Ahooooi, Menjaring Angin Di Festival Layang-Layang Danau Siombak 2018

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA- Langit biru Paya Pasir Danau Siombak, Medan Marelan siang itu berhias puluhan layang-layang, ratusan pasang mata terdongak ke angkasa sambil berteriak memberi semangat, layang-layang aneka bentuk, rupa dan warna sedang bertarung memperebutkan juara. Angin yang kadang tak terduga, membuat peserta harus berhati-hati, salah perhitungan sedikit, layang-layang terjun bebas ke dalam danau.

Loading...

Layang-layang sebagai salah satu kekayaan tradisi Melayu Pesisir telah menjadi hiburan tersendiri, Ini memang bukan festival layang-layang internasional seperti di Bali atau di Surabaya, namun event sederhana ini telah menyatukan masyarakat dan menyajikan hiburan tanpa kelas. Setiap orang bebas menikmati dan menjadikan Minggu siang  (29/4) semakin berbeda di Danau Siombak.

Festival layang-layang ini sendiri telah digelar sejak 15 April lalu, digelar oleh Komunitas Layang-layang Paya Pasir bersama Balai Besar Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumut-Aceh, Disbudpar Sumut dan Masyarakat Kelurahan Paya Pasir Medan Marelan.

Sejarawan UNIMED sekaligus Ketua Komunitas Layang-layang Sumut, Dr. Phil. Ichwan Azhari mengatakan, Indonesia konon sebagai negara lahirnya permainan layang-layang, namun tak satupun hasil inovasi yang dapat dituliskan dalam peradaban.

Melihat fenomena tersebut, pihaknya menggelar festival layang-layang Danau Siombak Medan 2018 untuk mengembalikan ingatan generasi masa kini akan mahsyurnya khazanah budaya Sumatera Utara.

“Ini bukan sekedar permainan, tapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan potensi Danau Siombak, segi pariwisata dan ekonominya.juga sekaligus menjadi momen menjalin persahabatan dan melestarikan layang-layang tradisional,” ujar Ichwan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Sumatera Utara, Wan Hidayati dalam sambutannya mengatakan, pihaknya akan mencari strategi bagaimana kemasan kegiatan dan lokasi yang ada saat ini dapat dibuat lebih baik lagi, sehingga festival layang-layang danau Siombak dapat menjadi event tahunan.

“Kita akan cari cara, berdiskusi dengan Kepala Desa atau Camat setempat, agar tempat ini dapat dikelola jadi tempat wisata dan eventnya festival layang-layang dapat jadi event tahunan dan lebih baik lagi,” ujar Wan Hidayati.

Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU), Baharuddin Syahputra yang hadir bersama seniman perupa asal Sumut, Mangatas Pasaribu menyatakan, layang-layang dapat dijadikan sebagai ikon baru Dewan Kesenian Sumatera.

“Ada filosofinya, semakin kencang angin yang menerpa DKSU, semakin banyak pula aktivitas dan kegiatan dari DKSU, nanti kami coba negoisasi agar layang-layang pemenang dapat diboyong ke kantor DKSU dan dipajang di sana,” ujarnya

Sementara itu, menurut salah satu Inisiator festival, Agus Susilo, Di Medan Marelan sendiri, permainan layang-layang bukanlah permainan semata, melainkan sebagai upaya untuk merawat tradisi khas masyarakat Melayu Pesisir.

“Orang Melayu di Sumatera Timur, sudah lama memiliki tradisi bermain layang-layang, bahkan di museum layang-layang-layang di Jakarta ada ditampilkan layang-layang asal Langkat dan Serdang,” ujar Agus.

Agus menambahkan, Di kelurahan Paya Pasir Medan Marelan, di kawasan sekitar museum situs kota Cina, jejak peradaban Melayu masih bertahan lewat tiga jenis layang-layang tradisional yakni sari bulan, tanduk dan paha ayam.

Selain atraksi layang-layang Melayu Pesisir juga digelar pameran layang-layang, workshop membuat layang-layang dan lomba memainkan layang-layang. Event ini sendiri kata Agus adalah yang pertama dan akan digelar setiap tahunnya. (*)

Loading...

Komentar Facebook