Nestapa “Ibukota” Orangutan Dunia Bernama Rawa Tripa

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Nagan Raya – Cuaca siang itu teramat terik, cahaya matahari berkilat memantul dari areal gambut yang sebagian besarnya telah ditanami kelapa sawit milik salah satu perkebunan swasta. Hamparan panas ini menjadi salah satu akses memasuki kawasan Rawa Gambut Tripa di Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya. Kawasan rawa gambut yang sebelumnya merupakan Eks Perkebunan PT Kalista Alam seluas 1.605 Ha yang pernah digugat dan dimenangkan oleh Walhi Aceh.

Loading...
Rawa Tripa belum belum aman dari ancaman (foto: Dok YEL)

Untuk memasuki kawasan Eks PT Kalista Alam ini, bersama sebuah NGO Lingkungan yang melakukan aktivitas penyelamatan kawasan Rawa Gambut Tripa, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), kami berjalan kaki sepanjang 2 Km, mengendap di sebuah perkebunan sawit swasta lainya yang masih beroperasi, Senin (12/3/). Menurut Manager Program Rawa Tripa YEL, Indrianto, pihak keamanan perkebunan sawit yang kami lalui belum terlalu ramah dengan aktivitas di dalam kawasan 1605 Ha Gambut Tripa, sehingga tidak jarang timnya harus masuk ke kawasan melakukan pengukuran gambut pada malam hari. “Kita masukkan dulu peralatan dalam karung goni ya, kamera-kameranya juga, nanti susah sama keamanan perkebuan sawitnya,” ujar Indrianto kepada saya, seperti mencoba berdamai demi menyelamatkan rawa gambut ini.

Potret ketidakakuran perkebunan sawit dengan upaya penyelamatan kawasan rawa gambut tripa ini menjadi catatan awal yang sangat sulit dimengeti, namun demikian kata Indrianto timnya tidak akan pernah menyerah begitu saja. “Ini demi masa depan dan kelangsungan generasi berikutnya,” jelas Anto

Indrianto berjalan memanggul peralatan pengukur gambut melintasi perkebunan sawit yang masih beroperasi memasuki arel Rawa Tripa 1605 Ha eks PT Kallista Alam (Foto: Bim Harahap)

Berdasarkan data yang dimiliki YEL,  Ekosistem Rawa Gambut Tripa-Bahbarot sendiri terletak di dua Kabupaten yaitu Nagan Raya dan Aceh Barat Daya, persisnya di pantai barat Provinsi Aceh. Dahulu hingga tahun 1990, Rawa gambut ini masih tertutup hutan seluas 660.969 Ha dengan kedalaman gambut 1-4 Meter. Namun berdasarkan citra satelit dan udara pada tahun 2009, hanya tersisa 15 persen hutan gambut primer dari luasan semula. “perubahan hutan gambut primer menjadi hutan terdegradasi mencapai 1000 ha per tahun, kita khawatir dengan perubahan ekologis yang demikian cepat ini,” papar Anto.

Padahal lanjut Anto, kawasan rawa gambut memiliki berbagai fungsi ekologi dan ekonomi, misalnya pada tahun 2004, saat bencana Tsunami menerjang Aceh, tercatat hampir tidak ada korban jiwa di tiga kawasan gambut di Aceh, Singkil, Kluet dan Tripa. Kawasan Rawa Gambut ini kata Anto berperan besar sebagai zona penyangga kala itu.

Saat ini, berdasarkan survey YEL, Lapisan gambut berpusat di tiga kubah di bagian utara Ekosistem Tripa, dengan kedalaman mencapai 8,5 Meter. Rawa Gambut ini menyimpan cadangan karbon yang dapat menekan emisi gas rumah kaca hingga 2020 berkisar 28-34 juta ton. Angka ini sekitar 4,3 sampai 5,2 Persen dari komitmen pemerintah Indonesia untuuk mengurangi emisi sebsar 26 persen. Istimewanya lagi Rawa Tripa-Babahrot  merupakan salah satu habitat orangutan sumatera terpadat yang terancam punah.

Salah satu upaya penyelamatan kawasanr rawa tripa adalah pembangunan DAM untuk menaikkan air permukaan Rawa Tripa – (Foto: Dok YEL)

Mengenai status kawasan Tripa Sendiri, Berdasarkan Kepres No.33/1998 tentang Kawasan Ekosistem leuser (KEL), areal rawa gambut ini adalah bagian dari KEL, dan meskipun secara tataguna lahan kawasan ini ditunjuk sebagai Areal Penggunaan Lain oleh Kepmenhut No 170/2000 dan SK No. 941/Menhut-II/2013 danperubahannya yang terakhir dengan SK.103/MenLHK-II/2015, Pemerintah Aceh memfungsikan areal rawa gambut ini sebagai kawasan lindung di luar kawasan hutan (KLLKH), baik melalui SK Gubernur Provinsi Aceh No 19/1999 tentang arahan fungsi hutan Provinsi Aceh, maupun dalam Qanun No. 19 Tahun 2013tentang Rencana Tata Ruang Provinsi Aceh tahun 2010-2030. Berdasarkan RTRWN yang ditetapkan dalam Perturan Pemerintah 26/2008,  Kawasan Ekosistem Leuser Leuser termasuk didalamnya Kawasan Rawa Gambut dinyatakan sebagai kawasan strategis nasional dengan fungsi perlindungan alam dan lingkungan hidup.

Bersama Tropical Forest Conservation Action Sumatera (TFCA-Sumatera), YEL telah melakukan berbagai upaya di kawasan Rawa Gambut Tripa-Babahrot. misalnya mendorong kepastian hukum pengelolaan kawasan rawa gambut yang masuk kategori Areal Penggunaan Lain dalam status kawasan hutan lainnya. Maka kata Indrianto, secara hukum areal ini masih dapat dimanfaatkan untuk tujuan budidaya, sehingga hampir seluruh areal Kawasan Rawa Gambut Tripa dapat diokupansi oleh berbagai Hak Guna Usaha dalam bentuk perkebunan kelapa Sawit. “Kondisinya masih seperti ini, dan ini yang sedang diperjuangkan agar rawa gambut ini dapat diselamatkan,” ujar Indrianto.

Pembangunan DAM sebagai upaya menjaga air di kawasan Rawa Gambut Tripa (Foto: Bim Harahap)

YEL bersama stakeholders di Provinsi Aceh telah berhasil menyusun kajian Lingkungan Hidup Strategis Rawa Tripa-Babahrot yang bertujuan untuk mengidentifikasi rencana dan program pembangunan terhadap lingkungan hidup terutama materi Rencana Tata Ruang ataupun rencana pembangunan di tingkat Provinsi dan Kabupaten di Aceh.

Saat ini, YEL dengan dukungan TFCA Sumatera juga telah berhasil membangun 31 Bendungan (DAM) untuk penutupan saluran air (kanal) yang bertujuan untuk memperbaiki fungsi hidrologis kawasan rawa gambut. Pembangunan Dam ini sendiri telah menaikkan air bawah tanah sehingga pada musim kemarau kelembaban tanah tetap terjaga dan mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Indrianto, upaya pelestarian Tripa sebagai kawasan rawa gambut dan juga menjadi kawasan spesies orangutan sumatera terpadat di dunia terus mendapatkan tantangan, artinya kata dia, upaya perlindungan kawasan ini belum tuntas. “Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kami berharap kawasan ini terlindungi dengan baik, ada kesadaran yang menyeluruh dari parapihak terkait, ini bukan hanya sekedar rawa gambut, tapi merupakan zona penyangga kehidupan manusia,” jelasnya.

 

TM Dzulfikar, Koordinator Program Aceh-Yel mengungkapkan, saat ini pihaknya terus melakukan upaya negoisasi di tingkat Nasional dan Provinsi untuk menyamakan pemahaman parapihak terkait upaya penyelamatan rawa gambut tripa-babahrot. “Kami akan terus dorong agar kawasan ini terselamatkan, terutama agar ada visi yang sama yang dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan yang tepat untuk Rawa Gambut Tripa ini,” ujarnya.

Dengan alat bor Gambut, YEL secara intensif melakukan pengukuran kedalaman gambut di Rawa Tripa (Foto: Bim Harahap)

Rawa Gambut Tripa-Bahbarot dalam sebuah buku yang ditulis oleh Agus Prijono diberi judul Rawa Tarung, ini menunjukkan betapa tempat ini menjai pusaran beragam pertarungan kepentingan, antara penyelamatan dan ekploitasi kawasan dalam kepentingan bisnis korporasi perkebunan sawit. Seperti berburu dengan waktu, kawasan ini menunggu sentuhan kebijakan cepat dan tepat, agar keberadaan penyangga hidup ini dapat terjaga, bukan menjadi malapetaka karena keserakahan manusia.

Rutin melakukan cek ketinggian air permukaan rawa gambut Tripa (Foto: Bim Harahap)

Kabar Buruk Berhembus Lagi

April 2018, Kabar buruk kembali berhembus dari Rawa Tripa, Pengadilan Negeri Meulaboh menganulir putusan Mahkamah Agung terhadap PT Kallista Alam yang semula divonis bersalah karena membakar hutan gambut Rawa Tripa. Sontak keputan PN Meulaboh yang membaskan PT Kallista Alam dari segala tanggung jawabnya untuk mengganti rugi dan memulihkan lahan yang terbakar mendapatkan protes keras dari banyak kalangan.

Salah satunya dari Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (Haka), salah satu organisasi kerja lingkungan yang banyak menyoroti berbagai persoalan hutan dan lingkungan di aceh. Haka pun menginisasi satu petisi di change.org dengan judul Desak Mahkamah Agung Perintahkan PN Meulaboh Untuk Eksekusi Perusahaan Pembakar Lahan. Hinga 10 Juni 2018 petisi ini telah mendapatkan sebanyak 59.743 tanda tangan dukungan.

orangutan sumatera di Rawa Tripa (Foto: Indrianto YEL)

“Pada tahun 2014, PT Kallista Alam dinyatakan bersalah karena dengan sengaja membakar 1.000 hektar lahan hutan gambut di Rawa Tripa, Nagan Raya, Aceh. Lahan gambut Tripa adalah bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser yang dinyatakan sebagai Kawasan Strategis Nasional karena fungsi lingkungannya oleh pemerintah pusat.

Pembakaran ini menciptakan emisi yang besar dengan melepaskan jutaan ton karbon yang telah lama tersimpan di dalam  gambut. Sebelumnya, Tripa dikenal sebagai ‘Ibukota Orangutan Dunia’ dan sekitar 3.000 individu orangutan sumatra pernah hidup di kawasan ini. Setelah pembakaran lahan oleh PT KA, hanya 100 sampai 150  individu yang tersisa.

Demi kepastian hukum yang berkeadilan, mari bersama-sama kita mendesak Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk membatalkan putusan 16/Pdt.G/2017/PN.Mbo sekaligus memerintahkan PN Meulaboh melaksanakan eksekusi terhadap PT. KA sesuai dengan putusan perkara no. 1 PK/PDT/2017 jo. Putusan no. 651 K/Pdt/2015 jo putusan no. 50/PDT/2014/PT BNA jo. Putusan no. 12/PDT.G/2012/PN.MBO — untuk membayar biaya pemulihan lingkungan sebesar Rp 366 miliar.”

kutipan petisi  Haka di laman Change.org tersebut di atas menggambarkan kembali muramnya wajah upaya penyelamatan Rawa Tripa, disebut sebagai “Ibukota” Orangutan dunia, dikatakan sebagai wilayah strategis yang menyerap jutaan ton karbon, tak lantas membuat Tripa terlindungi dengan baik.

Melihat kondisi ini terlihat betapa wajah investasi dan wajah hukum sementara mengarahkan busur tepat ke jantung Rawa Tripa. Jantung yang sesungguhnya harus senantiasa berdetak agar manusia dan alam hidup selaras berdampingan. Bila tidak menjadi berkah, maka akan menjadi malapetaka bagi umat manusia, begitu kerap alam bereaksi atas sepek terjang manusia di muka bumi.

Bim Harahap

Loading...

Komentar Facebook