Balita Ini Sakit Parah, Oknum Dokter RS Adam Malik Malah Menelantarkannya

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA- Dugaan pungutan liar dan penelantaran pasien terjadi di RSUD H Adam Malik, Kota Medan, Sumatera Utara. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, kejadian serupa juga pernah terjadi sebelumnya.

Loading...

Kali ini, korbannya adalah pasien yang memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Hal tersebut diungkapkan oleh seorang ibu bernama Eti, Selasa (1/5/2018). Dugaan pungutan liar tersebut terjadi saat balitanya yang berinisial GT, dirujuk ke RS Adam Malik.

Eti sebenarnya merupakan warga Tanjung Pinang Kepri. Oleh instansi di sana, balitanya dirujuk untuk berobat ke RS Adam Malik.

Eti menjelaskan, anaknya itu merupakan pasien rawat jalan RS Ada Malik Medan. Sebelum menjalani rawat jalan, sudah dilakukan dua kali operasi kepada anaknya karena saluran pencernaan. Dokter yang mengoperasi GP berinisial dr EF.

“Anak saya gak bisa buang air besar. Jadi dioperasi perutnya dibelah gitu. Terakhir operasi tahun 2017. Sampai sekarang anak saya gak bisa buang air besar secara normal dan perut anak saya masih dibalut bekas operasi,” terang Eti saat ditemui awak media di rumah saudaranya di Kelurahan Tanjung Mulia Hilir Medan Deli.

Kata Eti, setiap anaknya batuk, kotoran ke luar dari dalam perut anaknya.

“Saya juga bingung ini cemana. Saya sudah tiga bulan numpang di rumah famili. Jadwal operasi yang ke tiga selalu tak tentu, terakhir dibilang jadwal operasi ketiga pas awal April 2018,” kata Eti.

Selama menunggu kepastian jadwal operasi, sambung Eti, anaknya dianjurkan berobat jalan. Tapi sayang, selama rawat jalan itu, dokter EF tak pernah menangani anaknya.

“Abang bayangin lah saya dari Tanjung Mulia ini ke RS Adam Malik berapa sudah jauhnya buat berobat jalan. Tapi dokter itu gak pernah ada. Anak saya cuma diperiksa perawat terus dikasih obat,” terang Eti.

Singkat cerita, Eti diminta oleh dokter EF untuk datang ke tempat praktik dokter EF di Klinik Bunda Jl SM Raja Medan.

“Saya pikir mau dikasih tau jadwal operasi, rupanya saya diminta uang lima juta. Dokter itu bilang jangan kasih tau ke BPJS soal ini. Kalau udah ada uangnya kasihkan saja ke staf saya,” kata Eti menirukan ucapan dokter EF.

Eti kemudian semakin bingung untuk mendapatkan uang Rp 5 juta. Bahkan dirinya teringat ucapan dokter itu yang menyebut kalau uangnya tak ada maka operasi tak dapat dilakukan.

“Saya bingung lah ini makanya saya ngadu ke abang,” kata Eti.

Permintaan sejumlah uang kepada pasien KIS ini tentu saja menyalahi aturan. Apalagi permintaan itu dilakukan di luar RS Adam Malik tempat pasien berobat.

Terpisah, Direktur Medik RS Adam Malik, Mardianto saat dikonfirmasi selular terkesan terkejut dan buang badan.

“Ah mana mungkin itu, coba kirim data nama pasiennya biar saya konfirmasi terhadap dokter yang bersangkutan. Karena inikan hari libur,” jawab Mardianto.

Dilayangkan data pasien melalui pesan WhatsApp, Mardianto berjanji menindaklanjuti dan memberikan informasi keesokan harinya.

“Terimakasih, saya akan tindaklanjuti, terimakasih infonya,” tandas Mardianto. (*)

Loading...

Komentar Facebook