objek properti. Ada kepemilikan atas orang lain itu dan ia (sadar atau tidak) merasa sebagai sang pemilik. Sebagai pemilik properti, ia merasa berhak memutuskan dengan siapa orang lain itu berinteraksi termasuk berfoto. Sampai di sini, tentu bisa dimengerti, otoritarianisme bersumber dari sesuatu yg laten (mentalitas) bukan soal tampilan luar yg bisa dipoles tim salon dan teknologi fotografi. Tim poles dan fotografi yg berbiaya mahal, tentu saja.

Baca juga:  Sumut Punya Poteni Besar Jadi Poros Maritim Dunia

Ini saya ceritakan karena baru saja dialami. Saya berfoto dengan Rocky Gerung pada Kamis (24 Januari 2016) lalu. Esoknya, saya posting di media sosial. Tak banyak komentar jelek, saya paham sebab teman seper-fesbuk- an mengerti betul etiket, praktiknya saya juga tak suka melampaui batas internet etiquette.

Sedikit berbeda di darat, setelah melihat foto dengan Rocky, ada beberapa yg menuduh saya pro Orba. Ah, Orba lagi! Lagu dan sulap lama menjelang konser Pemilu. Maksudnya apa, saya tak perlu repot cari tahu. Sebab, tuduhan ala partisan. Inilah realitas kontestasi perpolitikan kita. Praktik transpolitika ala idol-idolan budaya pop berjalinkelindan dengan hasrat kuasa tanpa kendali seni dan ilmu pengetahuan.

Baca juga:  Catatan Fans Razan : Setan Betul Prajurit Israel yang Menyarangkan Peluru di Dadamu, Dik

Haloha, Fellas! Saya bukan pohon pisang. You know what? Politik adalah The Art of Conveying Ideas not Gertak-gertak dan Intimidasi. Malu kita di hadapan peradaban Abad 21.

Medan, 20:02 WIB, Senin 28 Januari 2019.

*Penulis adalah Manusia Berpikir, sementara tinggal di Medan.

 

Loading...

Komentar Facebook

To Top