Serbaneka

Sakit Gigi, Cabut atau Pertahankan?

Ilustrasi Sakit Gigi/Pencarian Google

Oleh: Prof. Trimurni Abidin, drg., Sp.KG (K) dan Drg. Dendy Dwirizki Gunawan

Loading...

PUBLIKA.CO.ID – Dewasa ini, pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi serta rongga mulut  sangat bervariasi. Umumnya, masyarakat perkotaan akan lebih sadar dan tahu tentang cara-cara menjaga kesehatan gigi dan mulut dibandingkan masyarakat di pedesaan atau daerah perifer.

Bahkan tak jarang, masyarakat perkotaan akan lebih kritis kepada dokter gigi ketika berada di Dental Unit tentang kondisi rongga mulutnya dan rencana perawatan yang akan dilakukan. Namun, di balik tingkat pengetahuan yang setiap saat semakin meningkat di kalangan masyarakat, tetap saja ada keterbatasan informasi mengenai alternatif-alternatif perawatan gigi ketika terjadi masalah pada gigi.

Alasan terbesar masyarakat atau pasien mengunjungi praktik dokter gigi adalah karena gigi berlubang dan sakit. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (RIskesdas), prevalensi lubang gigi (karies) di Indonesia tahun 2013 meningkat hingga 53,2% dari 43,4% tahun 2007. Adanya lubang gigi (karies) akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan penurunan kualitas hidup masyarakat (Agustina D dkk, 2018).

Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan di China yang menyatakan bahwa alasan pasien berkunjung ke dokter gigi adalah karena mengalami sakit gigi, dibandingkan untuk melakukan check-up rutin dan scaling (pembersihan karang gigi). Lantas pertanyaan selanjutnya, sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang alternatif perawatan ketika mengalami lubang dan sakit gigi?

Kebanyakan masyarakat akan menjawab, pencabutan adalah perawatan yang tepat ketika mengalami sakit gigi. Jawaban tersebut bisa saja tepat, dan bisa juga kurang tepat. Mengapa kurang tepat? Dalam beberapa kasus, pencabutan gigi yang diambil sebagai solusi pertama dari gigi yang berlubang atau sakit akan menyebabkan efek domino pada kesehatan rongga mulut pasien.

Baca juga:  Melalui Sains, Arul Prasad Mampu Meramal Nasib Seseorang

Sebagai contoh, pencabutan gigi yang tidak dilanjutkan dengan pemasangan gigi tiruan dapat menyebabkan perubahan posisi (drifting) gigi yang masih ada, kemudian memicu terjadinya perubahan relasi gigi geligi rahang atas dan bawah, bahkan tak jarang berujung pada permasalahan sendi rahang (Temporo-Mandibular Disorder). Bisa kita bayangkan, hanya karena satu buah gigi yang dicabut, dapat menyebabkan timbulnya masalah – masalah lain pada sistem stomatognatik, yaitu kesatuan sistem pengunyahan yang terdiri dari sendi temporomandibular, otot pengunyahan dan gigi geligi.

Perkembangan teknologi mengakibatkan berbagai terobosan mutakhir di berbagai bidang, salah satunya perawatan di kedokteran gigi. Jika dulu gigi yang sakit tinggal menunggu “ajal” datang dan dengan segera lenyap dari rongga mulut alias dicabut, lain halnya di zaman sekarang ini, gigi yang sakit masih dapat diselamatkan dan dipertahankan berada di dalam rongga mulut. Namun, perkembangan teknologi dan bahan ini akan menjadi sia-sia jika pemahaman masyarakat masih minim tentang alternatif penanganan gigi yang sakit dan berlubang.

Perawatan Saluran Akar, begitu sebutannya untuk alternatif perawatan selain pencabutan gigi pada gigi yang sakit dan berlubang. Perawatan Saluran Akar (PSA) adalah tindakan/perawatan medis yang dilakukan pada gigi yang mengalami infeksi pada jaringan saraf gigi dengan tujuan untuk mempertahankan gigi selama mungkin di rongga mulut. Adapun jaringan saraf gigi yang disebut pulpa merupakan jaringan lunak yang berada di dalam saluran akar gigi. Jika terjadi infeksi pada pulpa tersebut yang tidak segera ditangani, maka dapat menyebabkan infeksi merambat ke jaringan periapeks yang sering muncul dalam bentuk abses (nanah) pada gusi.

Secara garis besar, prosedur perawatan saluran akar dilakukan dengan membersihkan jaringan-jaringan yang terinfeksi yang berada di saluran akar, kemudian mengisi saluran akar dengan bahan yang kompatibel dan terakhir dilakukan penambalan (baik direct atau indirect) pada gigi. Dengan adanya perawatan ini, maka pencabutan gigi seharusnya menjadi alternatif terakhir ketika gigi sudah tidak bisa lagi dipertahankan.

Baca juga:  Penghuni Rutan Tanjunggusta Gelar Perayaan Deepavali

Hal ini selaras dengan proyeksi dari World Health Organization (WHO) terhadap kesehatan rongga mulut dan hubungannya dengan kualitas hidup atau yang dikenal dengan Oral Health-Related quality of life (OHRQoL). OHRQol sendiri merupakan sebuah konsep multidimensional tentang pentingnya kesehatan mulut terhadap berbagai aktifitas dan kualitas hidup manusia seperti kenyamanan pasien ketika makan, tidur dan berinteraksi dengan sesama; kepercayaan diri mereka dan kepuasan mereka terhadap kesehatan mulutnya. Karies atau kehilangan gigi dapat menjadi momok bagi masyarakat dunia yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat.

Sesuai dengan target WHO untuk menurunkan bahkan meniadakan karies gigi, kehilangan gigi, anomali gigi, dan kasus lainnya pada tahun 2020 (Global goals for oral health 2020), maka Perawatan Saluran Akar adalah salah satu solusi untuk mencapai target tersebut. Bahkan dalam bidang kedokteran gigi sendiri, sudah ada cabang ilmu yang khusus untuk mempelajari dan memperdalam tentang perawatan saluran akar ini, di Indonesia cabang ilmu ini disebut Konservasi Gigi, sedangkan di luar negeri dikenal dengan sebutan Endodontics.

Sebagaimana perawatan/tindakan medis lainnya, PSA memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari PSA adalah pasien dapat tetap mempertahankan gigi di rongga mulut untuk jangka waktu yang lebih lama, hilangnya rasa sakit pada gigi setelah dilakukan PSA, serta dapat meningkatkan kualitas hidup pasien karena masih memiliki gigi asli. Kekurangan PSA yaitu waktu perawatan yang relatif lebih panjang serta biaya yang lebih tinggi dari pencabutan. Namun jika kita mau mempertimbangkan, jumlah kunjungan perawatan PSA sebenarnya sama saja jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan perawatan apabila dilakukan pencabutan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan gigi tiruan/palsu. Bahkan seiring dengan perkembangan bahan kedokteran gigi, saat ini sudah sangat memungkinkan untuk melakukan perawatan saluran akar dalam satu kali kunjungan. Dan untuk permasalahan biaya, cost yang kita keluarkan ketika gigi sudah dicabut dan akan digantikan gigi tiruan (rehabilitatif) tentunya akan lebih tinggi dibandingkan biaya perawatan saluran akar (kuratif).

Baca juga:  Ojek Online Blak-blakan Soal Ketatnya Peraturan Berkendara

Tingkat keberhasilan PSA tergolong sangat tinggi, dalam penelitian yang dilakukan di Brazil, didapatkan tingkat keberhasilan perawatan saluran akar sebesar 94%. Penelitian lainnya di Inggris memaparkan angka keberhasilan perawatan saluran akar sebesar 86%. Hal ini tentu dapat memberikan pemahaman dan kepercayaan kepada masyarakat atau pasien bahwa perawatan saluran akar tak perlu menjadi momok yang perlu dikhawatirkan.

Jika saat ini sudah ada perawatan yang dapat merawat dan mengembalikan fungsi gigi asli ketika gigi tersebut sakit, bukankah lebih baik mempertahankan daripada harus langsung melakukan pencabutan? Sebab bagaimanapun, ada atau tidaknya gigi asli di dalam rongga mulut dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kualitas kesehatan seseorang. Masyarakat tidak perlu lagi khawatir akan kehilangan gigi jika gigi mengalami sakit. Akhirnya, sampailah kita pada pertanyaan terakhir di tulisan ini, jika Anda sakit gigi, Anda pilih cabut atau pertahankan?

 

Dendy Dwirizki Gunawan adalah dokter gigi, aktivis, dan penulis di Sumatera Utara. 

Loading...

Komentar Facebook

To Top