Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur Hanya Dihukum Dua Tahun Penjara

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan yang diketuai Somadi hanya menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun kepada M Hanafi (23), pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur berinisial CA (13).

Loading...

“Menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 2 tahun,” ujar ketua majelis hakim, Somadi, di Ruang Cakra IV PN Medan, Selasa (2/10) sore.

Majelis hakim berpendapat, terdakwa Hanafi terbukti melanggar Pasal 81 ayat (1) jo Pasal 76 D UU No 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Kendati tetap memvonis berdasarkan pasal tersebut, namun vonis terhadap terdakwa sangat ringan. Apa lagi sesuai KUHP, pidana penjara paling ringan diberikan yakni selama lima tahun dan maksimal 15 tahun kurungan.

“Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah),” demikian bunyi pasal tersebut.

Menanggapi putusan itu, terdakwa maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU) Esther Hutauruk menyatakan pikir-pikir. Anehnya lagi, putusan itu lebih rendah dari tuntutan JPU, namun JPU juga hanya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama tiga tahun.

Untuk diketahui, dalam dakwaan JPU, pada Sabtu tanggal 9 April 2016 sekira jam 20.00 WIB, terdakwa Hanafi mengajak korban, CA melalui pesan singkat (SMS) untuk menjumpainya di kebun ubi tepatnya belakang rumah terdakwa, Jalan Datuk Rubiah Lk 28 Kelurahan Rengas Pulau Kecamatan Medan Marelan.

Disitu, terdakwa langsung membuka celana korban dan merayu korban dengan menanyakan apakah sudah pernah melakukan persetubuhan. Korban sempat berontak. “Kenapa om ini kok kayak gini, udah gila om ini,” jawab korban. “Udah diam aja, gak apa-apa,” kata terdakwa.

Korban kembali menolak saat terdakwa mencoba menyetubuhinya. Namun,  pelaku akhirnya melampiaskan birahinya kepada korban. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, terdakwa mengajak dan mengantar korban untuk pulang dan melarang untuk memberitahukan peristiwa bejat itu kepada orang lain. Atas kejadian itu, korban merasakan perih di area selangkangannya.

Akibat perbuatan terdakwa, masa depan korban rusak sesuai dengan visum et repertum No.80/OBG/2016 tanggal 13 April 2016 diperiksa dan ditandatangani dr Sanusi Piliang selaku dokter di RSUD Pringadi Medan.(Syukri Amal)

Loading...

Komentar Facebook