IMM Sumut: Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini Memicu Kegaduhan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika (USD) akan membuat perekonomian mikro semakin tercekik dan memicu berbagai kegaduhan di tengah masyarakat.

Loading...

Hal itu disampaikan Ketua DPD IMM Sumut Herman Birje Nasution kepada awak media, Rabu (12/9).

“Apalagi industri-industri yang masih mamakai bahan mentah dari impor. Semisal kacang kedelai, bawang merah, daging dan lain sebagainya. Selain itu, barang-barang elektronik yg masih mengandalkan impor, barang-barang otomotif seperti sepeda motor dan mobil,” katanya.

“Dengan demikian, Industri UKM maupun perusahaan yg notabenenya masih mengandalkan barang impor terpaksa menggurangi biaya produksi seperti PHK karyawan dan menaikkan harga,” sambung Herman Birje.

Menurut Herman Bierje, jika masalah mata uang Rupiah tersebut tidak bisa ditangani dengan baik, akan berpotensi memicu unjuk rasa yang massif dan besar.

“Sebagaimana hasil diskusi DPD IMM Sumut maka pemerintah pusat harus secepatnya menangani laju nilai tukar Rupiah. Terkhusus kepada Presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan supaya fokus mengurus rakyat jangan sibuk melakukan lobi-lobi politik,” tegasnya.

Selain itu, Herman Birje menegaskan bahwa pemerintah pusat juga harus mampu menjadi penyejuk di saat kondisi politik nasional sedang memanas, isu SARA yang semakin massif, dan budaya persekusi yang sudah tidak terbendung lagi.

“Pemerintah Pusat jangan terbiasa mengeluarkan statemen yang memperkeruh suasana seperti beberapa statemen mentri dalam menangani masalah dikementriannya masing-masing. Beberapa isu TKA (Tenaga Kerja Asing) yang sudah menjadi isu daerah maupun nasional segera diambil tindakan konkrit. Karena hal ini memicu kegaduhan ditengah-tengah masyarakat. Apalagi terdengar kabar bahwasanya ada dugaan perbedaan gaji antara karyawan pribumi dan TKA masih dalam satu jabatan,” tandasnya.

Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook