Opinia

Refleksi 72 Tahun HMI : Walau Sudah Tua Tak Wajar Kita Sakit

Oleh: Wahyu Panjaitan

Loading...

PUBLIKA.CO.ID – Menghitung hari, pada 5 Februari 2019 mendatang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) akan memasuki usianya yang ke 72 tahun, bukan usia muda lagi untuk sebuah organisasi mahasiswa.

Kelahiran HMI yang digagas oleh anak muda energik, ayahanda Lafran Pane, salah seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam Yokyakarta dan kawan-kawan pada 5 Februari 1947 adalah awal dari gerakan dan perjuangan yang disepakati secara bersama demi kepentingan ummat dan bangsa.

Pada awal berdirinya HMI, penderitaan dan kesengsaraan sudah dirasakan, bukan hanya penderitaan secara fisik namun penderitaan yang dirasakan HMI secara politik juga sangat besar. Penderitaan dan kesengsaraan yang demikian besar dirasakan HMI tak lantas membuat HMI sakit secara intelektual dan sakit secara politik, saat itu HMI sebagai organisasi mahasiswa mampu membuktikan dan menjawab persoalan-persoalan kebangsaan dan keummatan dengan nilai-nilai intelektual dan kebersamaan. HMI telah mampu melahirkan kader-kader cerdas dan cakap dalam segala hal ditengah-tengah gejolak kebangsaan saat itu, hingga HMI dinobatkan oleh Jenderal Sudirman sebagai “Harapan Masyarakat Indonesia”.

Semangat gotong royong, kebersamaan dan satu penderitaan adalah sahabat terdekat dalam setiap tubuh kader HMI,dan sahabat itu selalalu dibawa dan diimplementasikan dengan nilai-nilai Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan. Gerakan dan perjuangan yang dilakukan oleh kader HMI saat itu semata-mata hanya untuk kepentingan ummat, bangsa dan negara, lain dari itu tidak ada.

Namun kesehatan intelektual dan kesehatan politik masihkah kita temukan pada tubuh kader HMI, atau mungkin sudah sakit karena tertelan usia?

Baca juga:  Hardiknas: Antara Ekspektasi Dan Realita

72 tahun memang bukan usia yang muda, namun tua tak lantas membuat kita sakit. Merawat dan menjaga secara ekstra adalah cara hebat agar kita bisa selalu sehat dan bersemangat, rawat dan jaga nilai-nilai Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan, rawat dan jaga nilai intelektual, rawat dan jaga semangat gotong royong, kebersamaan dan kemajemukan, rawat dan jaga persaudaraan, rawat dan jaga keharmonisan dan kerukunan.

HMI Dan Penyakit Moral

Sekarang ini, banyak suara-suara miring yang diperdengarkan oleh orang lain, kelompok lain dan masyarakat pada umumnya tentang permasalahan moralitas kader HMI yang diduga telah berjalan keluar dari garis-garis humanitas yang sejati. Permasalahan etika dan moralitas kader HMI menjadi peyakit yang sangat mendasar di tubuh HMI. Kualitas moral yang semakin rendah dari kondisi yang kecil hingga ke kondisi yang besar mengakibatkan terhambatnya kemajuan HMI hingga berakibat tak mampu memberikan sumbangan gagasan dan pemikiran pada kemajuan bangsa Indonesia. Tak perlu kita malu untuk mengakui itu, etika dan moral kita kini sudah jauh dari nilai-nilai islam dan jauh dari nilai pancasila. Tak jarang kita temui tindakan amoral yang selalu singgah pada diri kader HMI. Kita tak akan mampu membangun bangsa ini tanpa memperbaiki etika dan moralitas kita terlebih dahulu.

HMI Dan Penyakit Kekuasaan

Kekuasan salah satu penyakit yang dari dulu hingga kini merusak hampir disegala sel-sel tubuh kader HMI, penyakit yang demikian sudah merasuk dalam tubuh kader HMI mulai dari tingkatan Komisariat hingga pada tingkatan PB. Hasrat ingin menguasai dan ingin berkuasa dari yang lain adalah salah satu karakter kader HMI, nyaris seluruh kader HMI memiliki karakter demikian. Demi kekuasaan dan keinginan berkuasa, hampir semua dari kita menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan, melupakan syair Hymne HMI “Turut Qur’an dan Hadist” dan melupakan semangat persatuan dan persaudaraaan. Konflik hingga perang berdarah hanya karena perbedaaan pilihan politik pada RAK, Konferensi Cabang, Musda Badko dan Kongres HMI sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa kita anggap, kebersamaan dan semangat perjuangan tak kita hiraukan lagi, semua itu hanya karena ingin kekuasaan dan berkuasa. Dinamika yang harusnya kita anggap dan kita jadikan sebagai proses pembentukan leader itu hanya kita dengar pada forum-forum training samata, pada kenyataannya kita selalu bermusuhan dan mencaci maki hanya karena kekuasaan. Dualisme pada kepengurusan itu sudah biasa kita lakukan dan tak permah kita berfikir dampak dari hal demikian, demi kekuasaan dan hasrat ingin berkuasa, membuka aib saudara seperjuangan juga kita halalkan dalam setiap kompetisi HMI, bahkan perang berdarah sesama kita juga kita jadikan salah satu cara untuk merebut kekuasaan di HMI, padahal kita selalu mendengungkan penindasan kita haramkan dan berpihak pada orang-orang tertindas (Mustadh’afin) adalah keharusan.

Baca juga:  Membangun Sumut Mulai Dari Desa

Megutip syair puisi Ws. Rendra, “Apalah atrinya berfikir bila terpisah dari masalah kehidupan”, syair itu mumgkin pantas untuk HMI saat ini, sikap apatis dan cenderung tidak mau tau dengan kondisi sosial rakyat Indonesia telah dipertontonkan oleh hampir seluruh kader atau alumni HMI, baik yang saat ini berada dilingkaran pemerintah maupun yang masih berada di struktur kepengurusan HMI. Apatis dan tidak mau tau tentang kondisi sosial, ekonomi, keamanan dan tindak kriminal kini sudah menjalar pada tubuh kita, seakan kita bangga dengan semua itu. Kita tak pernah hiraukan lagi, selagi tak memberikan keuntungan secara pribadi, baik keuntungan finansial maupun keuntungan jabatan kita tak ingin memandang persoalan itu, kita sudah lupa bahwa kita terlahir dari rahim ummat dan bangsa. Seminar-seminar nasional dan dialog publik yang kita selenggarakan hanya sebatas ceremonial dan dijadikan sebagai proyek demi keuntung pribadi maupun kelompok. Kita lupa bahwa kita terlahir hanya untuk berjuang bersama dan maju bersama.

Baca juga:  Tanpa Messi dan Ronaldo, Masih Layakkah El Clasico Ditonton?

Selamat Milad HMI yang Ke-72, Layaknya manusia, jika dijaga dengan baik penyakit pada tubuh tak akan hadir, begitu juga pada HMI, walau sudah tua tak wajar kita sakit, jaga dan rawat kesehatan Intelektual, jaga dan rawat kesehatan Politik, jaga dan rawat kesehatan Ke-Islaman dan kebangsaan, jaga dan rawat kesehatan Independensi, jaga dan rawat persaudaraan.

*Penulis Adalah Ketua Bidang Agraria dan Kemaritiman Badko HMI Sumut Perilde 2018-2020

Loading...

Komentar Facebook

To Top