Kembali Jadi Isu Debat Kandidat Pilgubsu, Korban Register 40 Angkat Bicara

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Sesi terakhir debat kandidat Pilgubsu yang berlangsung di Hotel Santika Diyandra, Medan, Selasa (19/6) malam lalu, persoalan konversi (alihfungsi) lahan di kawasan hutan Register 40, Kecamatan Simangambat, Kabupaten Padang Lawas Utara, menjadi salah satu materi yang dipertanyakan terhadap Pasangan No Urut 2, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus.
Namun, fakta lain terungkap saat tim investigasi dipimpin Pokja Humas Sumut turun ke Kawasan Hutan Register 40 di Kec. Simangambat, Padang Lawas Utara. Penguasaan lahan yang dilakukan Koperasi Perkebunan Kelapa Sawit (KPKS) Bukit Harapan dan PT Torganda ternyata juga menyasar pada lahan yang sebelumnya sudah diusahai masyarakat.
Tak mudah mencapai lokasi yang hingga kini masih menjadi polemik hukum level nasional tersebut. Dari Kota Medan, perjalanan dengan kendaraan roda empat memakan waktu lebih kurang 12 jam. Namun, perjalanan panjang tersebut akhirnya berujung pada pertemuan dengan sejumlah korban.
Masronah salah satunya, wanita berusia 63 tahun yang merupakan salah satu saksi hidup atas rentetan peristiwa yang bermula lebih dari 20 tahun lalu itu. Dan, baginya, rentetan peristiwa itu merupakan pengalaman pahit yang tak mungkin terlupa seumur hidup.
Warga Dusun Parsadaan KUD, Desa Langkimat, Kecamatan Simangambat, Padang Lawas Utara tersebut bercerita bahwa dirinya beserta suami dan anak hijrah ke Kawasan Register 40 setelah membeli 20 hektare tanah dari tetua adat setempat. Modalnya adalah hasil penjualan harta warisan dari kakek dan orangtuanya. Waktu itu dia ingat sekitar tahun 1997.
“Dulu sistemnya tidak ada membayar tanah, hanya Rp80 ribu per hektare untuk membayar pengukuran batas tanah,” ujarnya memulai cerita di pekarangan rumahnya.
Angan-angan memiliki kebun sawit pupus sudah dari benak Masronah. Kini dia mengais rezeki dengan menjadi penderes upahan di perkebunan karet milik orang lain. Kendati cukup lelah usai bekerja, sementara pakaiannya juga masih menebarkan aroma khas getah karet, ibu tiga anak ini tampak tetap bersemangat menceritakan kejadian yang dia alami.
Perempuan berhijab mengurai, kejadian penggusuran lahan miliknya dimulai dengan kedatangan serombongan orang yang diketahuinya berasal dari Cikampak, Labuhan Batu Selatan (Labusel). “Entah bagaimana, datang orang Cikampak mendemo kami dan membakar rumah kami,” ucapnya.
Bersama suaminya yang kini telah meninggal, kejadian itu lantas dia ceritakan kepada tetua adat bernama Baginda Amas. “Akulah pimpinan kamu karena akulah orang Langkimat Simangambat, katanya (Baginda Amas). Sementara amanlah kami,” kenang Masronah.
Dia yang gembira lantaran kebun sekitar 10 hektare yang ditanami sawit mulai berbuah pasir, selanjutnya dikejutkan pula dengan kehadiran pihak yang mengaku dari Badan pertanahan Nasional (BPN). Oknum-oknum itu mengukur luas tanah miliknya.
“Ada datang pengukuran katanya dari BPN Katanya kalau sudah ditulis di BPN bisa minjam uang. Sampai sekarang di lahan itu masih ada bekasnya, ada tulisan BPN di sebuah batu,” ucapnya.
Tak lama setelah kedatangan oknum-oknum mengaku dari BPN itu, teror kembali dia alami. Sejumlah orang mengusir mereka dari kebun yang diusahainya dengan cara menebangi tanaman buah dan sayuran. “Pohon pepaya, sama yang lain-lain ditebang. Kecuali sawitnya, tidak mereka tebang. Karena lagi hamil tua dan takut suamiku ada apa-apa, kami pun pergi. Kami laporkan ke Baginda Amas kejadian itu. Dia kembali bilang yang menenangkan kami. Itu mereka salah batas kata Baginda Amas,” tuturnya.
Merasa berhak atas lahan tersebut, teror demi teror tak membuat keluarga Masronah surut. Termasuk ketika rumah mereka kembali dibakar. Mereka nekat tinggal di hutan yang tak jauh dari kebun tersebut, tanpa atam dan dinding selama tiga bulan.
“Syukurnya selama tiga bulan itu tak pernah turun hujan. Selama di hutan kami dibantu Baginda Amas untuk makan. Dan juga dibantu atap nipah, papan dan broti untuk buat rumah lagi di rumah yang dibakar itu,” kata wanita bersuara serak ini.
Tak lama setelah rumah kembali berdiri, teror pun datang lagi. Rumah tersebut dibakar oleh sejumlah orang berbaju merah dan ikat kepala merah. Orang-orang yang diduga suruhan perusahaan milik DL Sitorus itu datang mengatasnamakan sebuah yayasan. Sayang, Masronah lupa yayasan apa.
“Dibakar biar kampung ini kosong, biar pindah kami. Ladang diambil, kami juga diusir. Karena ada tujuh orang kami nggak mau pindah dari tanah yang kami beli dari tetua adat, ada korban dan pembakaran. Baru setelah selesai, polisi datang mengamankan. Dua truk datang untuk mengamankan kampung ini,” beber perempuan yang masih terlihat kuat di usia senjanya itu.
Kini, jauh setelah peristiwa itu berlalu, Masronah masih menganggap lahan itu adalah haknya. Anehnya, dia tak pula berharap kembali menguasai lahan yang dibelinya dari hasil menjual warisan tersebut.
“Rasa hatiku, itu ladangku sampai sekarang. Batinku bilang itu hakku walau bukan aku yang menikmati. Karena tanah itu kubeli dari warisan. Warisan itu dari nenekku ke ayahku, dari ayahku ke aku, aku kumpul dan jual untuk membelinya. Dua kali bayar (cicil) itu. Nggak pun di dunia ini, itu hakku, warisan itu kujual untuk membangun di sini,” ujarnya sembari mulai terisak.
Sebagai orang kecil, dirinya mengaku tak kuasa melawan. Dia menyerahkan sepenuhnya apa yang  sudah dia alami kepada Tuhan. “Kalau untuk ambil kembali, tidak sanggup. Mana bisa kulawan orang itu, Tuhan lah yang maha tahu. Bukti surat kusimpan sampai sekarang. Ada 23 orang kalau nggak salah hatobangon (pemuka adat) menandatangani tanahku itu, bukan aku merampasnya, tanah itu dari Tongku Sutan,” bebernya pula.
Namun yang dia sesali, surat tanah dari Baginda Amas itu sudah diserahkan ke orang lain. “Cuma bodohnya aku, surat dari mendiang Baginda Amas itu diminta. Katanya supaya tahu letak tanahnya di mana, aku kasih. Orang bodoh, dibodohi lah kami itu. Setia Wati, notarisnya yang minta. Aku sampai ke Bandung memperjuangkannya, tapi nol. Nggak ada,” ungkapnya.
Dia mengaku tidak dendam atas kejadian yang menimpanya. Namun, dia juga tidak yakin kalau anak DL Sitorus mau mengembalikannya. “Dendam tidak. Itu takdir. Udah begitu suratanku, angan-angan nggak kesampaian. Udah bermatian semua, Sitorus (DL) mati. Enggak mungkin anaknya (Sihar Sitorus) pun peduli. Hanya Tuhan-lah yang tahu,” pungkasnya.(syukri amal)
Loading...
Loading...

Komentar Facebook