Editoria

Resensi Buku “Partai Islam No, Politik Islam Yes: Esai-Esai Pergulatan Islam Politik”

PUBLIKA.CO.ID – Dari sekian banyak akademisi, cendikiawan, hingga aktivis yang fokus pemikiran dan gerakannya adalah nilai-nilai ke-Islam-an, hanya beberapa saja yang berani menelaah, mengkritisi, dan memberi pengharapan besar tentang bagaiamana nilai-nilai tersebut diimplementasikan dalam politik.

Loading...

Kebanyakan dari sosok-sosok tersebut, cenderung mengikuti arus mainstream atau hanya sekedar diam jika implementasi yang terjadi di masyarakat justru tidak sesuai dengan nilai-nilai substansi ke-Islam-an. Apalagi di Sumatera Utara -yang alam berpikir masyarakatnya memiliki resistansi besar atas kritik terhadap hal-hal fundamental-, tokoh yang aktif mengeluarkan pemikiran dan gerakan ke-Islam-an hampir selalu mengikuti kehendak publik, bukan mengikuti kebenaran.

Buku “Partai Islam No, Politik Islam Yes: Esai-esai Pergulatan Politik Islam” terbit tahun 2019, karya seorang akademisi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) yang juga merupakan pengamat politik terkenal di Sumatera Utara, Faisal Riza, dapat digadang sebagai ‘pemecah arus deras’ mainstream tentang Islam politik selama ini.

Foto: Penulis Buku “Partai Islam No, Politik Islam Yes”, Faisal Riza.

Buku yang terdiri dari 5 bab (Pergulatan Islam Politik, Dilema Politik Islam, Desentralisasi Politik, Krisis Mandat, dan Politik Narsisme) dan 31 esai tersebut tidak sekedar diisi dengan opini-opini pribadi penulis. Sebaliknya, seluruh esai yang dirangkum dalam buku itu didasari oleh observasi penulis dan peristiwa politik lokal Sumut hingga nasional.

Baca juga:  Fiksi Mudik: Sebotol Cold Brew dan Kesepian di Hari Tua  

Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti berbagai kalangan, penulis sukses memberikan analisis yang sangat luas tentang situasi Islam politik, kepemimpinan sosok Islam dalam politik, hingga visi tentang masa depan peradaban politik Indonesia.

Penulis juga berani mempertanyakan dan memberi analisis mengapa upaya menjadikan Islam sebagai arus utama di ruang publik justru tidak terlihat di partai-partai Islam. Penulis juga membahas secara gamblang tentang kecenderungan lemahnya kaum muslim untuk mendukung partai politik Islam.

Baca juga:  Dadang Jadi Wali Negeri

Analisis tentang etika pengelolaan kekuasaan yang disajikan penulis dalam buku tersebut akan membawa para pembaca dapat menyadari bahwa konflik kepentingan dan perebutan kekuasaan menjatuhkan kredibilitas agama sebagai sumber moral.

Tidak banyak akademisi ataupun cendikiawan Islam yang sebelumnya menciptakan kajian yang dalam tentang fenomena tersebut. Bahkan tak jarang juga upaya untuk mengkaji hal itu dianggap sebagai hal yang tabu.

Baca juga:  Fiksi Mudik: Sebotol Cold Brew dan Kesepian di Hari Tua  

Dapat disimpulkan bahwa penulis mengajukan hipotesis bahwa saat ini partai-partai Islam tidak memberi banyak kontribusi, baik bagi negara maupun bagi kaum muslim itu sendiri. Sebaliknya, penulis mengajak para pembaca untuk menjadikan politik Islam sebagai dasar pemikiran dan pergerakan dalam membangun peradaban Indonesia yang lebih baik ke dapan.

Buku ini akan menjadi bahan yang sangat menarik, menginspirasi, dan menjernihkan penglihatan kita dalam melihat dan memahami pergulatan Islam politik yang terjadi selama ini.

Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook

To Top