Tim IRS dan Kelambu Diandalkan untuk Eliminasi Malaria di Timika

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Timika, Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Timika. Nah, di tahun 2013 dibentuklah Malaria Center yang diharap bisa membantu mengurangi angka kesakitan malaria.

Loading...

Supervisor Malaria Center, Iswandy mengatakan kegiatan eliminasi malaria di Timika yang dilakukan Malaria Center di antaranya melakukan penyemprotan di rumah yakni Indoor Residual Spraying (IRS) dan pemasangan kelambu. Iswandy mengungkapkan IRS dilakukan dengan menyemprot insektisida di mana nanti residunya akan menempel di dinding.

Nah, dikatakan Iswandy nyamuk memiliki kebiasaan menempel di dinding. Ketika ada residu insektisida di dinding dan nyamuk menempel, nyamuk akan mati. Dengan begitu, terjadi pemutusan rantai penularan.

“Di tahun 2014 ada penurunan pasien malaria sebanyak 53 persen RS Mitra Masyarakat. Sampai sekarang kita melakukan IRS, mengcover 21.405 rumah,” tutur Iswandy saat ditemui di Malaria Center, Timika, Papua, Rabu (22/3/2017).

Proses IRS, lanjut Iswandy pastinya memiliki efek. Tapi, meski berdasar SOP warga dibolehkan masuk dan membersihkan rumah setengah jam setelah penyemprotan. Namun, tim IRS menyarankan warga baru masuk ke rumah 1 jam setelah penyemprotan. Iritasi kulit bisa saja terjadi tapi itu tergantung tingkat sensitivitas si orang tersebut.

Di tahun 2016, penyemprotan dilakukan pada lebih dari 21 ribu rumah dan tahun ini, ditargetkan penyemprotan di 27 ribu rumah. Meski demikian, penolakan rumahnya disemprot juga dilakukan warga tapi proporsinya tak sampai 10 persen. Dalam pelaksanaannya, IRS juga terhambat musim. Ketika musim hujan, maka penyemprotan tidak bisa dilakukan karena warga tidak dapat keluar rumah.

Tim IRS dan Kelambu Diandalkan untuk Eliminasi Malaria di Timika
Foto: Radian

Soal pasang kelambu, itu pun tak sekadar didistribusikan saja karena sekaligus dicontohkan. Pasalnya, ketika hanya diberi, kelambu justru tidak digunakan masyarakat atau malah digunakan untuk kegiatan lain seperti menjaring ikan. Kegiatan lain untuk memberantas malaria yakni dengan melakukan sosialisasi door to door dan melakukan tes darah pada anak sekolah yang kemudian, jika hasil tes darah positif ada parasit malaria, anak diberi obat sesuai dengan usia dan berat badannya.

“Pemasangan kelambu, tahun lalu mencapai 18 ribu yang dibagikan. Nggak ada kriteria rumah tertentu yang dapat kelambu. Tiap tahun kita kontrol misalnya ada yang rusak kita kasih yang baru, kalau di kontrakan, penghungi sebelumnya pindah, kita kasih penghuni barunya kelambu. Tapi kalau kelambunya masih layak ya tetap dipakai terus,” tutur Iswandy.

Petugas IRS kini berjumlah 45 orang di mana 40 sebagai penyemprot, 3 tim medis dan 2 petugas di kantor.

“Masalah kesehatan terbesar di Timika masih malaria. Kita ingin sektor swasta juga mensupport melalui kemitraan dan menggandeng tiap pihak terutama swasta lain untuk bergabung. Di Malaria Center yang posisinya di bawah dinas kesehatan, karena sifatnya kemitraan, alat transportasi dan biaya operasional ditanggung Freeport. Sementara LPMAK (Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro) mengelola dana yang diberikan,” tutur Govert Waramori, Manajer Community Health Development (CHD) PT Freeport Indonesia.

Malaria Center juga mendata Active Case Detection di wilayah Timika. Di tahun 2015, ada total 8220 orang yang dicek dan 368 orang positif malaria. Di tahun 2016 sampai bulan September, dari 5.259 orang yang menjalani pemeriksaan, 386 orang positif malaria. Upaya pemberantasan malaria tak lepas dari target di mana pada tahun 2026 Papua sudah bisa bebas malaria.

SUMBER: DETIK.COM

Loading...

Komentar Facebook