Murung Wajah Anak Si Buruh, Sebab Orangtua Terancam Tak Terima THR

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Lebaran Idul Fitri merupakan momentum bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia. Hari Raya Idul Fitri sering menjadi tempat berkumpulnya keluarga, sanak family dan handai taulan yang berjauhan.

Loading...

Tidak hanya di hari lebaran, bahkan sejak H-7 atau 7 hari sebelumnya, tradisi menyambut lebaran khususnya di indonesia sudah sangat kentara. Mulai dari kemeriahan berbelanja pakaian bersama keluarga, melengkapi pernak pernik rumah, dan bahkan tak jarang yang menata ruang tamu seindah mungkin untuk menyambut para tetamu yang datang saat lebaran nanti.

Namun, hal yang sama mungkin tidak dirasakan atau bahkan tidak memikirkan “selebrasi” dalam menyambut lebaran oleh beberapa anak buruh PT Kelambir Jaya.

Bagaimana tidak, keinginan para anak buruh ini terpaksa tertahan di kerongkongan, sebab orang tua mereka terancam tak menerima Tunjangan Hari Raya (THR) karena sedang melakukan mogok kerja memperjuangkan haknya.

Puluhan anak dari buruh PT Kelambir Jaya ini harus ikut bersama para orang tua untuk memperjuangkan hak para buruh dengan melakukan aksi pasang poster di depan pintu gerbang perusahaan yang beralamat di Jalan Kelambir V, Kecamatan Tanjung Gusta, Kabupaten Deliserdang.

Ratap wajah sedih dan pilu mewarnai aksi anak-anak buruh pabrik yang mengolah kertas sembahyang itu. Mereka berteriak lantang meminta Presiden Joko Widodo dan Menteri Tenaga Kerja turun langsung ke PT Kelambir Jaya.

“Pak Jokowi dan pak Hanif tolong lihat nasib orangtua kami, kami tidak bisa merayakan lebaran tahun ini, kami sedih, kami mohon pekerjakan kembali orangtua kami dan berikan THR biar kami bisa beli baju lebaran,” teriak para anak buruh yang rata-rata masih berumur 7 sampai 13 tahun itu di depan pintu gerbang perusahaan tempat orangtuanya mengais rezeki itu, Jumat (8/6/2018).

Dalam aksi para anak buruh itu, berbagai poster dipampangkan oleh mereka. Diantaranya poster bertuliskan “Kepada Yth Bapak Joko Widodo, tolong berikan THR orang tua kami, agar kami bisa beli baju lebaran dan merasakan lebaran tahun ini,” demikian isi pada poster itu.

Hingga berita ini diturunkan, para anak-anak buruh ini masih bersama para orang tuanya di tenda mogok kerja. Buruh pabrik pengolahan kertas sembahyang ini terhitung sudah 42 hari lamanya melakukan mogok kerja, namun sampai saat ini belum juga mendapat kejelasan nasib dari pihak PT Kelambir Jaya.

Aksi ini menuai keprihatinan dari kalangan serikat buruh Sumatera Utara. Willy Agus Utomo Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumatera Utara menyampaikan rasa keperihatinannya. Ia meminta agar kasus THR PT Kelambir Jaya harus di selesaikan agar anak-anak buruh dapat merasakan nikmatnya berlebaran seperti anak-anak buruh yang lainnya.

“Miris, Pemerintah khususnya Disnaker Sumut dan Deliserdang harusnya tegas. THR buruh harus di utamakan jelang lebaran ini, jadi anak-anak itu tidak minder saat lebaran nanti,” tegasnya.

Willi juga mengutuk sikap diam dari PT Kelambir Jaya yang dinilainya tidak punya hati nurani. Sebanyak 222 buruh perusahaan itu pecat secara sepihak dengan alasan mengundurkan diri, padahal mereka masih mau bekerja.

“Para buruh itu sudah bekerja rata-rata belasan tahun, sudah banyak memberi manfaat kepada pengusahanya, tapi diperlakukan sewenang-wenang begitu. Jangan lah memperlakukan buruh tidak manusiawi,” pungkas Willy yang juga Koordinator Posko Pengaduan FSPMI Sumut itu.

Penulis: Muklis
Editor: Asmojoyo

 

Loading...

Komentar Facebook