Irham Buana Nasution, Memperjuangkan Kesuksesan Dari Titik Terendah

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Nama Irham Buana Nasution dikenal luas sebagai praktisi hukum dan politisi berkarir gemilang. Namanya melambung sejak menjadi pimpinan tertinggi di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, di saat gejolak reformasi sedang berlangsung di berbagai daerah.

Loading...

Saat itu , Irham hadir di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara untuk mendampingi masyarakat dalam menghadapi berbagai masalah. Demonstrasi bersama berbagai kelompok masyarakat pun dijalaninya sebagai pengabdian mewujudkan tatanan sosial yang baik di Sumatera Utara.

“Saat itu kita tidak terbiasa berpikir praktis, kita selalu berpikir tentang bagaimana caranya untuk menjalankan strategi yang mampu menuntaskan masalah yang sedang dihadapi. Setelah berkarir cukup lama di LBH, akhirnya saya dipercaya menjadi Direktur LBH Medan,” katanya saat diwawancarai Publika.

Aktivitas sebagai tokoh pergerakan memberikan banyak pelajaran bagi Irham. Dari aktivitas itu, kemampuannya dalam mencari solusi dan strategi untuk menuntaskan persoalan masyarakat yang didampingi kian terasah.

“Aktivitas keorganisasian dan pergerakan itu memberikan kami kemampuan untuk melihat bahwa masalah di masyarakat sesungguhnya terjadi bukan dengan begitu saja. Melainkan terjadi secara struktural,” ungkapnya.

Perjalanan karir sebagai aktivis tidak hanya memberi manfaat untuk dirinya, Irham juga memberi manfaat bagi banyak orang. Selain demonstrasi, Irham juga menebar manfaat melalui melalui forum-forum diskusi bertema demokrasi.

“Sebelum lahir UU Pemilu tahun 2003, banyak lembaga yang mengundang kita untuk menjadi pembicara dalam dialog tentang demokrasi,”

Kesuksesan dalam mengadvokasi berbagai kelompok masyarakat sipil saat menakhodai LBH Medan akhirnya membuat banyak pihak mendorongnya untuk menduduki jabatan komisioner Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumatera Utara.

“Saat UU Pemilu itu lahir, dibentuk KPU Daerah. Dari diskusi-diskusi, saya didorong untuk mewakili kelompok aktivis masuk ke dalam sistem itu. Banyak aktivis dan akademisi yang mendaftar saat itu, sekitar 400 orang,” ujarnya.

Irham bagaikan terlahir untuk menyusun dasar demokrasi pasca reformasi di Sumatera Utara. Meski merupakan komisioner termuda di seluruh Indonesia pada saat itu, tepatnya di usia 30 tahun, Irham dipercaya menjabat Ketua KPUD Sumut pertama.

Sebagaimana yang umum diketahui, dinamika politik saat itu sangat kuat, Irham mendapat tantangan besar dari alam demokrasi yang baru terlahir kembali. Ia pun mampu member bukti bahwa dirinya memang terlahir untuk tugas itu, Penyelenggaraan pemilu di Sumatera Utara berjalan dengan sangat baik, aman, dan tertib.

Di balik kesuksesannya tersebut, tak banyak yang mengetahui bahwa Irham tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat sederhana. Berbagai keterbatasan ia hadapi sejak mulai mengeyam pendidikan formal.

“Saya lahir dari keluarga miskin, tinggal di tempat yang terpinggir di Kedai Durian, Delitua (Kabupaten Deliserdang).  Kami hidup dengan penuh keterbatasan. Emak (ibu) saya adalah guru mengaji di madrasah. Ayah saya awalnya karyawan swasta, namun karena sakit, berhenti bekerja dan banyak mencoba buka usaha kecil-kecilan di rumah,” ungkap Irham yang memiliki catatan sangat baik dalam aktivitas kepartaian di Partai Golkar.

Tak seberuntung anak-anak lainnya, Irham dan saudara-saudaranya harus pergi sekolah dengan berjalan kaki sejauh 3 kilometer. Beruntung jika bisa sarapan sebelum menempuh perjalan jauh itu, tapi kenyataannya Irham hampir tidak pernah merasakan sarapan.

“Saat SD sampai SMP setiap hari kami berjalan kaki ke sekolah, melewati rel kereta api. Pulang dan pergi berjalan  6 kilometer. Karena beras kami sangat terbatas, kami pun hampir tidak pernah sarapan selama SD sampai SMP itu,” ungkap Irham.

Perjalanan hidup Irham yang penuh dengan perjuangan terus berlanjut hingga ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Memang pada dasarnya Irham merupakan seseorang yang memiliki motivasi besar untuk maju, berbagai keterbatasan itu diubahnya menjadi pelajaran berharga dan semangat tanpa batas.

“Saya tidak berjuang dari titik nadir. Tapi lebih rendah lagi, berjuang dari titik negative. Keterbatasan bukan halangan untuk maju,” tuturnya.

*Bersambung

Penulis: Asmojoyo

Loading...

Komentar Facebook