Opinia

Film Sexy Killers Bukan Tentang Pilpres, Ini Tentang Kita Semua!

Oleh: Fajar Siddik

Loading...

PUBLIKA.CO.ID – Bukan karena film dokumenter berdurasi 1 jam 28 menit di channel YouTube Watchdoc Image itu, dirilis beberapa hari sebelum Pilpres 2019 dihelat. Banyak orang yang menghubungkan film Sexy Killers dengan pilpres -misalnya, menilai film tersebut adalah upaya mengajak masyarakat untuk golput-, lebih karena orang-orang tersebut masuk terlalu dalam ke perdebatan-perdebatan kusir, percakapan- percakapan yang tidak substansial dan tidak produktif tentang praktik demokrasi (katanya) terbesar itu.

Sesungguhnya film berjudul Sexy Killers tersebut, sama sekali tidak menjadikan pilpres sebagai tema utama. Pilpres hanya menjadi momentum yang tepat bagi film tersebut untuk menarik perhatian banyak orang. Dengan diperhatikan oleh setiap orang yang sedang terpolarisasi antara dua kubu pada pilpres, penyampaian makna melalui berbagai tanda dalam film Sexy Killers akan lebih efektif.

Namun banyaknya penilaian negatif dari kedua kubu di pilpres sekaligus menyimpulkan bahwa, upaya menyampaikan makna-makna penting melalui film dokumenter yang “menghabisi” para elit penguasa tambang batubara tidak semudah yang dibayangkan, bahkan mungkin oleh produser dan sutradaranya sekalipun. Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru dan tidak hanya menimpa film Sexy Killers saja. Banyak film-film atau produk komunikasi lainnya, yang maknanya gagal dipahami oleh banyak orang.

Sebaliknya, hal itu sangat wajar terjadi. Sebab, dimana pun, interpretasi terhadap film ataupun karya kritis lainnya sering didasari oleh orientasi nilai dan wawasan penontonnya. Bahkan dalam riset-riset semiotika dan budaya, terdapat dua prinsip fundamental ketika orang-orang mencoba menginterpretasikan sesuatu, yaitu tak ada satu pun yang diinterpretasikan secara netral, dan makna tidak bisa dipaksakan.

Baca juga:  Sumut Punya Poteni Besar Jadi Poros Maritim Dunia

Oleh karena itu, melalui tulisan ini –bagi siapapun yang membacanya-, perlu ditegaskan bahwa film Sexy Killers tidak mutlak salah hanya karena ada penilaian negatif. Begitupun sebaliknya, film tersebut tidak mutlak benar  karena respon positif penontonnya. Lebih jauh dari sekedar penilaian, penting bagi kita semua untuk mencoba menggali makna-makna yang terpendam.

Berbeda dengan banyak ulasan, tulisan ini berniat untuk melepaskan prasangka banyak orang bahwa film Sexy Killers adalah upaya mengajak masyarakat untuk golput. Lebih umum, ingin melepaskan prasangka bahwa film ini adalah tentang dan karena pilpres.

Kebanyakan makna penting di balik film dokumenter yang sedang menjadi trending di YouTube itu adalah masalah-masalah klasik, sudah atau sedang terjadi sejak kita belum mengenal demokrasi. Salah satu contohnya yaitu manusia adalah perusak ulung.

Setiap manusia waras pasti menyadari bahwa lingkungan yang baik dan bersih adalah kebutuhan paling penting dalam kehidupan.  Namun motivasi untuk “mencapai lebih” menjadikan banyak dari kita melupakan hal itu. Tidak sesuai prosedur negara, apalagi prosedur alam, banyak manusia yang ingin “mencapai lebih” mengorbankan lingkungannya. Sebagian besar lingkungan dirusak demi mencapai keinginan pribadi dan kelompoknya.

Baca juga:  Refleksi 72 Tahun HMI : Walau Sudah Tua Tak Wajar Kita Sakit

Di dalam film, tambang batu bara dan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) adalah “sexy killers” yang dimaksud. Film tersebut berulang kali menyampaikan tanda-tanda bahwa proyek penambangan batu bara dan PLTU memiliki pesona yang besar untuk masyarakat dalam memenuhi keinginan-keinginannya, sekaligus menyampaikan bahwa banyak orang-orang yang sudah dan sedang terbunuh karenanya.

Lalu, banyak orang setelah menonton film Sexy Killers menyampaikan nada sinis melalui berbagai jenis media sosial, “kalau gak ada tambang batu bara dan PLTU,  kita gak bisa punya listrik”.

Mari kita maknai lebih dalam, film tersebut sejatinya tidak menyalahkan tambang batu bara dan PLTU, apalagi energi listrik yang saat ini memberikan banyak manfaat untuk kehidupan kita. Tonton ulang dan kita akan menemui suatu makna penting, bukan tambang batu bara dan PLTU yang sudah dan sedang membunuh lingkungan hidup di sekitarnya, tapi ketamakan pengusaha-pengusaha dan penguasa-penguasa yang berada di baliknya.

Berulang kali film tersebut memunculkan tanda, bahwa pengusaha yang berdiri pongah di baliknya menjalankan bisnis tambang batu bara dan PLTU tidak sesuai  prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur-prosedur yang jika dijalankan, akan memberi kompensasi sebanding untuk lingkungan hidup yang terdampak. Para pengusaha-pengusaha yang dikuak identitasnya oleh film tersebut membiarkan bisnisnya berjalan dengan  merusak dan membunuh lingkungan hidup.

Baca juga:  Ramadhan Dan Kopi

Begitu pun dengan penguasa-penguasa, baik di daerah tambang batu bara dan PLTU maupun nasional, seakan “mendiamkan” saja bisnis “sexy killers” itu berjalan dengan mengangkangi prosedur dan membunuh lingkungan hidup di sekitarnya. Wajar saja, sebab merunut suatu bagan yang ditampilkan film tersebut, pengusaha dan penguasa saling mengisi, berkolaborasi dan melengkapi.

Di samping itu, film Sexy Killers juga menyampaikan tanda bahwa manusia memang sulit berdamai dengan kecenderungannya untuk membunuh lingkungan hidup.  Banyak orang-orang yang enggan peduli -meski menyadari- dengan kelangsungan hidup berbagai jenis lingkungan hidup, jika itu tidak secara langsung mengganggu hidupnya.

Film dokumenter yang merupakan satu rangkaian dari proyek sosial Ekspedisi Indonesia Biru itu bukan sekedar tentang pilpres, bukan juga tentang ajakan untuk golput. Terlepas dari berbagai kontroversi dan teori konspirasi yang ada, Sexy Killers merupakan film dokumenter terbaik yang pernah dibuat oleh anak bangsa. Film yang sangat berani, kritis, dan penuh resiko bagi orang-orang yang terlibat dalam produksinya itu adalah tentang memberikan tanda-tanda bahwa kita semua sedang berlomba menuju kepunahan.

Penulis adalah penulis dan aktivis yang berdomisili di Deliserdang, Sumatera Utara.

Loading...

Komentar Facebook

To Top