Tim Hukum KAHMI Medan Bantah Status Dosen Himma Terkait Bom Surabaya

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA- Tim kuasa hukum dosen Himma Dewiyana Lubis (46) dari Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Medan membantah status yang ditulis himma berkaitan dengan peristiwa bom Surabaya.

Loading...

Bantahan tersebut disampaikan Sekertaris Umum KAHMI Medan Chairul Munadi saat konferensi pers bersama Ikatan Wartawan Online (IWO) Wilayah Sumut di Kantor IWO Sumut Jalan Setia Budi, Medan, Kamis (24/5/2018).

“Kami tegaskan bahwa Bu Himma tidak ada menulis di status facebooknya terkait bom surabaya. Di akun Facebook-nya tidak ada tulisan soal bom,” kata Chairul Munadi.

Terkait tulisan di akun dosen Dimma, tim hukum sudah mempertanyakan ke pihak Polda Sumut apa alasan munculnya penggiringan opini soal bom di Surabaya.

“Polda belum memberikan jawaban soal munculnya isu bom itu. Kepolisian diduga imajiner dalam memberikan keterangan pers. Dan keterangan pers, soal bom itu ditulis dan disebarkan. Akibatnya banyak media massa mengaitkan Bu Himma menulis soal bom yang terjadi di surabaya. Padahal Bu Himma tidak ada menulis bom, tidak ada bukti soal itu,” terangnya.

Selain itu, tim hukum juga menilai proses hukum terhadap dosen Himma terdapat beberapa kejanggalan. Hal itu terkait proses pemeriksaan yang dilakukan pihak Polda kepada dosen Himma.

“Sementara dalam proses pemeriksaan kita menilai ada beberapa kejanggalan, Bu Himma diperiksa dalam kondisi sedang sakit dan lemah akibat penyakit yang dideritanya. Saat pemeriksaan, ibu himma sempat mengeluhkan sakit kepala dan pusing, namun proses pemeriksaan tetap dipaksakan,” ungkap Chairul.

Dalam kondisi sakit dan drop, diungkapkan Chairul, Himma sudah menyampaikan jika dirinya memiliki penyakit vertigo kepada penyidik. Bahkan Himma sempat dibawa berobat di klinik dan pihak klinik merekomendasikan agar Himma dibawa ke rumah sakit.

“Kita menyayangkan Polda Sumut yang membawa Bu Himma saat konferensi pers, padahal kondisi Bu Himma sangat lemah. Buktinya dia beberapa kali pingsan saat konferensi pers,” katanya.

Tim hukum juga mempertanyakan penetapan status tersangka terhadap dosen Universitas Sumatera Utara (USU) yang terkesan sangat terburu-buru itu. Sementara kasus yang disangkakan kepada ibu himma bukan kasus biasa. Seharusnya penetapan tersangka itu harus dikaji berdasarkan ahli.

“Kita mempertanyakan mengapa penetapan tersangka kepada Bu Himma terkesan terburu-buru. Dengan latar belakang Bu Himma sebagai dosen yang berprestasi, tidak punya keterkaitan dengan salah satu partai politik atau kelompok radikal manapun. Sementara diluar sana banyak kasus yang serupa, tapi tidak seperti apa yang terjadi pada ibu himma ini,” tutupnya.

Perlu diketahui, sebelumnya Direktorat Krimsus Subdit Cybercrime Polda Sumut menangkap Himma di rumahnya, Jalan Melinjo II Komp Johor Permai, Medan Johor, Kota Medan pada hari Sabtu, (19/5/2018).

Himma ditangkap karena mengunggah status di facebooknya yang diduga melakukan ujaran kebencian. Dia menulis “Skenario pengalihan yang sempurna… #2019GantiPresiden” pada dinding facebooknya.

Penulis: Muklis
Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook