PT Medan Tetap Hukum Meliana, Terpidana Penodaan Agama Penjara 18 Bulan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

PUBLIKA.CO.ID- Majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Medan yang diketahui Dailun Sailan, menolak permohonan banding terdakwa penodaan agama, Meliana (44) terpidana penodaan agama yang memprotes suara azan di Tanjung Balai ini tetap dihukum 1 tahun 6 bulan atau 18 bulan penjara.

Loading...

“Tadi saudara-saudara sudah mendengar apa yang menjadi putusan majelis hakim. Putusan yang telah diucapkan tadi adalah majelis hakim tingkat banding sependapat dengan apa yang telah diputuskan oleh majelis hakim tingkat pertama,” kata Humas PT Medan, Adi Sutrisno, Kamis (25/10).

Majelis hakim PT Medan yang terdiri dari Daliun Sailan (ketua), Prasetyo Ibnu Asmara dan Ahmad Adrianda Patria (anggota) sependapat dengan pertimbangan-pertimbangan hukum yang digunakan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan pafa amar putusan sebelumnya. Menurut majelis, putusan pengadilan tingkat pertama sudah sesuai dengan fakta hukum di persidangan, dan sesuai dengan rasa keadilan terdakwa dan masyarakat.

“Jadi intinya adalah majelis hakim menguatkan putusan pengadilan tingkat pertama yaitu Pengadilan Negeri Medan,” jelas Adi. “Yakni (terdakwa Meiliana) dinyatakan bersalah melakukan penodaan agama, kemudian dipidana dengan pidana 1,5 tahun atau 1 tahun 6 bulan penjara,” sambung Adi.

Sementara penasihat hukum Meliana, Josua Rumahorbo menyatakan, pihaknya masih harus berkoordinasi dengan Meliana untuk memutuskan menempuh upaya kasasi atau tidak. “Jadi kita untuk melakukan upaya hukum, kita koordinasi dulu  dengan Meliana,” ucapnya.

Sebelumnya, di pengadilan tingkat pertama, majelis hakim PN Medan yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo menyatakan, Meliana telah  melakukan tindak pidana yang diatur dan diancam dengan Pasal 156A KUHPidana. Meiliana dijatuhi hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan.

Meliana telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.

Perkara Meliana ini dibawa ke pengadilan menyusul kerusuhan SARA di Tanjung Balai sekitar 2 tahun lalu. Meliana didakwa telah melakukan penodaan agama yang memicu kejadian itu.

Berdasarkan dakwaan, perkara tersebut berawal saat Meliana mendatangi tetangganya di Jalan Karya Lingkungan I, Kelurahan Tanjung Balai Kota I, Tanjung Balai Selatan, Tanjung Balai, Jumat (22/7/2016) pagi. Dia berkata kepada tetangganya, “Kak tolong bilang sama uwak itu, kecilkan suara mesjid itu kak, sakit kupingku, ribut,” ujarnya sambil menggerakkan tangan kanannya ke kuping kanan.

Permintaan Meliana disampaikan ke BKM Al Makhsum. Jumat (29/72016) sekitar 19.00 Wib, pengurus masjid mendatangi kediamannya dan mempertanyakan permintaan perempuan itu. “Ya lah, kecilkanlah suara mesjid itu ya, bising telinga saya, pekak mendengar itu,” jawab Meliana.(Syukri Amal)

Loading...

Komentar Facebook