Kopi Arabica Sumut Potensi Besar Penghasil Devisa, Pemprov Harus Segera Bentuk BUMD

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Dua kabupaten di Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), yaitu Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan merupakan wilayah yang memiliki potensi besar untuk memperbesar devisa negara melalui perkebunan kopi.

Loading...

Namun sangat disayangkan, potensi tersebut seakan kurang dimaksimalkan oleh pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten.

Hal itu disampaikan oleh pakar perkebunan kopi Selaras Alam, Rasyid Assaf Dongoran, M.Si., kepada Publika di Medan, Minggu (24/6).

“Melalui kopi, kabupaten tersebut merupakan wilayah potensi penghasil Dollar atau Euro, namun sangat tertinggal dibandingkan Provinsi Aceh. Dimana di Kabupaten Madina, terdapat 9 kecamatan dan 81 desa yang berada di wilayah pegunungan. Sedangkan di Tapanuli Selatan terdapat 5 kecamatan dan 37 desa. Kondisi produksi akan tergantung luas lahan dan saat ini seluruh lahan potensi itu diperkirakan baru berkembang sebanyak 30-40 persen saja,” katanya.

Oleh karenanya, Rasyid mendesak pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten untuk meningkatkan sinergi dalam bentuk kerja sama tim dan pendanaan serta kebijakan yang mendorong percepatan produksi kopi di kabupaten tersebut.

“Perhatian pemerintah pusat provinsi dan kabupaten perlu ditingkatkan melalui alokasi dana APBN, serta APBD provinsi dan kabupaten. Komoditi yang harus dikembangkan adalah kopi varietas Arabica, yang merupakan kopi yang sangat diminiati di Amerika dan Eropa,” jelasnya.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, jelas Rasyid, juga harus mampu mengejar perluasan lahan kopi. Sebab Indonesia saat ini sedang mengalami penurunan produksi.

“Di tahun 2016 tercatat ada 1,28 juta hektar, sementara 2015 tercatat 1,23 juta hektar. artinya ada pengurangan ratusan ribu hektar. Pengurangan luas perkebunan kopi terus terjadi di tahun 2017 dan 2018 akibat program peremajaan perkebunan kopi rakyat di seluruh Indonesia,” ungkap Rasyid.

Bahkan saat ini Indonesia berada jauh di bawah Vietnam dalam memproduksi kopi untuk diekspor ke berbagai belahan dunia.

“Indonesia saat ini telah berada di posisi keempat dari 5 negara penghasil kopi di dunia, atau sebesar 7,1 persen. Di atas Indonesia, khususnya di Asia adalah Vietnam sebesar 20 persen dan ini sangat timpang sekali. Artinya Indonesia telah jauh kalah, dan devisa negara semakin turun secara drastis,” papar Rasyid.

“Sementara kebutuhan kopi Arabica dari Indonesia oleh luar negeri sangat vital dan merupakan salah satu komoditi transaksi perdagangan internasional dalam menaikkan devisa negara,” imbuhnya.

Ke depannya, Rasyid berharap Pemerintah Provinsi Sumut dapat membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) . BUMD tersebut, selain mampu memperbesar produksi kopi dari Sumatera Utara, juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani kopi setempat.

“Pemerintah Provinsi Sumut harus mulai merencanakan pembentukan BUMD, bernama PT Perkebunan Kopi Sumut, bekerja sama dengan koperasi-koperasi petani terkait dengan kebutuhan lahan. Sehingga BUMD tidak perlu membeli lahan, hanya tinggal menjalankan fungsinya sebagai pengumpul, pengeolah, dan eksportir biji kopi Arabica. Koperasi-koperasi itu kemudian difasilitasi agar mendapat akses hak kelola hutan dari Kementerian lingkungan hidup dan kehutanan. Setelah mendapatkan hak kelola, anggap saja misalnya ada 10 koperasi x 1000 hektar hak kelola perhutanan sosial atau hutan kemasyarakatan (hkm), maka akan ada 10 ribu lahan yang bisa dipakai selama 32 tahun dan dapat diperpanjang untuk pengembangan kopi hutan,” tandasnya.

Penulis: Asmojoyo
Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook