Ingatkah Anda dengan Legenda PSMS Ini? Begini Nasibnya Kini yang Bakal Bikin Ternganga

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

MEDAN – Aksi demonstrasi yang digelar Forum Keadilan Masyarakat Tani dan Pesantren di luar gerbang Kantor DPRD Sumut Jalan Imam Bonjol, Senin (20/3/2017), menyisahkan cerita tersendiri.

Loading...

Di tengah kerumunan massa, tampak sesosok lelaki berbadan tinggi bernama Jamaluddin Hutauruk. Lelaki yang akrab disapa Jampi ini tampak membaur dengan para pendemo.

 

Bagi para pecinta sepak bola nasional, nama Jamaluddin Hutauruk tentunya tak terdengar asing. Ia adalah mantan penjaga gawang andalan PSMS Medan pada era 80-an. Namanya sangat legendaris di era perserikatan.

“Itu dulu,” ujar Jampi sembari tersenyum.

Penjaga gawang kesebelasan PSMS Medan, Jamaludin Hutauruk, dalam Pertandingan Final Sepak Bola Kejuaraan 6 Besar Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melawan kesebelasan Perseman Manokwari, di Stadion Utama, Jakarta, 1985.
Penjaga gawang kesebelasan PSMS Medan, Jamaludin Hutauruk, dalam Pertandingan Final Sepak Bola Kejuaraan 6 Besar Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) melawan kesebelasan Perseman Manokwari, di Stadion Utama, Jakarta, 1985. (IST)

Meski pernah terkenal, Jampi tetap menunjukkan sikap bersahaja. Lelaki yang kini berusia 60 tahun itu juga tampak ringan menebar senyum.

Penampilannya pun cukup sederhana dengan kemeja berwarna abu-abu dan celana panjang berwarna hitam. Tak terlihat kesan mewah layaknya mantan bintang pesepak bola.

Jampi sudah lama gantung sepatu dari dunia sepak bola meski juga sempat menjajal nasib sebagai seorang pelatih.

Jamaluddin Hutauruk alias Jampi, kiper legendaris PSMS Medan era Perserikatan tahun 1980-an.
Jamaluddin Hutauruk alias Jampi, kiper legendaris PSMS Medan era Perserikatan tahun 1980-an. (Tribun Medan/Nanda)

Keputusannya ini diambil lantaran jenuh dengan kondisi persepakbolaan yang tak kunjung membaik di negeri ini.

Saat ini, Jampi mengatakan tengah fokus berkegiatan dalam Forum Keadilan Masyarakat Tani dan Pesantren.

“Kita bosan juga lihat bola ini banyak kali ributnya,” ujar legenda PSMS ini.

Sumber: Tribunnews.com

Loading...

Komentar Facebook