Dzikir Politik: Medsos Dan Fenomena Post-Truth

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Meja Inspirasi bersama D’jong Cafe kembali menggelar Dzikir Politik dengan tema “Medsos dan Fenomena Post-Truth”, Kamis (21/9) malam di D’jong Cafe, Jalan Williem Iskandar, Percut Sei Tuan, Deliserdang.

Loading...

Dalam Dzikir Politik kali ini, Meja Inspirasi dan D’jong Cafe menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Calon Anggota DPD RI Dadang Darmawan, Calon Legislatif Kabupaten Langkat Darmasyah, dan pengamat politik Poltak Oloan Harahap.

“Alhamdulillah kita kembali menggelar Dzikir Politik untuk kedua kalinya. Insya Allah Meja Inspirasi bersama D’jong Cafe akan mempertahankan Dzikir Politik ini sebagai agenda rutin kita,” kata Pendiri Meja Inspirasi Ahmat Faury.

Ahmat Faury yang juga dikenal sebagai tokoh difabel Sumut itu berharap, Dzikir Politik dapat memberikan pencerahan bagi mahasiswa dan pemuda dalam menghadapi berbagai dinamika yang ada saat ini.

“Selain itu, forum ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mendapatkan inspirasi ataupun ingin memberikan inspirasi,” jelasnya.

Sementara Owner D’jong Cafe Agustin Sastrawan Harahap dalam kata sambutannya mengatakan bahwa D’jong Cafe akan terus berkomitmen menjadi tempat “tongkrongan” cerdasa bagi mahasiswa dan kamu muda.

“Oleh karena itu, slogan kita jelas dan tegas, yaitu nongkrong cerdas. Sebab sejatinya seluruh aktivitas mahasiswa dan pemuda harus cerdas dan mencerdaskan,” ujarnya.

Dzikir Politik sesi kedua ini kemudian dimulai dengan pemaparan oleh Dadang Darmawan. Dadang menjelaskan bahwa baik disadari ataupun tidak, saat ini kita sedang berada di pusaran arus besar gelombang “post-truth” alias kebohongan dunia yang sudah tak terelakkan.

“Semua orang ‘punya media’ pribadi, atau medsos, yang setiap saat digunakan sebagai alat propaganda mulai dari upaya ‘mensucikan diri’ dengan ‘mengelabui orang lain’, hingga sebagai alat ‘pembunuh’ bagi pesaing. Setiap orang kini bisa mencitrakan dirinya sesuai dengan keinginannya, membuat cerita-cerita bohong, menghapus ‘jejak’ kejahatannya meski setiap hari ia berbuat jahat, dengan memanfaatkan media yang ada dalam genggamannya,” paparnya.

Perkembangan medsos dan fenomena post-truth itu, jelas Dadang, juga mengakibatkan merebaknya hoax atau informasi tidak benar.

“Mereka yang selamat dari hoax, pastilah mereka yang bijak. Orang bijak pasti tidak akan menerima dan menelan berita-berita hoax mentah-mentah. Orang bijak pasti selalu menerima informasi dengan hati-hati, memverifikasinya, menelusuri kebenarannya, dan menempatkannya pada ‘tempat yang tepat’. Para orang bijak sudah terbiasa menempatkan posisinya pada ‘tempat yang tinggi’, suatu tempat yang tak lagi dipengaruhi oleh nafsu-nafsu duniawi yang rendahan,” jelas Dadang.

Senada dengan Dadang, Darmasyah dalam pemaparannya juga sepakat bahwa medsos dan fenomena post-trut membentuk masyarakat yang mudah terpengaruh dengan hoax.

“Medsos sebenarnya sangat efektif untuk mensosialisasikan sesuatu. Bagi saya pribadi misalnya, mensosialisasikan pencalegan banyak menggunakan medsos Facebook. Tapi kita harus berhati-hati, jika tidak jeli kita malah bisa terjerumus oleh berita hoax,” katanya.

Sementara Poltak dalam kesempatannya mengatakan bahwa perkembangan medsos memberi pengaruh besar atas lahirnya fenomena post-truth.

“Post-truth mengakibatkan fakta objektif jadi kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik bila dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi atau hal yang subjektif,” ujarnya.

Bahkan menurut Poltak, post-truth juga mengakibatkan media main-stream atau profesional tidak terlepas dari ancaman hoax.

“Fenomena ini disebut juga sebagai pergeseran sosial spesifik yang melibatkan media arus utama dan para pembuat opini. Banyak masyarakat yang berpendapat bahwa media main­stream tidak lagi menjadi salah satu sumber kebenaran. Sebab semakin tipis pembatas antara kebenaran dan kebohongan,” tandasnya.

Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook