Dzikir Politik: Daulat Aksi VS Daulat Persekusi, Quovadis Demokrasi Kita?

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Beberapa waktu ini, gelombang demontrasi terjadi di berbagai wilayah, baik demonstrasi mengevaluasi maupun mengapresiasi kinerja pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Begitu juga dengan aksi persekusi, kerap terjadi di sejumlah wilayah.

Loading...

Hal itu menjadi dasar bagi Meja Inspirasi dan D’jong Cafe dalam menentukan tema Dzikir Politik edisi ketiga. Tema tersebut adalah “Daulat Aksi VS Daulat Persekusi, Quovadis Demokrasi Kita?”, di D’jong Cafe Jalan Williem Iskandar, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deliserdang, Rabu (26/9) malam.

Dzikir Politik yang dibuka langsung oleh Founder Meja Inspirasi Ahmat Faury dan Owner D’jong Cafe Agustin Sastrawan Harahap itu, menghadirkan politisi Partai Demokrat Muhri Fauzi Hafiz, politisi PPP Joko Susanto, dan pengamat politik Faisal Riza sebagai pembicara.

Mengawali pembahasan, Muhri Fauzi mengatakan bahwa aksi dan persekusi yang belakang ini sering terjadi menjadikan “cuaca” demokrasi di Indonesia sedang tidak menentu.

“Saya pikir hari ini ‘cuaca’ demokrasi kita sedang tidak menentu. Untuk menghadapinya, kita harus memiliki daya tahan tubuh kuat, stamina prima, pengetahuan dan informasi yang sebanyak-banyaknya,” katanya.

Agar “cuaca” demokrasi dapat membaik, Muhri Fauzi mengajak seluruh pihak untuk berpikir dan bergerak dengan baik sesuai dengan perannya masing-masing.

“Kita tetap harus resah, karena seharusnya semakin panjang usia negara ini semakin banyak orang baik yang lahir dari rahim demokrasi kita ini, semakin terbuka menerima orang baik,” ujarnya.

Selanjutnya, Joko Susanto dalam pemaparannya mengatakan, demokrasi dapat semakin baik jika nilai-nilai politik terinternalisasi ke dalam diri setiap politisi.

“Politik seharusnya terinternalisasi di dalam diri. Karena ketika politik tidak terintegrasi di dalam diri, perilaku dan ucapan menjadi tidak tepat. Itu mempengaruhi demokrasi indonesia,” jelasnya.

Sementara Faisal Riza berpendapat, buruknya praktik berdemokrasi di Indonesia disebabkan ketiadaan gagasan. Baik politisi maupun masyarakat, hanya mampu menawarkan hal-hal yang bersifat transaksional.

“Tidak ada gagasan dalam pembicaraan politik kita. Begitu juga ketika datang ke masyarakat, politisi kita tidak bisa menawarkan gagasan. Karena memang masyarakat kita juga sudah sangat transaksional, uang dan simbol-simbol,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Faisal Riza mengajak seluruh pihak untuk mulai menyusun konsep dan membentuk gagasan kuat tentang pembangunan.

“Saya menawarkan satu langkah, yaitu menyusun konsep penting bagi wilayah dan negara kita. Tawarkan gagasan, misalnya skema pembangunan daerah,” tandas Faisal Riza yang juga merupakan Direktur Patron Institute itu.

Editor: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook