Nusantara

Driver GOJEK Gruduk Kantor Perwakilan Medan, Tuntut Hapus Sistem Prioritas

foto: istimewa

PUBLIKA.CO.ID, MEDAN- Ratusan pengemudi ojek online Gojek di Medan mendatangi kantor perwakilan Gojek Medan, di Komplek CBD Polonia, Selasa (13/8). Kedatangan mereka menuntut manajemen Gojek untuk segera menghapus sistem prioritas yang dinilai tidak adil bagi para drivern

Loading...

“Kami menuntut kepada manajemen (Gojek) untuk menghapus sistem prioritas, karena sistem ini salah dan sangat tidak adil,” ujar Koordinator Gojek Daerah Medan (Godam), Agam Zubir.

Menurut dia, sistem prioritas ini adalah ‘Sistem Jagger’ karena hanya dinikmati oleh 20 persen driver pilihan Gojek yang ada di Medan atas order yang diterima, sehingga pencapaian bonus mereka maksimal.

“Kami, bagian dari 80 persen driver Gojek lainnya di Medan hanya menjadi penonton. Kami cuma menyaksikan driver-driver yang menjadi prioritas mendapatkan order, dan bonus kami dari pencapaian target tidak maksimal didapat,” terangnya.

Diutarakan Agam, setengah dari target bonus yang telah ditetapkan aplikator sangat sulit dicapai. Oleh karena itu, sistem ini jelas berdampak buruk yaitu dampak sosial yang begitu tinggi antara driver sendiri.

Baca juga:  Wah, Eksepsi Terdakwa Eks Wakapolres Lombok Tengah Terdakwa Pembunuhan Adik Ipar Ditolak

“Sistem prioritas ini adalah pembodohan bagi kami, sistem ini dibuat untuk adu domba. Selain itu, sistem ini juga hanya kambing hitam dan tameng untuk menutupi kelemahan atau kekurangan dari manajemen Gojek atas berkurangnya pelanggan. Sampai saat ini, tidak ada program yang jelas dibuat oleh manajemen Gojek untuk menciptakan order-order baru,” paparnya.

Kata Agam, dampak dari diberlakukannya sistem ini sudah termasuk dalam kejadian luar biasa (KLB). Situasi ini telah berjalan 6 bulan terakhir semenjak kepemimpinan Gojek Medan ditangan Aditya Pranata.

“Kedatangan kami ini merupakan klimaks atas penderitaan yang dialami selama beberapa bulan tersebut. Aksi ini tidak langsung dilakukan seketika, namun sudah beberapa kali mediasi dilakukan dengan pihak manajemen. Namun tetap juga tidak dipenuhi oleh manajemen untuk menghapus sistem prioritas tersebut. Kalau tidak dipenuhi juga tuntutan kami, maka akan kami segel kantor ini (Kantor Gojek Medan),” ungkapnya.

Agam menegaskan, dalam aksi ini juga pihaknya menuntut hak mereka dan pertanggungjawaban manajemen yang telah meng-anakemaskan driver-driver rekrutan atau driver eksklusif. “Kami semua yang ikut aksi ini akunnya ‘gagu’. Artinya, akun kami aktif tetapi sulit menerima order akibat dampak sistem prioritas. Manajemen terus menerima driver baru secara diam-diam untuk menutupi target-target yang ada,” tegasnya.

Baca juga:  Bocah 9 Tahun Yang Hanyut Di Sungai Denai Ditemukan Tak Bernyawa

Dia mengatakan, sistem yang dibuat ini janjinya memberikan kenyamanan bagi para driver. Namun kenyataannya yang dirasakan malah sebaliknya. Sistem ini hanya menyebabkan timbulnya konflik sesama driver.

“Sistem tersebut sama dengan sistem pilihan kepada driver-driver tertentu yang dimata manajemen layak, sedangkan kami dituduh sebagai driver pemalas. Jadi, kami minta sistem ini dihapuskan atau ditinjau kembali agar pemerataan order dapat dinikmati seluruh driver Gojek yang ada di Medan khususnya,” ucapnya.

Senada disampaikan, koordinator lapangan, Iskandar Zulkarnain Siregar, sistem prioritas harus secepatnya diganti dengan sistem order yang lebih merata dan berkeadilan. “Kami keluar jam 8 pagi dan mencari order sesuai arahan manajemen untuk mencari penumpang, tetapi sulit dapat order. Jadi, kami tidak butuh iming-iming, tapi yang kami butuh pemerataan order karena keluarga kami butuh makan,” bebernya.

Baca juga:  Liontin Evangelina Rebut Posisi Tiga Kejuaraan Balap Sepeda Asia di Bahrain

Setelah satu jam lebih berorasi, aksi driver diterima perwakilan manajemen Gojek Medan. Namun massa tetap menolak dan meminta agar aksi tersebut ditanggapi langsung oleh Aditya Pranata. Lantaran massa terus mendesak, akhirnya aksi masa dipenuhi dan Aditya mau menemui massa.

Ketika menanggapi tuntutan massa di atas mobil dari para pengunjuk rasa, tidak banyak disampaikan Aditya. Namun, dia berjanji akan memperbaiki sistem yang ada. “Kami minta waktu tiga hari untuk membenahi sistem ini,” ujar Adit yang kemudian kembali masuk ke dalam kantor dengan dikawal ketat petugas kepolisian.

Mendapat tanggapan tersebut, massa masih merasa tidak puas sehingga tetap bertahan. Massa meminta apa yang disampaikan dan dijanjikan Aditya dibuat tertulis dengan ditempel materai. Namun, tuntutan massa tidak dipenuhi dengan alasan tidak memiliki kewenangan. Massa pun kecewa dan sempat memaksa bertahan. Namun demikian, secara berangsur-angsur massa yang kecewa akhirnya memilih membubarkan diri dan menunggu tiga hari sesuai yang dijanjikan. (*)

Loading...

Komentar Facebook

To Top