Di Ujung Gading Berdiri Tugu Perjuangan Masyarakat Terkait Register 40

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Konflik tanah di Kawasan Register 40 juga diungkap kembali oleh Nasrul Rambe, 41, warga Dusun Aek Nabara, Desa Langkimat, Kec. Simangambat, Padang Lawas Utara. Meski tidak langsung menjadi korban, sebagaimana halnya masyarakat yang sempat membeli tanah tersebut dari tetua adat atau kepala desa, dia mengaku menyaksikan langsung konflik yang terjadi.

Loading...

“Sudah areal masyarakat kian-nya itu. Diserahkan Kepala Desa Simangambat Julu, Simangambat Jae, Aek Raru, Langkimat, Paran Padang. Tapi, dijual lagi dan digarap DL (Sitorus) kembali itu,” katanya, ketika ditemui di kediamannya, baru-baru ini.

Nasrul Rambe menyebut, bukti perlawanan masyarakat terhadap penyerobotan lahan oleh pihak DL Sitorus bisa dijumpai di Desa Ujung Gading, Kec Barumun Tengah, Padang Lawas Utara berupa tugu sebagai simbol perjuangan masyarakat. “Gambar pergolakan antara anggota DL dengan masyarakat Ujung Gading,” kata Nasrul.

Dia yang saat itu berprofesi sebagai tukang ojek mengaku tahu persis kejadian tersebut. “Masa  itu tukang RBT (rakyat banting tulang, sebutan ojek) kita, masak nggak tahu kita mana lahan masyarakat. Boleh dibilang lahan DL garapan semua itu. Semua yang kena usir itu korbannya,” papar dia.

Menurutnya, lahan tersebut awalnya dibeli sebagian masyarakat yang datang dari luar daerah dari para kepala desa. Tahun 1997, kata dia, sudah banyak yang berada di sekitar wilayah itu setelah membeli tanah.

“Waktu saya waktu RBT ada yang lahannya ditanami jagung, sawit, padi, karet. Menurut informasi, tanah itu dijual lagi sama hatobangon (tetua adat) dan kepala desa ke DL. Masyarakat terusir. Saat saya bawa penumpang, mereka yang cerita. Padahal sudah beli dengan menjual harta benda mereka. Yang punya lahan sering saya bawa, cerita tentang apa yang mereka alami, penggusuran dan pengusiran,” ungkapnya.

Sementara, Aspan Nasution, 50, saksi lainnya menyebut awalnya melihat masyarakat bercocok tanam sebelum tahun 1997. Dia yang berasal dari Labuhanbatu awalnya berharap bisa memiliki lahan di kawasan itu. Dia pun bekerja  sebagai operator gergaji berantai untuk mewujudkan cita-citanya.

“Sekitar tahun 1990-an dibuka KUD, dan saya sempat jadi tukang senso (operator gergaji mesin). Soal penggusuran lahan pengusaha besar seperti Cuncun, ladang Haji Marsono, tidak ada masalah. Mungkin karena yang besar-besar. Tapi sebagian ada yang nangis, orang kecil. Penggusuran terjadi sekitar tahun 1997 ke 2000. Saya tanya kenapa kepada korbannya, katanya lahannya sudah diambil. Katanya kalau ke Dusun Sopo Onggang masih sakit hatinya karena di situ lahannya yang diserobot,” beber sosok yang kini menjabat Kepala Dusun Aek Nabara di Desa Langkimat tersebut.

Sepengetahuan dia, ada ratusan korban dan sudah banyak yang pindah. Hanya di Dusun KUD Desa Langkimat ada korban yang bertahan tinggal hingga saat ini, yakni Masronah dan anak-anaknya. Kalaupun ada yang masih menetap, tertutup, tidak mau menceritakan itu,” ucapnya.(syukri amal

Loading...

Komentar Facebook