Menjaga Harapan Badak Sumatera Di Leuser

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA- Tidak banyak orang tahu, apabila Leuser sebagai sebuah kawasan konservasi masih menyimpan Badak Sumatera yang kini masuk dalam spesies terancam punah. Naasnya, semakin terancamnya spesies Badak ini tidak membuat ancaman terhadap Badak semakin berkurang, ada saja tangan tidak bertanggung jawab. perburuan satwa, alih fungsi lahan dan pembalakan liar menjadi ancaman besar terhadap keberadaan Badak Sumatera di Kawasan Ekosistem Leuser.

Loading...

Ancaman ini menuntut parapihak bekerja ekstra dalam melindungi kawasan, tak tanggung-tanggung, satu unit tim patroli sebuah NGO yang fokus pada perlindungan Badak di Leuser, Forum Konservasi Leuser bisa bergerak selama 12 hari di dalam kawasan untuk satu tim Patroli, ada puluhan tim patrol yang melakukan pengawasan di beberapa titik rawan leuser setiap bulannya.

“Kami bersama-sama dengan Balai Taman Nasional Gunung Leuser melakukan upaya pencegahan dan patroli rutin di kawasan, seperti berburu dengan waktu, setiap saat kawasan kita patrol agar spesies badak Sumatera ini tetap terselamatkan di Leuser,” Ujar Ilham, Koordinator Patroli Forum Konservasi Leuser (FKL).

Tim patroli ini tidak hanya melakukan Patroli rutin kawasan areal Badak, namun juga menyasar spesies terancam punah lainnya seperti Harimau Sumatera, Orangutan Sumatera serta Gajah Sumatera.

“Leuser ini unik, empat spesies terancam punah ada di sini, jadi tantangannya sangat tinggi,” tambah Ilham.

Foto: Bim Harahap

Saya berkesempatan mengikuti tim patrol FKL kerjasama TFCA Sumatera di kawasan Leuser, Ketambe. Merangkak memasuki hutan bersama satu tim patrol yang terdiri dari 5 orang, 4 dari tim FKL dan satu orang pimpinan patrol dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Beberapa menit memasuki kawasan langsung disambut serbuan puluhan pacet baik yang merangkak dari tanah maupun berjatuhan dari dedaunan.

Aktvitas tim patroli kata Ilham, utamanya adalah melindungi kawasan dari segala ancaman, seperti perambahan, illegal loging dan perburuan. selain itu juga melakukan pengumpulan data kawasan, seperti pemasangan kemera trap, melihat tutupan kawasan, jejak satwa dan juga pakan satwa di dalam kawasan.

“Sepanjang tim patroli FKL dan BBTNGL bergerak, telah ribuan jerat satwa berhasil dimusnahkan oleh tim, bahkan beberapa kali memulangkan pemburu dan pembalak dari dalam kawasan hutan.” Jelasnya.

Foto: Bim Harahap

Menurut Ilham, Perlindungan terhadap populasi speesies terancam punah di Kawasan Ekosistem leuser sangat diperlukan, demi mejaga populasi satwa ini aman dan dapat berkembang biak dengan baik.

Menurut data Forum Konservasi Leuser sendiri, Populasi Badak di Bagian Barat Leuser yang mencapai 600.000 Ha dianggap sebagai wilayah yang memiliki populasi Badak lebih tinggi dari lokasi laiinya, sejak tahun 2012, data kamera trap masih menangkap keberadaan badak dan diantaranya merupakan induk bersama anak yang memberi harapan peluang keberhasilan peningkatan populasi di Kawasan Ekosistem Leuser.

Foto: Bim Harahap

Upaya serius tim patroli ini menjelajah kawasan hutan lebat selama berminggu-minggu harus dilakukan. Berbagai tantangan harus mereka hadapi. Namun hal terberat menurut tim patroli ini adalah masih adanya kabar pengrusakan dan perburuan di leuser.

“Kita berpatroli rutin, semua tim bergerak menjaga titik-titik masuk kawasan, jadi kecewa rasanya jika masih ada yang merusak,” ujar Ilham.

Ilham bersama timnya pun berkomitmen akan tetap menjaga kawasan Leuser terutama habitat spesies terancam punah seperti badak, yang merupakan warisan bumi yang harus tetap dijaga kelestariannya. Karena menurut Ilham jika ini punah, maka kegagalannya bukan hanya di Leuser, tapi kegagalan generasi saat ini. Tidak mampu menjaga kekayaan dunia yang saat ini dititipkan di Leuser.

Sementara itu, Koordinator Progam Forum Konservasi Leuser, Dediansyah mengatakan, Leuser terus mendapatkan ancaman serius, terutama pada kawasan sebagai habitat dan spesies kuncinya sendiri, karena itu pihaknya bersama BBTNGL dan Dinas Kehutanan terus melakukan monitoring rutin sebagai salah satu upaya pencegahan yang masih dapat dikatakan efektif hingga saat ini.

“Dukungan para pihak terutama masyarakat tentu sangat diharapkan, sebagai kekuatan utama perlindungan kawasan Leuser, ini tidak hanya spesies terancam punah, namun juga soal Kawasan Ekosistem Leuser dimana ada lebih kurang 4 juta orang yang bergantung hidup terutama ketersediaan air,” ujar Dedy.

Foto: Bim Harahap

Oleh karena itu kata Dedy, selain patroli dan monitoring rutin, pihaknya bersama TFCA Sumatera juga melakukan berbagai upaya lain terutama perlibatan masyarakat sekitarnya, seperti secara rutin melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dengan membentuk Komunitas Sahabat Leuser.

Harapannya, kata Dedy, generasi berikutnya lebih paham dan mengerti tentang Leuser sehingga melahirkan kesadaran untuk menjaga Leuser sebagai sumber kehidupan terutama air.

“Sosialisasi rutin terus dilakukan, selain itu kami juga melibatkan generasi muda melalui pendekatan seni budaya seperti Saman, Saman ini menyampaiakan pesan-pesan konservasi dan perlindungan Leuser, sehingga dapat didengar oleh banyak orang,” jelasnya.

Foto: Bim Harahap

Disinggung mengenai dokumentasi dan data kamera trap Badak sendiri, Dedy mengatakan pihaknya menahan diri untuk mempublish hasil kamera trap Badak karena satwa ini posisinya benar-benar terancam punah.

“Soal badak, kami memang tidak publish dokumentasinya untuk sementara waktu, masih sangat sensitif, khawatir semakin memancing kehadiran pemburu, karena itu tidak pernah spesifik dijelaskan lokasi dan individunya, namun data itu dapat kami pertanggungjawabkan terutama keberadaan Badak di leuser,” Ujarnya.

Sepanjang perjalanan saya memasuki kawasan, banyak kekaguman dan rasa takjub terhadap kawasan ini dengan berbagai kekayaan flora dan fauna di dalamnya, saat senja menjelang, sayai bertemu burung rangkong dan orangutan di pohon yang sama. Bertengger memperlihatkan wajah seperti ucapan lain selamat datang di Leuser. Perjumpaan dengan satwa ini kata Ilham adalah kebahagaian sekaligus hiburan bagi tim yang berhari-hari di dalam kawasan.

Foto: Bim Harahap

Menjelang malam, tim patroli dengan sigap mendirikan tenda, berupa terpal plastik yang dibentang melintasi dua batang kayu yang menjadi penyangga. Masing-masing tim telah memahami tugas masing-masing, mulai dari mencatat buku patroli, mengambil gambar setiap temuan, menentukan titik koordinat hingga mendirikan tenda dan memasak.

Malam itu bersama tim patroli ketambe, Jamilul Asid, Kamaruddin, Rabusin, Sulaiman Daud dan Sehat Rezeki, sosok-sosok yang telah bertahun-tahun menjaga kawasan Leuser, saya menikmati hidangan malam ala kadarnya, berbagai cerita terlontar, yang keseluruhan menyimpan harapan agar Leuser terjaga dan generasi hari ini mampu mewariskan kekayaan alam yang baik kepada generasi berikutnya.

Penulis: Bim Harahap
Editor: Bim Harahap

Loading...

Komentar Facebook