Gaya Baru Membungkam Buruh, May Day Berubah Jadi Fun Day

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA- May Day merupakan sejarah kelas buruh yang diinisiasi oleh sebuah gerakan kelas buruh tahun 1886. Saat itu kelas buruh di Amerika Serikat merasa tertindas karena bekerja diatas 18 jam.

Loading...

Pada 1 Mei 1886, 80.000 buruh di Amerika Serikat melakukan demontrasi menuntut 8 jam kerja. Dalam beberapa hari demontrasi ini segera direspon dengan pemogokan umum, yang membuat 70.000 pabrik terpaksa ditutup. Demonstrasi berlangsung selama empat hari. Penguasa bergidik melihat aksi massa itu.

Di hari keempat, tragedi Haymarket di Chicago pecah. Sebuah bom tiba-tiba meledak di dekat barisan polisi. Puluhan aparat terluka dalam serangan itu. Sementara tujuh polisi tewas. Petugas mulai menembaki para demonstran. Melukai 200 orang dan menewaskan beberapa orang. Bom berbalas dengan tembakan ke arah massa. Insiden itu dikenal dengan nama Insiden Haymarket atau Kerusuhan Haymarket.

Konferensi Internasional Sosialis tahun 1889 kemudian menetapkan demonstrasi besar-besaran di AS dan Kanada serta insiden Haymarket sebagai momentum untuk perjuangan para buruh. Awal mula aksi tanggal 1 Mei 1886, ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional.

Sampai 2018 May Day tetap diperingati oleh kaum buruh. Tidak terkecuali di Indonesia. Namun kondisinya kian tahun makin berubah. Sudah sangat jarang ditemui, aksi massa yang menyuarakan tuntutan.

Di Sumatera Utara, beberapa kelompok buruh, memperingati May Day dengan beragam cara. Mulai dari aksi turun ke jalan, hingga merayakan dengan para pejabat pemerintahan.

Tercatat ada dua peryaan buruh bersama pemerintah di Kota Medan, Sumatera Utara. Pertama, perayaan hari buruh di Gelanggang Remaja, Jalan Sutomo Ujung Medan, Selasa (1/5). Di sana buruh dibagikan sembako. Totalnya ada 1500 paket.

Wali Kota Medan Tengku Dzulmi Eldin hadir dalam perayaan buruh tersebut. Bahkan Eldin naik ke panggung utama untuk bernyanyi menghibur para buruh.

Selanjutnya, beberapa kelompok buruh juga mengikuti kegiatan perayaan May Day di Lapangan Pendidikan Perkebunan (LPP), Jalan Wiliem Iskandar, Kecamatan Percut Sei Tuan. Acara itu disebut-sebut digelar berkat kesepakatan antara pemerintah, kepolisian dan serikat buruh.

Acara digelar cukup meriah dengan pentas musik, perlombaan dan lucky draw. Hadiahnya tidak tanggung, mulai dari setrika listrik, kipas angin, sepeda, hingga sepeda motor.

Sementara itu, kelompok buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumut, konsisten turun ke jalan. Mereka menggelar aksi di Kantor Gubernur Sumut. Bahkan aksi itu digelar di tiga titik di Sumut. Massanya pun mencapai ribuan.

Kondisi gerakan buruh zaman now ini mendapat kritik pedas dari Aktivis Gerakan Dadang Darmawan. Dia mengaku agak miris melihat gerakan buruh kekinian. Esensi gerakan buruh kian menghilang. Menurut akademisi FISIP USU tersebut, itu adalah bentuk pembungkaman gerakan buruh.

“Ada banyak upaya untuk meredam aksi buruh yang sejak orde baru ditakuti. Karena itu bentuk-bentuk mengubah aksi massa buruh dengan aksi lain yang lebih soft, itu upaya pemerintah menghindari konflik dan efek negatif. Padahal di kita ini, jika pemerintah tidak ditekan, justru pemerintah tidak akan merubah kebijakan,” kata Dadang.

Melemahnya gerakan buruh, menurut Dadang memang sudah terlihat. Khususnya saat May Day ditetapkan menjadi hari libur oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2014 lalu. “Ketila mengubah aksi tekanan, ini akan melemahkan tekanan. Kalau saya tagline May Day itu seperti Funday, Jadi terkesan hari kegembiraan. Ada pengaburan makna esensi hari buruh sekarang ini,” ucapnya.

Lebih jauh lagi, Dadang memaparkan, aksi buruh yang kerap disusupi kepentingan politik menjadi fenomena biasa. Namun dia mengingatkan siapapun yang terpilih bisa membuat kebijakan yang pro buruh.

“Buruh ini kan massa yang menarik untuk didekati konteks politik. Entitas politik selalu berharap dukungan. Dalam konteks politik sah-sah saja jika ada upaya menggoda para buruh untuk memilih calon. Yang penting adalah, siapapun yang terpilih bisa memperjuangkan nasib buruh,” tegasnya.

Perjuangan buruh masih membutuhkan waktu yang sangat panjang. Hari buruh yang ditetapkan sebagai libur nasional adalah salah satu bentuk penghormatan kepada buruh. Pun begitu, dia mengatakan, ada kondisi yang masih paradoks dengan nasib buruh saat ini.

“Meski hari buruh dihormato dengan diliburkan, tapi kesejahteraan buruh justru tidak dapat kita tegakkan atau selamatkan. Jadi ada posisi yang diametral, antara penghormatan dengan nasib buruh. Perjuangan masih panjang, kita tahu kondisi negara kita belum dalam tingkay yang sempurna untuk kesejahteraan buruh. Buruh harus tetap melakukan tekanan kepada pemerintah, agar mengeluarkan kebijakan yang pro buruh,” tandasnya. (*)

Loading...

Komentar Facebook