Kisah Mantan Pembalak Berbalik Arah Lindungi Leuser

Edi Jaya Tersadar Banjir Bandang Bahorok

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID – Kepulan asap dari rokok kretek Edi Jaya memanjat ke langit, matanya menerawang berusaha menangkap ingatan tentang masa puluhan tahun lalu. Saat kami berbincang, ayah 3 anak dan 2 cucu ini baru saja selesai menikmati makan malam yang sederhana, di sebuah pondok restorasi milik Orangutan Information Centre (OIC) yang berada di Resort Cinta Raja, Kabupaten Langkat, persis di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Minggu (26/8).

Loading...

Tidak mudah mengajak pria 50 tahun ini berbincang tentang masa lalunya yang kelam, sepak terjang sebagai pembalak liar di hutan-hutan Leuser terkadang menjadi beban batin bagi Edi, penyesalan panjang yang meggelayuti usianya saat ini, untunglah Edi memahami betul kalimat hidup harus diteruskan, dengan sisa umur yang ada ia ingin meminta maaf dengan melindungi Leuser. Karena itu pula ia bersedia buka mulut dan mau membagi cerita.

Deru mesin pemotong dan dentuman pohon meranti rebah ke tanah telah menenami masa mudanya. Kala itu, Edi Jaya begitu gagah sebagai pembalak puluhan ton kayu setiap minggu dari dalam perut Leuser, khususnya bagian Kabupaten Langkat. Mulai dari Batu Katak, Sepanjang Sungai Bahorok, hingga Sungai Musam.

Setiap Meranti mengapung di sungai – sebagai jalur transportasi kayu – Edi meraup puluhan juta rupiah per minggunya. Namun pendapatan menebang kayu itu Kata Edi, berlalu secepat angin, hanya bertahan hitungan jam. “Tidak ada yang tersisa, semuanya habis untuk biaya ‘kelakuan’, sama sekali tidak berkah,” katanya lirih.

Awal 90-an hingga akhir tahun 2000 adalah masa-masa Edi Jaya berjaya di rimba, kala itu ia masih lajang, sepanjang orderan ada, Edi tak akan membuat kecewa. Pria yang berasal dari Bukit Lawang, Kabupaten Langkat ini tak kenal takut, apalagi menyerah dalam menggunduli hutan. Saat ditanya sudah berapa banyak kayu hutan yang ia keluarkan dari Leuser, Edi lama terdiam. “Saya menyesal, sangat menyesal,” Hanya itu yang keluar dari mulut Edi.

Titik balik hidup seorang Edi Jaya bermula saat banjir bandang memporak-porandakan kampung halamannya di Bukit Lawang pada tahun 2003 silam. Diantara 200-an korban petaka itu adalah sanak saudaranya, bahkan beberapa sepupu Edi yang terseret arus ikut meregang nyawa.

“Saya melihat bencana dahsyat itu, paling miris ada beberapa titik longsor tempat air bah lewat adalah bekas saya membalak kayu, itu yang membuat saya sulit memaafkan diri saya sendiri, korbannya adalah keluarga-keluarga saya di sana,” Kata Edi terpekur.

Pasca bencana itu, aktivitas Edi hanya berdiam diri di rumah, Ia berusaha memahami apa yang terjadi saat itu, namun karena pengetahuan yang terbatas Edi tak mampu menemukan jawaban antara bencana dan perbuatannya sebagai pembalak hutan Leuser.

“Saya menyesali saja, tapi belum begitu paham hubungannya, tapi saya merasa itu adalah hasil dari perbuatan menghancurkan hutan,” ujarnya.

Beberapa tahun kemudian, salah seorang tim patroli hutan OIC mendatangi Edi, kemudian menjelaskan kepadanya hubungan bencana dan kerusakan akibat ulah manusia di hutan, terutama dampak penebangan kayu yang sporadis selama puluhan tahun. Secara perlahan Edi belajar dan kemudian memutuskan bergabung bersama tim Patroli Hutan BBTNGL-OIC. Hingga kini, Edi berniat mewakafkan sisa usianya untuk melindungi Leuser.

“Selama umur saya masih ada, dan tenaga saya masih kuat, saya akan tetap menjadi tim patroli hutan bersama OIC dan BBTNGL, menjaga Leuser agar tak menjadi bencana bagi manusia, satu dua orang yang merusak, namun dampaknya untuk semua orang, saya pernah melakukan itu, kini sekuat tenaga saya akan melindungi hutan Leuser ini,” kata Edi.

Edi menuturkan, sejak berhenti menjadi pembalak liar, kehidupannya jauh lebih tenang, bahkan banyak jalan rezeki yang tidak ia sangka-sangka menghampiri. “kalau dihitung antara pendapatan dahulu saat jadi pembalak tentu tidak sebanding, namun saya merasakan banyak keberkahan hidup saya saat ini, Alhamdulillah saya kini memiliki rumah dan sedikit ladang untuk hidup sehari-hari, saya tidak menggantungkan pekerjaan saya sebagai tim patroli, tim patroli ini adalah balas budi saya, dari ladang saat ini sudah sangat cukup untuk kami sekeluarga,” jelasnya.

Dalam satu bulan, Edi bersama tim patroli BBTNGL-OIC akan berada di hutan selama sepuluh hari, tugas tim ini adalah melindungi kawasan Leuser dari ancaman perburuan dan pembalakan liar. Menurut Edi saat ini kondisi Leuser jauh lebih baik dari sepuluh tahun lalu. Temuan yang kerap dijumpai tim di lapangan kata Edi lebih cenderung pada perburuan satwa dilindungi, hal ini dibuktikan seringnya tim menemukan jerat satwa yang langsung dimusnahkan.

“Sekarang banyak perubahan, intensitas patroli cukup mempengaruhi, kalau pembalakan liar saya yakini di daerah-daerah saya membalak dahulu telah berkurang lebih dari 90 persen, teman-teman saya sesama pembalak juga sudah berhenti. saat ini kasus yang sering kami temuai adalah jerat satwa liar.” Ujarnya.

Edi berharap Leuser bisa bebas dari pengrusakan, harapan ini menurut Edi sangat mungkin apabila semua pihak dapat bekerjasama melindungi Leuser, terutama dari masyarakat yang hidup di sekitarnya. “Kita sebagai masyarakat yang yang akan merasakan dampak kerusakan itu, itu saja sederhananya, terutama bencana, semoga apa yang telah terjadi tidak terulang lagi,” Tutupnya.

Bim Harahap

Loading...

Komentar Facebook