Guntur: Saya Bersyukur Masih Punya Surat

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Soal Register 40,   Guntur Siregar, 53, warga Dusun Sopo Onggang Baru, Desa Langkimat, Kec. Simangambat, Padang Lawas Utara punya cerita berbeda. Setelah membeli lahan dengan total 20 hektare di kawasan itu, dia tak langsung hijrah. Ketika itu, dia dan keluarga masih tetap tinggal di Rantau Prapat.

Loading...

“Waktu kejadian itu lahan yang belum ditanam (sawit) ada 14 hektare. Hanya enam hektare yang ditanam yang di sekitar rumah ini. Ada beberapa tempat, totalnya semua 20 hektare,” ujarnya yang ditemui di kediamannya.

Seperti Masronah, dia mengatakan tanah dibeli dengan membayar biaya pengurusan surat. “Harga tanahnya murah memang kami beli. Kami hanya dibebankan biaya mengurus surat yang ditandatangani kepala desa,” ucap pria yang kini merupakan tokoh masyarakat setempat itu.

Semenjak tanah itu mulai diusik, dia harus bolak-balik dari Rantau Prapat mengurusinya, sekitar 2002-2003 silam dengan harapan tanah itu tetap jadi haknya. Namun, dia tidak melakukan upaya hukum.

“Kemampuan masyarakat untuk mengadu tidak ada, jadi pasrah saja. Kalau tanah yang diambil banyak-banyak, tapi untuk membuktikannya sebagian sudah tak ada surat. Syukurnya, sama saya masih ada suratnya,” ungkapnya.

Karena tak menyerahkan surat yang diperoleh dari kepala desa, hingga saat ini Guntur masih bisa menguasai dan mengusahai enam hektare dari lahan seluas 20 hektare yang dibelinya. Di lahan 6 hektare itu pula dia kini bermukim dan membina keluarga.(syukri amal)

Loading...

Komentar Facebook