NGO Lingkungan Didorong Kisahkan Upaya Konservasi Melalui Buku

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA- Aktivitas konservasi lingkungan hidup kerap dianggap sebagai aktivitas di dalam sunyi, jauh dari akses informasi dan larut dalam program-program yang disusun. Padahal banyak cerita di sini, jatuh bangun Penyelamatan hutan dan spesies lengkap dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakatnya. Di sisi lain, narasi pengalaman ini sangat dibutuhkan agar publik memahami seperti apa tantangan, ancaman dan upaya yang sedang dilakukan. Tentunya dengan harapan informasi tersebar luas dan menyedot atensi publik untuk mengambil peran yang lebih luas.

Loading...

Selain itu, Kehadiran literatur atas upaya-upaya konservasi ini sekaligus menjadi referensi khalayak untuk meletakkan sudut pandang, mampu menginspirasi dan memberi stimulus untuk lebih peka terhadap fakta lingkungan hidup di Indonesia saat ini. Hal inilah yang mendorong sejumlah NGO di Sumut dan Aceh yang tergabung dalam mitra TFCA Sumatra untuk menggelar pelatihan penulisan buku, Di Sinabung Hills, Berastagi. Rabu-Sabtu (25-28/4).

Menurut Koordinator Fasilitator Wilayah TFCA Sumatera Regional Utara, Hamdan, kegiatan ini adalah upaya dalam mendorong kekayaan informasi konservasi dapat terdokumentasi dengan baik, dapat mudah dimengerti dan dibaca oleh masyarakat. Selain bentuk upaya peningkatan kapasitas mitra TFCA Sumatera Regional Utara.

“Menyajikan laporan program ke dalam narasi ringan yang dapat dinikmati semua kalangan dianggap sebagai tantangan utama saat ini, tentunya selain mengaktifkan kembali tradisi menulis dan pendokumentasian ke dalam bentuk buku. Hal ini yang coba kami mulai dengan seluruh mitra TFCA Sumatera di Sumut dan Aceh,” ujar Hamdan.

Hadir sebagai mentor sekaligus editor Syafrizaldi Jpang dan Nurhalim Tanjung, Syafrizaldi yang biasa disapa Aal ini adalah seorang penulis banyak buku konservasi. Sedangkan Nurhalim Tanjung adalah jurnalis senior di Kota Medan. keduanya memandu kegiatan yang digelar selama 3 hari ini hingga dari pelatihan tersebut lahir buku perwajahan konservasi Sumatera Utara dan Aceh khususnya berdasarkan program yang dilakukan oleh mitra TFCA Sumatera di Aceh dan Sumatera Utara.

Syafrizaldi dalam materi yang ia sampaikan mengatakan, antara laporan program dan laporan untuk dikonsumsi publik adalah dua hal yang sangat berbeda, terutama dalam teknik penulisannya. pendekatan buku populer akan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat. dan jangkauan sebarannya juga lebih luas.

“Kita butuh literatur itu, tapi yang lebih cair, mudah dimengerti dan tentunya mudah diakses oleh masyrakat. bagaimana aneka laporan program ini lebih enak untuk dinikmati, nah ini tentu terkait cara bertutur dan menuliskannya,” ujarnya.

Di sisi lain kata pria yang akrab disapa Aal ini, banyak cerita jatuh bangun yang dilakukan oleh para pelaku konservasi dalam penyelamatan hutan, air, spesies terancam punah di dalamnya,  kekayaan cerita ini kata Aal sudah seharsunya diketahui publik, agar sama-sama memahami ancaman kerusakan dan upaya apa yang sedang dilakukan.

“Kisah-kisahnya menarik, keberhasilan programnya juga banyak yang luar biasa. sudah seharusnya dituliskan, dibukukan dan diletakkan pada sumber-sumber yang mudah diakses masyarakat, ini sebetulnya menarik, kita perlu belajar banyak dari Andrea Hirata, dengan kekuatan tulisannya, semua mata mengarah ke Belitung lewat novel Laskar Pelanginya,” jelas Aal

Sementara itu Nurhalim Tanjung menekankan pada kemampuan bertutur atau story telling, menurut dia para pelaku konservasi sudah terbiasa menulis laporan, datanya juga pasti sangat lengkap, saat ini hanya perlu didorong kemampuan mengemasnya dari bahasa laporan menjadi bahasa yang lebih ringan dan menarik perhatian masyarakat luas. (*)

Loading...

Komentar Facebook