Terpaksa Tinggal Di Zona Merah Sinabung, 80 Keluarga Menantang Maut

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

 

PUBLIKA- Bencana alam erupsi Gunung Sinabung, di Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang terjadi pada tahun 2010 dan 2013 silam, mengakibatkan beberapa desa di kawasan kaki gunung tertinggi Sumut itu terpaksa harus direlokasi.

Loading...

Dalam situasi erupsi yang tak kunjung usai itu, terselip kisah pilu dari sekitar 80 Kepala Keluarga yang harus bertahan hidup di desa yang termasuk zona merah.

Desa Sigarang-garang, Kecamatan Namanteran, merupakan salah satu dari desa yang masuk dalam area zona merah (Red zone) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Namun pada kenyataannya, sekitar 450 jiwa harus terpaksa bertahan hidup menantang maut mendiami desa tersebut.

Bukan tanpa alasan, ratusan jiwa ini harus tetap bertahan hidup dalam zona merah yang berjarak 2,8 hingga 3 kilometer, sebab pada kenyataannya janji pemerintah untuk memperhatikan nasib mereka tidak terealisasi dengan baik.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ramlan Ginting (68), merupakan seorang warga dari 450 jiwa yang tetap memilih menaungi kampung halamannya meski menantang maut.

Ramlan bersama sang istri Nur Anna Bre Sitepu (65) tetap memilih bertahan di Desa Sigarang garang sebab tidak ada kepastian dari pemerintah.

“Ya mau tak mau harus tetap disini. Bantuan dari pemerintah tak memadai. Pernah diberi bantuan dana untuk menyewa rumah dan lahan sekitar Rp 6,4 juta. Uang segitu mau buat apa,” kenangnya kepada Publika, Rabu (16/5/2018).

Ramlan menceritakan, saat Sinabung meletus pada tahun 2010 dan 2013, ia dan seluruh warga desa sempat direlokasi ketempat penampungan.

“Ada beberapa kali kami mengungsi pas erupsi lagi tinggi. Kalau gak salah pernah 3 kali kami di pindahkan dari desa dan tinggal di 9 titik pengungsian. Habis itulah baru dapat bantuan yang tak memadai itu, itupun cuma sekali aja,” ungkap Ramlan.

Karena tak mendapat subsidi dari pemerintah, ayah dari 6 anak ini akhirnya bersama warga lainnya memutuskan untuk kembali hidup di kampung halaman mereka.

“Ya terpaksa pulang, lagian dilarang juga enggak, disuruh juga enggak. Sekarang baliklah lagi jadi petani nanam kopi, nanam labu kuning untuk biaya hidup,” ucapnya.

Meski demikian, Ramlan mengaku ada kekhawatiran dalam dirinya, jika sewaktu-waktu erupsi kembali terjadi.

“Siapa yang enggak takut. Pastilah. Apalagi seperti baru-baru ini, erupsi dan awan panasnya mulai membuka jalur mengarah kesini. Kami waktu itu sempat mengungsi, tapi hanya beberapa jam saja, setelah erupsi reda kami balik lagi kesini,” ujar pria yang mengaku sudah terdaftar untuk relokasi di kawasan Siosar.

“Semoga presiden Jokowi segera mewujudkan janjinya yang dulu bilang bahwa tahun 2018 tidak ada lagi pengungsi. Walau saya enggak yakin bisa terealisasi. Karena sampai sekarang kepala desa yang mendata kami masuk gelombang tiga untuk direlokasi, sampai sekarang juga ngaku belum dapat kabar. Padahal itu yang kami harap jadi jalan terbaik untuk kami,” harapnya.

Penulis: Muklis
Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook